Senin, 03 Oktober 2011

Suatu studi kritis akan akhir zaman yang terambil dari Daniel 12:1-13

AKHIR ZAMAN
Daniel 12:1-13

I. Pendahuluan
Kitab Daniel merupakan kitab yang mempunyai unsur-unsur apokaliptik yang di mana hal yang bersifat apokaliptik. Dalam Alkitab juga ada selain Kitab Daniel itu sendiri, yaitu Wahyu Yohanes yang terdapat di dalam Perjanjian Baru. Yang di mana dalam kitab-kitab yang berisfat apokaliptik ini berisi tentang beberapa ajaran wahyu, yang sering dicampuradukan dengan ungkapan-ungkapan lain, seperti peringatan-peringatan para nabi yang menubuatkan atau yang melihat masa depan, dengan pengalaman-pengalamannya dan malah dengan seluruh kehidupannya, seperti yang dijumpai dalam kitab Daniel serta Wahyu dalam Perjanjian Baru. Tetapi pada kesempatan kali ini paper ini hanya akan membahas Kitab Daniel dan khususnya Daniel 12:1-13.
II. Pembahasan
II.I. Latar belakang Kitab Daniel
Kitab Daniel mempunyai suatu karektirisasi sebagai “kitab apokaliptik” sebagaimana yang juga sama halnya dengan kitab apokalpitik dalam PB yaitu Wahyu Yohanes. Sebagai ungkapan atau ekspresi untuk jenis-jenis pekerjaan literaris, kata apokaliptik tidak dimaksudkan setiap kitab yang mengandung wahyu, melainkan kata itu menyatakan bahwa sejak abad yang lalu telah dapat dibuktikan bahwa banyak tulisan-tulisan dari tahun 200 s.M sampai 200 SM telah dijumpai yang menurut bentuk dan cara berpikirnya, ada kebersamaannya.[1] Kitab Daniel juga di dalamnya terdapat sedemikian rupa bentuk cerita mengenai Daniel sendiri beserta teman-temannya hal itu terdapat dalam pasal 1-6. menurut ceritera-ceritera itu mereka hidup sebagai orang Yahudi di negeri asing, negeri itu dan ibu kotanya dianggap oleh orang Yahudi sebagai pusat dan lambang dari agama dan kebudayaan kafir, ceritera-ceritera itu mengisahkan kesetian Daniel dan teman-temannya kepada Tuhan dan agama mereka di tengah-tengah segala godaan dan ancaman.[2] Pertumbuhan kebudayaan Yunani yang luar biasa di mulai pada zaman pemerintahan Alexander Agung (336-323 seb M) yang berusaha mempersatukan peradaban barat dan timur. Kitab Daniel bertujuan membangkitkan semangat orang-orang yang bimbang pada masa pemerintahan Antiokhus ke-IV (hellenisme) Yunani dari kerajaan Seleuka.[3]        


II.II. Penulisan Kitab Daniel
Dalam hal akan penulisan kitab Daniel terdapatlah dua pandangan atau argumen yang berbeda mengenai penulisan kitab Daniel baik itu penulisnya kitab itu sendiri yang terdapat perbedaan maupun tahun penulisan akan kitab itu sendiri.
Pandangan ke-1[4]: Bahwa kitab Daniel merupakan kitab yang di mana ditulis oleh Daniel sendiri. Josephus beranggapan bahwa pengarang kitab Daniel adalah Daniel sendiri, hal ini disebabkan Daniel sendiri yang bernubuat tentang pristiwa-pristiwa yang akan terjadi, serta menetapkan juga waktu terjadinya. Dan hal ini juga mendapatkan dukungan pendapat yang sama dari Hippolytus, Theodoret dan Jerome. Dan argumen-argumen yang masih mengemuka saat ini dalam kepenulisan kitab Daniel di mana Daniel sendiri yang menulisnya, yaitu:
§ Dalam Alkitab bahasa Ibrani, kitab Daniel digolongkan ke dalam kitab-kitab yang disebut tulisan (ketubim) dan tidak digolongkan ke dalam kitab-kitab para nabi karena kedudukan Daniel dalam masyarakat. Kedudukannya bukan sebagai nabi “resmi” seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan lainnya yang dipanggil Tuhan khususnya untuk fungsi atau jabatan kenabian, yaitu untuk menyampaikan Firman Tuhan kepada bangsa Israel. Tetapi Daniel hanyalah mempunyai karunia seorang nabi di mana ia diberikan Tuhan hikmat untuk mengerti makna mimpi dan penglihatan yang Tuhan berikan kepada raja dan kepada Daniel sendiri. Tetapi jabatannya dalam masyarakat dan tugas yang dilakukannya setiap hari adalah sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahan bangsa asing dan bukan sebagai nabi bagi orang-orang Yahudi.
§ Karangan-karangan lain dari abad ke-2 SM, misalnya kitab-kitab Makabe, Barukh, Sibylline Oracles menyingung mengenai Daniel dan isi kitabnya.
§ Dari gulungan-gulungan laut mati jelas bahwa kitab Daniel bahkan sangat populer pada abad ke-2SM.
Pandangan ke-2:[5] Bahwa kitab Daniel ditulis oleh seseorang yang tidak diketahui jatidirinya dengan menggunakan nama tokoh Daniel.
§ Pada abad ke 3 SM seorang yang bernama Prophyry (232 SM-305 SM) seorang Neoplatonis mengatakan bahwa seseorang tidak mungkin mengetahui hal-hal di masa mendatang. Sebab itu ia mengatakan bahwa bagian-bagian kitab Daniel yang dikatakan nubuat sebenarnya bukan nubuat mengenai masa mendatang melainkan catatan yang ditulis pada zaman Antiokhus Epifanes (175-163) oleh seorang pengarang yang tidak diketuhi namanya.
§ Kitab Daniel dianggap sebuah kitab pseudepigraphika, yaitu yang ditulis oleh pengarang yang tidak diketui namanya, yang menulis seakan-akan ia sendiri adalah Daniel, padahal tidak. Kitab ini ditulis pada zaman makabe, setelah terjadi pristiwa-pristiwa yang ditunjukan dalam pasal 11. Dan sampai sekarang para ahli sarjana PL dominan berpendapat seperti itu.
§ Sesudah zaman pembuangan di Babel, di kalangan bangsa Yahudi tersebar beberapa cerita tentang Daniel dan teman-temannya. Cerita-cerita itu secara lisan disampaikan oleh orang-orang tua kepada anak-anak. Pada suatu waktu sebagaian dari padanya dikumpulkan dan dijadikan karangan, akhirnya terbitan yang pertama itu disadur dan ditambahi bagian-bagian baru (terutama isi bagian kedua) lalu diterbitkan menjadi kitab Daniel sebagaimana terdapat dalam Alkitab sekarang.
Waktu Penulisan
Setelah melihat dan mengkaji siapa penulis kitab Daniel, sekarang mari melihat tentang 2 argumen juga tentang waktu penulisan yang berbeda dalam tahun penulisan kitab Daniel:
Abad ke 6:[6]
§ Pemakaian tahun yang berbeda tapi sebetulnya sama antara Daniel dan Yeremia untuk pristiwa yang sama di mana Nebukadnezar raja Babel mengalahkan Firaun Nekho, menyerang Yehuda mengepung Yerusalem, lalu membawa pemuda-pemuda yang baik ke Babel. Jadi Daniel menghitung tahun pemerintahannya menurut cara penghitungan tahun Babel sedangkan Yeremia menghitung tahun akan pristiwa yang sama terjadi dengan Daniel dengan memakai penghitungan tahun Yehuda.
§ Jika pengarang kitab Daniel hidup pada abad ke-2 seb. M, sangatlah tipis kemungkinan bahwa ia akan memakai cara Babel untuk menghitung tahun pemerintahan raja, sebab pada abad ke-2 seb. M, cara itu tidak dipakai lagi.
Sedangkan argument-argumen yang mengatakan bahwa kitab Daniel ditulis pada abad ke-2seb.M, adalah:[7]
§ Bahasa Ibrani yang dipakai, bahasa Aram (2:4b-7:28), dan kata-kata dari bahasa Persia dan Yunani yang terdapat di dalamnya, merupakan bukti bahwa kitab Daniel ditulis abad ke-2 seb.M.
§ Para sarjana ahli Perjanjian Lama berpandangan bahwa nama Daniel tidak tercantum dalam daftar itu sebab pada waktu itu ia belum dikenal, yakni kitab Daniel belum ditulis. Hal itu sesuai dengan tahun -+165 (zaman Makabe) untuk tahun penulisannya.
§ Pandangan saya tentang siapa yang menulis kitab Daniel adalah saya sependapat dengan pendapat para ahli yang menentang bahwa kitab Daniel ditulis oleh Daniel sendiri dengan kata lain kitab Daniel ditulis oleh penulis yang tidak diketahui identitasnya tetapi memakai nama seorang tokoh Daniel agar tulisannya didengarkan oleh masyarakat Israel. Dan juga tidak mungkin kalau ratusan tahun sebelum sesuatu terjadi seseorang dapat menubuatkan dengan sedemikian rupa sampai yang dinubuatkannya sangat terperinci dan tepat seperti yang terjadi pada kejadian-kejadian masa pemerintahan Antiokhus Epifanes ke-IV. (175-163 seb. Masehi).
II.III. Studi Kitab Daniel[8]
Dalam studi kitab ini terdapat 2 bagian
§ Isi bagian pertama Daniel 1-6, yang disusun dalam bentuk kisah Daniel beserta teman-temanya. Yang terdiri dari 6 pasal.
Ps. 1.         Pendidikan Daniel dan teman-temannya di Istana Nebukadnezar, raja negeri Babel.
Ps. 2.         Mimpi raja itu tentang sebuah patung, yang dihancurkan oleh batu yang turun terguling dari gunung.
Ps. 3.         Ketiga teman Daniel yang dileparkan ke dalam dapur pembakaran, karena mereka menolak menyembah patung dewa Nebukadnezar.
Ps. 4.         Ceritera tentang kegilaan raja Nebukadnezar, setelah memimpikan suatu pohon besar yang rindang yang ditebang.
Ps. 5.         Keruntuhan Babel yang dimaklumkan oleh suatu tulisan yang pada suatu malam muncul di dinding ruang pesta Belsazar.
Ps. 6.         Oleh dengki teman-teman sejabatnya, Daniel terjerat melanggar perintah Darius, sehingga dilemparkan ke dalam gua kurungan singa.
§ Isi bagian kedua Daniel 7-12, yang disusun dalam bentuk penglihatan-penglihatan Daniel. Bagian kedua itu terdiri juga dari 6 pasal. tetapi pembagian atas pasal-pasal tersebut tidak terdapat dalam aslinya, melainkan baru dibuat di sekitar tahun 1200 SM . dan bagian kedua ini juga terbagi atas 4 bagian;
Ps. 7.                Penglihatan tentang empat bintang, yang timbul dari dalam lautan, kuasa mereka dihapuskan, lalu kekuasaan seseorang yang seperti anak manusia
Ps. 8.                 Perlawanan antara domba jantan dengan kambing jantan berakhir dengan
                         kemenangan bagi kmabing itu. Pada mulanya kambing itu mempunyai satu tanduk,
                         yang diganti empat tanduk baru, dari salah satu tanduk itu kemudian timbul suatu
                         tanduk yang mendasyatkan
Ps. 9.                 Nubuat Yeremia tentang lamanya pembuangan bangsa Yahudi (tujuh puluh  tahun),
                         ditafsirkan dengan penjelasan bahwa hukuman itu bukan 70x1 tahun tetapi 70x7
                         tahun akan ditimpakan pada bangsa itu
Ps. 10-12.          Kuasa-kuasa dunia timbul dan tenggelam, pada waktu peperangan antara raja  negeri Selatan dengan raja negeri Utara terjadilah penganiayaan berat terhadap jemaat Tuhan, tetapi berbahagialah yang tetap berpengharapan karena kesudahaannya.
II.IV. Terjemahaan
Daniel 12:3
H
~yBiêr:h'( ‘yqeyDIc.m;W [:yqI+r"h' rh;zOæK. WrhIßz>y: ~yliêKif.M;h;’w>
p `d[,(w" ~l'îA[l. ~ybiÞk'AKK;                        
Terj: Mereka orang-orang bijaksana yang telah mengajar akan bersinar seperti cakrawala, mereka yang telah banyak melakukan kebaikan akan seperti bintang-bintang tetap untuk selama-lamanya.
ITB                                     
“Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya”.
KJV                                                                                           
“And they that be wise shall shine as the brightness of the firmament; and they that turn many to righteousness as the stars for ever and ever”.
Pendapat: saya lebih menyetujui bahasa Ibrani dari pada ITB ataupun KJV. Hal ini dikarenakan saya berpikir bahwa orang-orang bijasana ialah mereka yang yang mengajar, dan dalam hal ini mereka mengajar kebaikan maka mereka inilah yang akan bersinar seperti cakrawala
Daniel 12:7
H                      
  ymeäymel. él[;M;mi rv<åa] ~yDIªB;h; vWbål. Ÿvyaiäh'-ta, [m;úv.a,w" 7
 ~l'_A[h' yxeäB. [b;ÞV'YIw: ~yIm;êV'h;-la, ‘Alamof.W AnÝymiy> ~r<Y"“w: èraoy>h;
 vd<qoß-~[;-dy: #Peîn: tAL±k;k.W ycixeªw" ~ydIø[]Am) d[e’Aml. •yKi
`hL,ae(-lk' hn"yl,îk.Ti  
Ter: lalu saya mendengar orang yang berpakaian kain lenan itu yang ada di atas air sungai itu mengangkat tangan kanan dan tangan kirinya ke langit bersumpah demi Dia yang hidup kekal karena satu masa, dua masa, setengah masa setelah  satu demi satu seluruh penghancur bangsa yang suci itu semuanya berakhir,  seluruh hal ini akan digenapi ”
ITB                                       
“Lalu kudengar orang yang berpakaian kain lenan, yang ada di sebelah atas air sungai itu bersumpah demi Dia yang hidup kekal, sambil mengangkat tangan kanan dan tangan kirinya ke langit: "Satu masa dan dua masa dan setengah masa; dan setelah berakhir kuasa perusak bangsa yang kudus itu, maka segala hal ini akan digenapi”!
KJV
12:7 And I heard the man clothed in linen, which was upon the waters of the river, when he held up his right hand and his left hand unto heaven, and sware by him that liveth for ever that it shall be for a time, times, and an half; and when he shall have accomplished to scatter the power of the holy people, all these things shall be finished.
II.V. Konteks Historis                 
ü  Konteks sosial: Dengan kemenangan bangsa Yunani atas negeri Persia yang otomatis membuat Yunani dapat memegang (merengkuh) kerajaan-kerajaan di Timur Tengah Kuno. Maka terdapat dampak yang dirasakan oleh masyarakat Timur Tengah Kuno tersebut termasuk yang dirasakan oelh bangsa Israel itu juga. Di mana mereka bangsa Yunani yang berkuasa pada saat itu memaksakan setiap daerah jajahannya termasuk Israel untuk memakai bahasa Yunani, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dan terutama di kantor-kantor pemerintahan swasta. Namun bukan hanya itu saja dampak sosial yang diteriman oleh bangsa Israel dari penjajahan bangsa Yunani, di mana mereka juga dipaksakan menerapkan cara berpikir dan gaya hidup Yunani secara bertahap yang diajarkan oleh bangsa Yunani tersebut terhadap semua daerah jajahannya, termasuk juga Israel yang notabene juga menjadi daeraha jajahan bangsa Yunani.
ü  Konteks Keagamaan: Dalam konteks keagamaan bangsa Israel pada saat itu yaitu pada saat bangsa Yunani menjajah mereka, terdapat sebuah percampuran dalam berbagai kehidupan yaitu agama. Di mana terdapat percampuran agama Israel dengan agama orang-orang Yunani.
ü  Konteks Politik: Kitab Daniel mempunyai juga latar belakang politik yaitu di mana, dipustkan pada dua tokoh dalam kitab Daniel itu sendiri yaitu yang pertama zaman pemerintahan Antiokhus ketiga dari Syria dan anaknya yang sekaligus penggantinya yang kedua, yaitu Antiokhus keempat. Antiokhus ketiga memerintah sekitar tahun 223-187 seb. Masehi. Para ahli peneliti Perjanjian Lama, khususnya kitab Daniel dan bagian-bagiannya yang beraneka ragam melihat bahwa ini dituliskan pada zaman helenistik terakhir. Zaman helenistik ini dimulai dengan penyerbuan raja Alexander dari Makedonia yang memerintah tahun 336-323 seb. Masehi. Dan merebut kerajaan Persia dan berhasil menerobos hingga perbatasan India. Dengan kemenangan ini maka kerajaan-kerajaan di Timur Tengah Kuno yang selama ini dikuasai oleh raja Persia sekarang menjadi jajahan raja Alexander untuk beberapa ratus tahun kemudian, mealalui turunannya. Dan pada tahun 219 seb. Masehi Antiokhus tiga mencoba menguasai Palestina dan Phinisia dengan mengalahkan raja Plotemous empat yang menjadi raja di Mesir, di daerah Panium yaitu di salah satu kota dekat dengan sungai Yordan. Sehingga dengan kemenangan Antiokhus ini maka negeri Israel menjadi bagian dari negeri Seleukid yaitu bagian negeri Syria. Dan pada tahun 175 seb. Masehi naik anaknya Antiokhus ketiga yaitu Antiokhus keemat yang menjadi raja di kerjaan Seleukid.
II.IX. Tafsiran
Ayat 1: Kalimat “Pada waktu itu”. Kalimat ini menunjuk kepada zaman dari kesudahan akan akhir pemerintahan penjajahan dari kaisar Antiokhus ke-4. Di mana kalimat “pada waktu itu” berhubungan dengan kalimat “akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sejak pada waktu itu”. Kalimat ini memperlihatkan suatu hubungan bahwa pada saat zaman kesudahaan akan pemerintahan penjajahan dari kaisar Antiokhus ke-4 maka makin besar penindasan tersebut. Tetapi kalimat “muncul Mikhael yang akan mendampingi anak-anak bangsamu”. Kalimat ini ingin menunjukan bahwa dalam kesukaran akan penindasan yang akan semangkin besar tersebut orang-orang beriman tidak akan ditinggalkan Tuhan yang berdiri di atas mereka.[9]
Ayat 2-3: Adalah satu-satunya kelimat penyataan yang benar-benar berkaitan dengan kebangkitan orang mati. Kebanyakan para ahli PL melihat bahwa ayat ini mengacu kepada pengertian yang metafora dari pemulihan bangsa tersebut (Yeh. 37; Hos. 6:2; Adalah. 26:19). Tetapi apabila dilihat kemudian maka kebangkitan yang mempunyai arti metafora terhadap pemulihan bangsa itu sangatlah tidak mungkin mengingat bahwa terdapat kalimat-kalimat yang dapat menjadi acuan yaitu untuk `hidup kekal'  dan `kengrian kekal', dan tentang `orang bijaksana'. Di tempat lain bahasa tentang “tidur dan “bangun” digunakan tentang kematiaan dan kebangkitan (2 Raja-raja 4:31, Ayub 14:12). Kalimat di dalam debu mempunyai pengertian yang sama dengan Sheol, tetapi beberapa penafsir lain melihat bahwa kata “kengerian yang kekal” merupakan suatu bagian penambahan yang sekunder yang merupakan hasil dari pengabungan dua sinonim tetapi terdapat suatu kemungkinan kata ini merupakan suatu hubungan yang mengacu kepada Kej.3:19, hingga kembali ke tanah. Terdapat suatu perbedaan pendapat terhadap makna dari kata “banyak” hal ini disebabkan banyak sebagian penafsir melihat bahwa penggunaan kata ini sering digunakan dalam pengajaran kelompok rabiim Ibrani yang di mana mereka melihat merupakan suatu acuan kepada suatu kebangkitan yang universal. Namun, kata depan min merupakan suatu hal yang menunjukan keseluruhan akan manusia yang dipilih tetapi kata depan ini juga menyiratkan bahwa hanya sebagian dari mereka yang tertidur akan terjaga, hal ini dapat kita lihat dalam konteks 11:33-35; 12:3, hal ini menyatakan kepada mereka yaitu orang-orang Yahudi yang mati martir dengan setia. kata “kehinaan” dan  “kengerian” kekal merupakan suatu kalimat yang berupa sindiran (Yes. 66:4) di mana kata kengerian dir'on ada. Dalam Yesaya tubuh-tubuh busuk dari orang-orang yang memberontak terhadap Allah kepada suatu kengerian bagi mereka kepada mereka yang menerimanya. Kebanyakan pandangan melihat melihat maksud dari pembedaan akan nasib orang-orang sebagai dua kelompok yang diperbandingkan terhadap nasib mereka. Teks ini 12:2 sama dengan Yes. 66:24 yang di mana mempunyai arti bahwa orang-orang yang mempunyai keinginan jahat akan mendapatkan malu dan kengerian yang kekal.[10] kalimat banyak di antara orang-orang yang telah tidur dalam debu tanah akan bangun: Meski kepercayaan di dalam kebangkitan dan penghakiman yang individu di luar kematiaan hanya mempunyai kemungkinan yang sangat kecil yang menunjukan kepada kebangkitan jasmani, meskipun mengenai kebangkitan orang mati yang menunjukan kepada arah jasmani telah mendapatkan suatu perhatiaan dalam Yehezkiel 37:1-14; Yesaya 26. Jerome melihat bahwa Daniel sedang mengacu kepada kebangkitan yang nyata secara individu dari kematiaan, hal ini dikarenakan bahasa yang tegas dan eksplisit tentang hidup yang kekal. Sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal: kalimat ini menurut Ernest C. Lukas melihat bahwa hal tersebut merupakan adanya kepercayaan-kepercayaan yang timbul tentang adanya kebangkitan orang mati setelah kematiaan dan penghakiman. Sementara Watchers melihat kalimat kehinaan dan kengerian yang kekal merupakan suatu penambahan dari isi kitab Daniel itu sendiri, kalimat ini sebenarnya menunjuk kepada keberadaan orang-orang berdosa yang disorot dalam Daniel 12 yang tidak mendapatkan pemulihan. Di dalam Qumran orang yang berdosa dalam tempat yang gelap dari api penghukuman yang kekal, tetapi Daniel tidak menjelaskan dan menguraikan bentuk yang nyata dari kalimat kengerian yang kekal yang dapat mengacu kepada neraka dan “api penyiksaan”, tetapi sepertinya Daniel mempunyai kecenderungan akan corak yang sama dengan Yesaya 66 yaitu mengenai orang-orang berdosa yang hidup kembali untuk mengalami aib (kemaluan) dan penyiksaan.[11] Nubuatan-nubuatan yang sama di dalam situasi dimana orang-orang Yahudi menemukan diri mereka dalam berbagai kesulitan di bawah Antiokhus. Meski kepercayaan di dalam kebangkitan dan penghakiman yang individu di luar kematian di sini sangat kecil, hal ini dikarenakan tidak terdapat perkataan yang tegas menyatakan mengenai kebangkitan jasmani, meskipun demikian latar belakang di Yez. 37 dan Yesaya. 26 merupakan sesuatu yang dapat dijadikan untuk melihat akan nasib dari orang fasik yaitu akan mendapatkan kehinaan dan kengerian kekal. Di Dalam Yudaisme pada waktu Daniel, terdapat suatu fariasi yang pantas untuk dipertimbangkan terhadap kepercayaan-kepercayaan tentang hidup setelah kematian dan tentang penghakiman. Kepercayaan di dalam kebangkitan dan penghakiman jelas di dalam literatur dimasukkan sejak awal abad ke-2 sebelum Kristus. Penggambarkan bagaimana roh-roh dari orang mati yang bertahan dalam kamar-kamar yang berbeda ketika mereka menunggu hari penghakiman. Bercahaya seperti cahaya cakrawala. Ada pengembangan nasib dari orang bijaksana, yang adalah untuk dikaitkan dengan `mereka yang memimpin banyak orang kepada kebenaran hal ini dikatakan oleh  jeffry dan Charles tetapi Ginsberg melihat bahwa orang bijaksana dikaitkan dengan pelayan Yes. 52:13-53:12. Kata yaskil dalam Yesaya 52:13 yang mempunyai akar kata yang sama sebagai kata yang menunjuk kepada orang bijaksana dalam Daniel. [12] Penderitaan akan seorang pelayan mendukung gagasan akan kematiaan orang bijaksana yang mempunyai pengaruh memberikan pengajaran kepada masyarakat Yahudi terhadap pengajarannya, beberapa sarjana melihat kepada rabiim atau guru-guru yang mati secara martir, sehingga orang bijaksana di sini merupakan bersifat serupa dengan mereka yang membuat bangsa menjadi saleh. [13] Kalimat banyak orang-orang menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang tetap setia kepada Allah dan Taurat. bahwa `orang bijaksana' akan kilauan seperti bintang-bintang untuk berarti bahwa mereka akan menjadi seperti para malaikat (Henokh 104:2-6).[14] Kemuliaan akan cakrawala merupakan suatu kesamaan dengan bintang-bintang hal ini dikarenakan adanya pemikiran-pemikiran dari helenistik tentang perbintangan[15], tetapi Goldingay berkomentar bahwa frasa “seperti bintang-bintang mempunyai tujuan untuk membandingkan terhadap pembaharuan hidup yang duniawi” (seperti di Ezek. 37; Adalah. 26:19-20; 66:18-24).[16]
Ayat 4: Sembunyikanlah segala firman itu, dan materaikanlah kitab itu sampai pada akhir zaman. Kalimat ini merupakan perintah untuk menyembunyikan firman. Baldwin mencatat penggunaan metafora yang berkenaan dari gambaran akan suatu yang termatrai, di mana hal itu dilihat sebagai sebuah penggunaan untuk melukiskan kebutaan yang melakukan pemberontakan melawan terhadap Allah. Banyak keinginan untuk mencapai atau menemukan kebenaran akan firman Tuhan itu akan sia-sia karena kejahatan akan meningkat, di mana negeri itu dipenuhi dengan kejahatan.[17] Baldwin mencatat terhadap penggunaan metafora dari gambaran kitab yang termaterai yang berada dalam Yes. 29:9-11 digunakan untuk melukiskan kebutaan yang disengaja akan hal pemberontakan melawan terhadap Allah pada masa Antiokhus ke-4.[18]
Ayat 5: kalimat “berdiri dua orang lain” adalah merupakan sebuah tambahan terhadap figur yang nampak dalam 10:4-5. Kata “sungai” di sini biasanya mengacu pada sungai Nil tetapi digunakan dalam bentuk jamak dalam suatu konteks eskatologi di (Yes. 33:21) bersama-sama Yerusalem. Tetapi untuk kata sungai di ayat ini bukan sungai Nil melainkan menunjukan sungai Efrat.[19]
Ayat 6: kalimat yang menunjuk kepada “orang yang berpakian kain lenan” adalah malaikat yang digambarkan dalam 10:5. Charles melihat bahwa inti dalam kalimat pertanyaan dalam ayat ini adalah menunjukan bahwa kalimat ini merupakan kelanjutan akan hubungan pararel dengan 8:13-14, hal ini mendukung pandangan umum bahwa percakapan dalam ayat ini adalah percakapan antara malaikat. Kalimat “bilakah hal-hal yang ajaib ini berakhir. Ernest melihat bahwa hal ini sama dengan  kalimat 10:5 yang mengatakan “sampai berapa lama berlaku penglihatan ini”.[20]  Pertanyaan Berapa lama?' (12:6), hal ini merupakan pertanyaan akan waktu terhadap fakta yang berasal dari tindakan Antiokhus IV yang menganiaya bangsa Yahudi. Senada dengan Ernest, Hitzig melihat bahwa pertanyaan ini sebuah pengungkapan yang berbeda dari akar yang sama yang menunjukan kepada perbuatan-perbuatan Antiokhus IV, (8:24; 11:36). Hal ini mempunyai maksud untuk mengacu kepada pristiwa yang terdapat dalam 11:29 -12:3.[21]
Ayat 7:  terdapat kalimat yang menyatakan bahwa mengangkat kedua tangannya baru bersumpah, hal ini biasa dilakukan oleh orang-orang Yahudi dalam suatu unsur bersumpah yaitu dengan menganngkat keduatangannya. Kalimat satu masa dua masa dan setengah masa” dalam suatu artian yang hurufiah adalah sama seperti dalam 7:25.[22] Hal ini menunjukan kepada pada tindakan-tindakan Antiokhus ke-IV terhadap bangsa Yahudi yang dikatakan oleh penulis Daniel sebagai bangsa suci, 11:29-39. Di mana dalam hal rentang waktu kepemerintahan Antiokhus ke-IV dalam bangsa Yahudi, waktu, dua kali, setengah satu waktu', mempunyai pengertian kepada kuasa penindas terhadap orang-orang kudus orang-orang yang datang pada waktu akhir, dan mengacu pada tanda akhir pemerintahan dari Antiokhus IV.
Ayat 8: kegagalan Daniel untuk memahami menekankan kegaiban dari wahyu.[23] Dan hal tersebut sama dengan pandangan Jerome melihat dalam hal ini Daniel tidak mengetahui apa dampak yang terjadi terhadap bangsa Israel terhadap akhir  dari masa-masa kepemerintahan penjajahan yang dilakukan oleh Antoikhus ke-4. [24]
Ayat 9:  kalimat yang menyuruh agar Daniel pergia adalah bertujuan agar Daniel pergi dengan tidak memberitakan firman yang ia telah dengar Bdg. 8:26; 12:4, serta catatan umum pada pasal 8.
Ayat 10: Dalam ayat ini Ernest melihat bahwa ayat ini mengacu kembali kepada 11:35 di mana dalam ayat ini terdapat inti kalimat yaitu “dibersihkan”, sehingga setelah melewati hal tersebut dalam 12:10 terdapat suatu pembedaan antara kedua kelompok dan dalam ayat ini, dan dalam hal ini hanya orang bijaksana saja yang akan memahami akan Firman yang termaterai.[25]
Ayat 11: Ernest berpandangan bahwa penulis kitab Daniel menghitung hari-hari yang telah dilalui oleh bangsa Israel sejak mereka di jajah dalam masa kaisar Epifanes yaitu selama seribu dua ratus dan Sembilan puluh hari, yang berarti penulis kitab Daniel mengkalkulasi waktu penucian bait suci.[26] Senada dengan Ernest Dr. M. Siahahan dan Robert Peterson juga melihat hal yang sama bahwa kalimat ini menunjukan akan waktu penyuciaan bait suci. Korban sehari-sehari; bnd. Daniel 8:11, di mana kata bahasa Ibrani yang sama diterjemahkan sebagai “korban persembahan sehari hari-hari”. Dewa-dewa kekejian yang membinasakan; bdg Dan. 8:12-13; 9:27; 11:31. Rupa-rupanya yang ditunjukan ialah mezbah bagi Zeus (terdapat kemungkinan patung yang didirkan di Bait Suci.[27]
Ayat 12: suatu petunjuk terhadap ayat 12 di sediakan oleh kata kerja …yang juga digunakan dalam Habakuk 2:3 suatu kutipan pendek teks kepada nama Daniel telah sering disebut dalam (8:17; 11:27, 35). Kalimat dalam teks ini mempunyai arti akan “berdiam untuk menantikannya” dan hal tersebutlah terjadi tetapi hal tersebut tidaklah menjadi suatu akhir (1QHab 7:9-12). Pesher di Habakuk dari Qumran menerapkan ayat ini sampai akhir waktu yang terakhir, dengan demikian hal tersebut adalah menunjuk kepada maksud suatu kalimat “akhir” yang diharapkan sampai setelah 1,290 hari terhadap orang beriman yang di mana mereka harus menanti akan masa penantian" terhadap masa kemudian. [28] "orang dari kebenaran  Jerome melihat bahwa ayat ini merupakan ayat yang ditambahkan sekitar tiga setengah tahun setelah penajisan atau perbuatan tak suci yang dilakukan dalam Bait Suci.
Ayat 13: para penafsir melihat ayat ini merupakan suatu penambahan dari narator yang melihat ini sebagai “akhir zaman” yang bukan menunjuk kepada pemulihan bait suci tetapi merupakan suatu tambahan lagi terhadap peristiwa-peristiwa akan kebangkitan yang di gambarkan dalam ayat ini. Inilah akhir dalam ayat ini bahwa Daniel diberitahu bahwa ia akan bangkit "pada akhir hari-hari".[29] Kesudahan zaman menujuk kepada ramalan-ramalan akan pembebasan yang berkenanaan dengan kehancuran Yerusalem oleh Roma. Janji pergi mempunyai tujuan terhadap suatu janji akan kebangkitan kepada Daniel dirinya sendiri. Konsensus dari ilmu pengetahuan yang modern adalah bahwa bagian ini telah digubah digubah dan disusun dalam kematian Antiochus Epiphanes, yang dinubuatkan dalam 11:45, dan sebelumnya dedikasi kembali bait suci, yang terdapat dalam bagian terakhir dalam 12:5-13 yang mungkin juga telah ditambahkan kemudian dalam 12:12.[30] Dalam ayat 13 kitab Daniel berakhir dengan suasana tenang. Sama seperti semu orang lain, Daniel harus meninggal dunia dan beristirahat dalam kuburnya. Tetapi melalui kebangkitannya pada akhir zaman dia akan mendapat bagian dalam kerajaan kekal yang akan didirikan Allah.[31]          
II.X. Kerygma
                  Karena pada waktu itu bangsa Israel menjadi jajahan Antiokhus ke-IV sehingga adanya percampuran keagamaan dan ada orang-orang Israel melenceng dari sifat dan cara keberagamaan mereka sehingga penulis menegur mereka dan memberikan mereka pujian kepada orang-orang yang tetap setia dengan pengajaran agama nenek moyang Israel. Serta tujuan penulisan kitab ini juga dapat dilihat bahwa penulis ingin memberikan suatu penghiburan akan situasi politik yang dialami bangsa Israel pada waktu itu agar mereka tabah menjalaninya dan tidak putus-putusnya untuk berharap akan kedatangan penolong bagi mereka.
II.XI. Relevansi Teks terhadap situasi pada masa kini
 Mungkin kita tidak lagi diperhadapkan dengan Antiokhus IV secara hurufiah tetapi dalam dunia ini kita masih diperhadapkan oleh hal-hal yang dapat dikaitkan dengan Antiokhus IV seperti di Indonesia suatu negara yang sudah merdeka tetapi dalam kenyataannya negara Indonesia merupakan negara yang berada dalam perkumpulan negara-negara miskin. Kita di jajah oleh sistem ekonomi, politik, budaya, yang menurut beberapa politikus Indonesia sedang di jajah oleh Amerika, sehingga berdampak juga pada masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan-kesulitan di berbagai bidang kehidupan. Kemerosotan moral keagamaan bangsa ini yang tidak terbatas oleh agama di mana terkadang orang melakukan praktek penyembahan yang berhala kepada tempat-tempat yang dikeramatkan untuk mencapai apa yang diinginkannya.
III. Kesimpulan                                                                          
Kitab Daniel merupakan kitab ditujukan kepada masa pemerintahan Antiokhus ke-IV dan bangsa-bangsa yang di mana penulis melihat kekejian yang dilakukan oleh pemerintahan Antiokhus ke-IV terhadap bangsa Yahudi yang di mana terdapat suatu “pemaksaan” terhadap bangsa Yahudi untuk menyembah dewa-dewa dari pemerintahan Antiokhus ke-IV. Sehingga selain penulis melihat kepada pemerintahan Antiokhus ke-IV ia juga melihat kepada 2 golongan orang Yahudi yang setia kepada ajaran-ajaran Yahudi dan terhadap orang-orang yang tidak setia dengan agama Yahudi yang pergi meninggalkan ajaran tersebut dan melakukan ajaran keagamaan Yunani.


DAFTAR PUSTAKA

Dr. Siahaan S.M. & Dr. Paterson Robert M, Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.
Boland. B.J, Kunci Kitab Daniel, Jakarta: BPK
Dr. Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama, Bandung: BMI, 2009.
Lynne Newell, Seri Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, Malang: Seminary Alkitab Asia Tenggara, 1990.
Lukas Ernest. C,  Appolos Old Testament Commentary Daniel, Leicester: Inter Varsity Press, 2002.
Goldingay John E, Word Biblical Commentary¸ Dallas: Word Books Publisher, 1989.
Collins John J, A Commentary on the Book of Daniel, Minneapolis: Fortress Press, 1993.
Porteous N.W, The Old Testament, London: Blomsbury Street, 1965.
Dr. S.M. Siahaan & Dr. Robert M. Paterson,  Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.










[1]  B.J. Boland, Kunci Kitab Daniel, (Jakarta: BPK), 12
[2] Dr. S.M. Siahaan & Dr. Robert M. Paterson, Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 18.
[3] Dr. Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama, (Bandung: BMI, 2009, 153
[4]  Lynne Newell, Seri Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, (Malang: Seminary Alkitab Asia Tenggara, 1990), 6
[5]  Ibid, 8.              
[6] Lynne Newell, Seri Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, 9
[7] Ibis, 10
[8] B.J. Boland, Kunci Kitab Daniel, (Jakarta: BPK), 22-24.

[9] Ernest. C. Lukas, Appolos Old Testament Commentary Daniel, (Leicester: Inter Varsity Press, 2002), 293-294.
[10] John E. Goldingay, Word Biblical Commentary¸ (Dallas: Word Books Publisher, 1989), 306.
[11] John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, ( Minneapolis: Fortress Press, 1993), 391-393.
[12] Ernest. C. Lukas, Appolos Old Testament Commentary Daniel, (Leicester: Inter Varsity Press, 2002), 294-295
[13] John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, ( Minneapolis: Fortress Press, 1993), 395
[14] John E. Goldingay, Word Biblical Commentary¸ (Dallas: Word Books Publisher, 1989), 309
[15] N.W. Porteous, The Old Testament, 171
[16] Ernest. C. Lukas, Appolos Old Testament Commentary Daniel, 296
[17] John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel,  399.
[18] Ernest. C. Lukas, Appolos Old Testament Commentary Daniel, 296.
[19] John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, 399
[20] Ibid, 399
[21] Ernest. C. Lukas, Appolos Old Testament Commentary Daniel, 297
[22] John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel,  399.
[23]  B.J. Boland, Kunci Kitab Daniel, (Jakarta: BPK, ) 135.
[24] N.W. Porteous, The Old Testament, 172.
[25] John E. Goldingay, Word Biblical Commentary¸ 309.
[26]Ibid, 400
[27] Dr. S.M. Siahaan & Dr. Robert M. Paterson,  Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 201
[28] John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, ( Minneapolis: Fortress Press, 1993),401
[29] Ibid, 401
[30] Ernest. C. Lukas, Appolos Old Testament Commentary Daniel, 298
[31] Dr. S.M. Siahaan & Dr. Robert M. Paterson,  Tafsiran Alkitab Kitab Daniel, ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 204.