Senin, 29 Agustus 2011

FILSAFAT BARAT DAN TIMUR


1. MANUSIA DAN KEMUNGKINAN ULTIMNYA
Dalam mencari suatu jawaban eksistensial atas pertanyaan-pertanyaannya, manusia modern sangat tertarik akan “kemungkinan ultim”. Manusia, yang dahulu suka menggunakan tanda seru, sekarang lebih banyak menggunakan tanda tanya, bahkan ia sendiri menjadi suatu tanda tanya. Pertanyaan ini kerap kali juga menjadi induk suatu pandangan dunia dan filsafat baru, induk suatu teologi dan etika baru. Manusia adalah suatu mahluk yang bertanya. Manusia sungguh-sungguh adalah suatu mahluk yang bertanya, bahkan ia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaannya, dan dunia seluruhnya. Manusia yang bertanya, tahu tentang keberadaannya dan ia menyadari juga dirinya sebagai penanya. Kehidupan kita dapat tampak lebih baik menurut totalitasnya karena akhir suatu hal biasanya paling baik menunjukan “maknanya”.
Dalam buku ini, biasanya hal itu kami sebut “kemungkinan ultim” kehidupan kita dan kami berpendapat bahwa kemungkinan ultim itu sekaligus merupakan makna kehidupan kita. Kemungkinan ultim itu dan makna kehidupan kita dapat disebut cahaya terang-benderang yang menyampaikan pengertian dan arti kepada seluruh kehidupan kita. Kemungkinan ultim manusia! Saya rasa setiap filsuf dan teolog, bahkan setiap manusia yang berpikir, bisa dan harus memandang kemungkinan ulmit itu sebagai makna kehidupannya. Kemungkinan ultim adalah yang dapat dicapai manusia sebagai yang paling akhir dan paling menentukan; dengan kata lain, peruntukan dan tujuannya.
2. DUNIA KAYANGAN PLATO
Plato bertitik tolak dari manusia yang harmonis serta adil dan dalam hal itu ia menggunakan pembagian jiwa atas tiga fungsi. Dalam jiwa kita terdapat suatu bagian keinginan (epithymia), suatu bagian energik (thymos), dan suatu bagian rasional (logos) sebagai puncak serta pelingkup. Menurut analogi dengan bagian-bagian jiwa ini, Plato menggangap negara juga sebagai Manusia Besar, sebagai organisme yang terdiri atas tiga bagian atau golongan yang masing-masing sepandang dengan suatu bagian jiwa. Pertama-tama terdapat golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani, dan pedangang (epithymia), lalu ada golongan penjaga yang terdiri dari prajurit-prajurit (thymos), dan akhirnya pada golongan pejabat (logos) yang memegang puncak pimpinan dan kekuasaan. Ideologi politik Plato ini dalam arti tertentu merupakan konkretsasi dari ajarannya tentang idea.


3. AJARAN PLATO TENTANG IDEA
Plato bertitik tolak dari pengalaman bahwa sifat umum dan mutlak perlu dari pengenalan, kita tidak mungkin ditarik dari dunia yang kelihatan. Tentang putusan-putusan semacam itu, Plato menganut semacam teori aplikasi, artinya menurut pendapat Plato, idea yang sudah kita kenal sebelumnya kita terapkan pada kenyataan yang kelihatan. Menurut Plato, tidak dapat diragukan, di samping dunia yang kelihatan, harus ada juga suatu dunia yang tak kelihatan, suatu dunia pemikiran (kosmos noetos). Kontak dengan realitas lebih tinggi itu dianggap Plato sebagai syarat untuk pengenalan duniawi kita. Akan tetapi, perlulah kontak itu sudah berlangsung sebelum kita lahir. Tanpa merasa banyak keberatan, Plato sekarang memanfaatkan suatu unsur mistis untuk memecahkan problem pengenalan, yaitu pra-eksistensi. Dengan demikian, pengenalan ilmiah dan filosofis hanya mungkin karena jiwa menilai gejala-gejala dalam dunia yang kelihatan menurut perbandingan dengan dunia idea. Jadi kemungkinan dan makna ultim keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Namun, kita tidak setia pada peruntukan kita ini, kita tidak mewujudkan makna kehidupan sebagaimana menjadi kewajiban kita, kita bersalah karena menyimpang dari kiblat idea-idea itu. Dengan memperhatikan tanpa pamrih realitas yang kelihatan ini, rohnya diantar kembali kepada idea-idea, kepada dunia ideal.
4. PLOTINOS, FILSUF YANG BERKONTEMPLASI
Menurut pendapat Platinos asal-usul itu tidak bisa disamakan dengan Ada dan pemikiran itu sendiri, tetapi merupakan sumber transendental dan tak berdiferensi dari kedua-duanya. Kesatuan Asali dari Ada dan pemikiran itu, oleh Platinos disebut “Yang Satu” (to Hen): kemungkinan pertama dan terdalam dari segala Ada dan pemikiran. Nus itu pada Plotinos, mempunyai fungsi yang sama seperti kosmos noetos pada Plato, hanya lebih dipersatukan. Sekarang kita juga mengerti lebih baik bagaimana Plotinos dapat mengatakan bahwa hakikat sejati dari benda-benda sebetulnya bersifat psikis dan spiritual. Plotinos mengadakan penelitian yang mendalam tentang Jiwa Dunia, maka mereka bebas dari penderitaan serta nafsu dan bahkan dapat membantu jiwa dunia dalam mengatur alam semesta.
Plotinos menegaskan bahwa penurunan itu berlangsung, baik secara bebas maupun secara tidak bebas. Memandang Tuhan atau dengan suatu istilah lain “kontemplasi akan Tuhan”, oleh Plotinos disebut suatu cara melihat yang lain, suatu “eksistensi”, suatu cara untuk keluar dari dirinya, suatu penyatuan, suatu penyerahan diri, suatu kerinduan untuk menyentuh dengan langsung. Kontemplasi ini mengenal pelbagai tingkatan dari gambaran-gambaran mengenai sampai Tuhan sendiri. Apabila jiwa telah melampaui segala sesuatu yang ada, maka ia sampai pada kontemplasi akan apa yang letaknya lebih jauh, apa yang ada “sebelum dan di atas segala sesuatu”.
5. ARISTOTELES, HUMANIS DUNIAWI
Aristoteles berusaha untuk mencari syarat-syarat yang perlu diterima untuk dapat menjelaskan benda-benda kosmis. Untuk dapat menjelaskan perubahan apa saja termasuk juga perubahan aksidental perlu kita menerima dua prinsip materi dan bentuk (hyle dan morphe). Dengan demikian lahirlah hilemorfisme Aristoteles yang termasyhur itu, suatu pengertian dan teori yang dikemukakannya untuk dapat menjelaskan segala kelahiran, perubahan, dan kebinasaan dari benda-benda jasmani. Menurut filsuf Yunani ini, tidak saja terjadi perubahan-perubahan aksidental, tetapi juga perubahan-perubahan subtansial. Perubahan subtansial itu harus kita jelaskan secara analog dengan perubahan aksidental, jadi dengan menggunakan hilemorfisme juga atau gabungan materi dan bentuk. Akan tetapi Aristoteles membedakan antara dua macam materi. Perbedaan Aristoteles itu antara materi pertama (hyle prote) dan materi kedua (hyle deutera). Benda-benda kosmis atau obyek-obyek hanya bisa timbul karena dijadikan, yaitu penggabungan subtansial dari materi pertama dan bentuk pertama. Alam semesta atau kosmos berada sebagai sesuatu yang absolut, sebagai sesuatu yang hanya ada karena dan dari dirinya sendiri, jadi tidak mungkin dijadikan.
Maka, Aristoteles menerima begitu saja suatu keadaan yang aneh dan bertentangan dengan pemikiran filsafat yang sehat, yaitu adanya dua hal yang absolut dan berada karena dirinya sendiri: dunia dan Tuhan. Akan tetapi, dengan demikian ia mendapatkan dalam diri manusia suatu gabungan dari tiga hal, yaitu materi, pisike, dan nus. Jadi bagi Aristoteles, keutamaan itu sesungguhnya sama dengan hidup kontemplasi filosofis dalam waktu senggang dan “akan merupakan kebahagiaan sempurna manusia, asal saja dijalankan seumur hidup.  
6. THOMAS AQUINAS, ARISTOTELES KRISTIANI
Aristoteles masih membedakan antara psyke dan nus, tetapi Thomas memahami kedua-duanya sebagai realitas yang sama dan menunjukannya dengan satu nama, yaitu jiwa (anima). Menurut dia manusia adalah gabungan dari dua subtansi yang tidak lengkap, yaitu materi pertama dan jiwa. Dalam rangka pemikiran Thomas ini dapat dikatakan: manusia adalah tubuhnya yang hidup, bersama dengan semua gejala dan aktivitasnya.
Menurut pandangan Thomas, proses pencarian kebahagian kita berjalan terus secara tak terelakan: dari barang serta nilai-nilai lahiriah menuju nilai-nilai lebih tinggi yang menyangkut hidup batiniah manusia dan akhirnya mencapai ketenangan dan kepenuhan dalam “penyerahan diri kita kepada Tuhan”. Ini bagi Thomas sekaligus merupakan kemungkinan ultim serta makna terdalam kehidupan kita, yang baru direalisasikan definitif sesudah kematian dalam suatu kehidupan abadi yang terikat pada Tuhan secara terlepaskan.
7. KEBIJAKAN HIDUP DALAM MAZHAB STOA
Mereka berpendapat bahwa kehidupan seharusnya dijalankan secara sungguh-sunguh manusiawi sesuai dengan kodrat manusiawi kita. Sebab, rasio manusiawi adalah sebagian kecil dari Rasio Ilahi dan karena itu dapat ditandakan dengan konsekuen. Jadi manusia harus hidup bedasarkan rasio, bedasarkan batinnya. Menurut filsuf-filsuf Stoa, makna keberadaan manusia terdapat dalam “kehidupan rasional” dan dengan menjalankan kehidupan rasional inilah ia akan menjadi seorang bijak, kemungkinan tertinggi manusia. Mereka mulai menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini bertautan dalam Tuhan: semacam solidaritas kosmis. Jadi, menurut filsuf-filsuf Stoa, kemungkinan ultim keberadaan kita dan makna kehidupan kita adalah hidup bersama dengan yang Ilahi dalam suasana persaudaraan dan solidaritas berdamai.
8. MARCUS AURELIUS FILSUF-KAISAR 
Marcus Aurelius menyatakan semua yang bersifat duniawi sebagai sia-sia dan tak berguna. Ia lebih menekankan kehinaan daripada keagungan manusia: Ia tidak memisahkan cinta kasih kepada manusia dari kesalehan karena ia menganjurkan mencari kesenangan kita hanya dalam satu hal, yaitu “Dengan mengingat Tuhan dari satu perbuatan sosial beralih ke perbuatan sosial berikutnya. Marcus Aurelius menaruh hormat besar kepada jiwa yang karena keyakinannya sendiri, bersedia untuk melepaskan diri dari tubuh tanpa menghiraukan “akan padam” atau membuyarkan diri, atau tetap hidup. Akhirnya, filsuf-kaisar ini mengibaratkan hidup kita sebagai sebuah drama dalam tiga babak: lahir-hidup-mati. Kita hanya bertanggung jawab atas babak kedua, kehidupan yang terentang antara lahir dan mati. Kesudahan kehidupan kita ditentukan oleh Dia yang pernah bertanggung jawab atas kelahirannya dan kini atas peleburannya.
9. EPIKUROS, SENIMAN HIDUP
Epikuros tidak bisa membayangkan jiwa tanpa tubuh dan apabila seluruh struktur tubuh runtuh, maka jiwa pun tidak lagi dapat mempunyai perasaan-perasaan dan akan melebur. Pada Epikuros, tampaknya rasio hanya merupakan suatu kemampuan untuk mengadakan asosiasi antara pengalaman-pengalaman empiris dan mengatur masa lampau dan masa sekarang. Menurut Epikuros, kesenangan tertinggi adalah kesenangan jiwa atau ketenangan jiwa: jiwa dalam keadaan sejahtera (euthymia). Memperoleh ketenangan jiwa ini adalah kemungkinan ultim manusia selama hidupnya dan makna seluruh keberadaannya. Pada Epikuros, orang bijak tidak campur tangan dalam urusan-urusan umum, seperti politik, karena kalau begitu ia tidak bisa memperoleh atau mempertahankan ketenangan jiwanya. Ia berusaha hidup tersembunyi dengan tidak mencolok (lathe biosas).
10. BOETHIUS, FILSUF PENCARI PENGHIBURAN
Boethius bahkan mulai meragukan Penyelenggaraan Ilahi dan keyakinannya dulu bahwa orang jahat tidak mungkin bahagia. Tidaklah mungkin kita mengalami kebahagian sedemikian itu pada sesuatu yang duniawi. Jadi, kita harus mencari lebih tinggi karena hanya sesuatu yang sempurna, tertinggi, dan tetap dapat membahagiakan kita sepenuh-penuhnya. Kalau di dunia sudah ada terdapat nilai-nilai berhingga, seperti keberadaan, keindahan kebaikan, kebenaran, dan kehidupan, maka haruslah ada juga suatu nilai (bonum) tak berhingga sebab yang berhingga hanya bisa berada karena yang tak berhingga merupakan syaratnya. Nah, Tuhan adalah yang tak berhingga dan sempurna, sumber segala sesuatu yang baik. Kebahagiaan di dalam Tuhan, bahkan pengilahian.
Jadi, semua orang yang bahagia adalah Tuhan. Walaupun hanya satu yang menjadi Tuhan dengan jalan partisipasi”. Boethius sekarang dapat memahami lagi dengan jelas kemungkinan ultim serta makna kehidupan manusia: menjadi bahagia dalam persatuan dengan Tuhan yang sudah dimulai di bumi ini dengan hidup secara rasional, manusiawi, berkeutamaan, dan saleh karena suatu kehidupan semacam ini di bumi, dalam arti tertentu, sudah mengambil bagian pada yang baik, yaitu pada Allah.
11. SPINOZA, INTELEK YANG TENGGELAM DALAM TUHAN
Menurut pandangan Spinoza, manusia diperuntukkan bagi kebebasan serta kebahagian yang sejati: kemungkinan ultimnya serta makna keberadaannya. Menurut Spinoza roh tidak sanggup membayangkan dan mengingat sesuatu pun, kecuali dengan tubuh. Namun demikian, ia toh menerima sesuatu yang abadi sifatnya dalam diri manusia karena “roh manusiawi tidak bisa musnah bersama dengan tubuh, tetapi pada dirinya tinggal sesuatu yang abadi sifatnya”.  Kadang-kadang kita mendapat kesan bahwa keabadian manusia itu hanyalah pengertian tentang kita yang tetap tinggal di dalam Tuhan sebagai penyebab. Namun Spinoza ingin melangkah lebih jauh dengan menganggap bahwa sebagian dari roh kita hidup terus. Spinoza telah melihat dengan tepat sekali bahwa yang berhingga hanya bisa berada karena dan berkaitan dengan yang tak berhingga, tetapi ia kurang memperhatikan kemandirian relatif dari yang berhingga.
12. JEAN-JACQUES ROUSSEAU, NABI YANG MEWARTAKAN “ALAM KODRAT YANG BAIK”
Dalam pandangan Rosseau melihat bila manusia ingin selamat, hanya ada satu jalan: “Back to Nature”, kembalilah kepada keadaan pada awal mula. Bahkan, Rosseau berpendapat bahwa sebaiknya jangan kita menegaskan bahwa anak-anak selalu berbicara yang benar karena dengan cara itu mereka berdusta. Sebagai motivasi kuat untuk tingkah laku manusia. Dalam pada itu ia berpendapat bahwa kita tidak tahu banyak tentang hakikatNya biarpun sifat-sifat seperti kebaikan, kemahkuasaan, dan keadilan harus dikenakan kepadaNya. Dalam butir yang ketiga, Rousseau mengaku: Manusia adalah bebas dalam perbuatan-perbuatannya dan karena itu dijiwai oleh suatu subtansi yang tak jasmani. Sebagai isi pokok agama ini oleh Rousseau disebut: pengakuan bahwa semua manusia adalah “anak Allah dan saudara satu sama lain. Pada taraf lebih rendah, kebahagian itu terdiri dari “tiadanya penderitaan, menikmati kesehatan, mempunyai kebebasan, dan memiliki apa saja yang dibutuhkan. Pada taraf yang lebih tinggi kebahagian itu ditemukan dalam kedamaian hati. Kemungkinan ultim manusia adalah suatu kehidupan abadi yang personal, sebagaimana sudah kita lihat.
13. KANT, IMPIAN TENTANG PERDAMAIAN ABADI
Kant berpendapat bahwa manusia berasal dari dunia hewan. Pada awal mula, ia hidup pada taraf yang masih rendah dan primitif, nyaris hewan. Maka tidak dapat dielakan, di antara manusia segera timbul suatu keadaan perang dari semua lawan semua. Namun, Kant memperkirakan peluang untuk perdamaian abadi baru akan menjadi baik bila negara-negraa diperintah secara demokratis. Dengan demikian, menurut Kant, kemungkinan ultim umat manusia ialah bertumbuh ke arah humanisasi, persatuan, hidup persaudaraan, dan perdamaian abadi. Hidup abadi ini oleh Kant dianggap personal dan bukan kolektif atau non-personal. Dan terutama ia mengerti hidup abadi itu secara dinamis.
14. FITCHTE, AKU YANG MENCIPTAKAN
Ia lebih suka menganut idealisme radikal, yang diturunkan dari Ich denke. Aku yang absolut atau kesadaran mengiakan dirinya sendiri dan dengan kesadarannya menciptakan Non-Aku (alam semesta) sebagai lawan antithesis. Dalam kerja sama dengan dan di bawah dorongan dari Aku Absolut (=Tuhan), kita harus berusaha untuk meningkatkan moralitas di dalam dunia dan di dalam diri sendiri untuk menghumanisasikan dunia dan diri kita sendiri. Usaha tak kunjung berhenti untuk menjadi manusia, untuk sampai pada dirinya sendiri, itulah kemungkinan ultim dan makna kehidupan kita. Fitche melihat sebagai kemungkinan ultim serta peruntukan manusia: pertumbuhan cinta kasih manusiawi kita hingga akhirnya tenggelam penuh kasih di dalam Tuhan. Cinta kasih kepada manusia harus memanjat ke cinta kasih kepada Tuhan, bukan di alam baka kelak, melainkan di dunia ini karena Tuhan ditemukan di mana-mana, khususnya di dalam batin kita.
15. HEGEL, REFLEKSI ABSOLUT
Hegel beranggapan, baik pemikiran maupun Ada, memperkembangkan dirinya dalam suatu proses dialektis yang meliputi tiga tahap: thesis, antithesis, dan synthesis. Hegel mengambil Idee an sich, kesatuan antara Ada dan pemikiran, yang belum dibedakan. Bagi Hegel, Roh sebenarnya adalah Ide yang telah melewati Alam dan mencapai kehidupan sadar serta sadar-diri. Dalam filsafat, Ide sampai pada dirinya sendiri sebagai Roh, memahami dirinya sendiri dalam bentuk pengeritan filosofis dan sekaligus mencapai kebebasan sepenuh-penuhnya. Sebab, “roh” berarti: pada dirinya sendiri dan bebas. Dengan demikian Hegel telah berusaha merancang semacam teori pengenalan ilahi dengan bantuan sebuah intuisi dasar dan refleksi absolut. Dalam diri manusia, Roh menjadi sadar dan Roh itu memungkinkan manusia untuk menciptakan Wilayah Roh. Jadi, bagi Hegel manusia merupakan mahkota dalam perkembangan dialektis. Bila Hegel berbicara tentang manusia, biasanya ia tidak memasudkan manusia perorangan, melainkan lebih-lebih manusia dalam masyarakat sebagai bangsa dan negara. Jadi Hegel terutama melihat manusia secara  kolektif, sebagai rakyat, bangsa, serta negara, dan sepanjang sejarah Roh umum mempergunakan bentuk-bentuk kolektif itu untuk mencapai tujuannya.
16. MATERIALISME
Menurut materialisme ini, alam semesta terdiri dari suatu aglomerasi atom-atom yang dikuasai oleh hukum-hukum fisis-kimiawi. Kemungkinan tertinggi atom-atom itu ialah dapat membentuk manusia. Apa yang mereka sebut kesadaran, jiwa, atau roh, pada akhirnya tidak lain daripada sejumlah fungsi serta kegiatan otak. Dunia dan manusia tetap materil belaka. Materialisme memang masih berbicara tentang refleksi-diri, keinsafan sosial dan etis, tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan, tetapi serentak berusaha mereduksi semuanya itu kepada kemungkinan-kemungkinan dan daya-daya materi. Bagi materialisme, tidak ada dasar apapun untuk menerima kelanjutan hidup personal sesudah mati. Paling banter dapat diterima kelanjutan hidup non-personal dari materi yang telah membentuk struktur atom manusia karena materi itu tidak dihancurkan, jadi tinggal tetap. Atom-atom dari jenazah manusia akan mengadakan persenyawaan-persenyawaan baru lagi dan barangkali lambat-laun menjadi sebagian dari manusia-manusia lain.
17. MARX DAN MARXISME
Marxisme telah menambah beberapa unsur baru pada materealisme atomistis-mekanistis, khususnya bahwa evolusi diarahkan oleh semacam hukum imanen. Marx mengambil alih “dialektika” dari hegel, tetapi ia menolak inspirasi, dinamika, serta bimbingan Ide dalam proses ini. Bagi Marx, cara berproduksi serta hubungan-hubungan kerja menentukan perjalanan sejarah umat manusia dalam suatu proses dialektis yang mencakup thesis, antithesis, dan synthesis. Makna serta kemungkinan ultim itu ialah humanisasi umat manusia serta dunia melalui sosialisasi seluruh keberadaan manusia. Baru pada saat itulah akan timbul kebebasan sejati untuk semua orang. Menurut pandangan Marxisme, makna dan kemungkinan ultim umat manusia ialah humanisasi manusia serta dunia melalui humanisasi sistem kerja.  
18. SCHOPENHAUER, FILSUF YANG PESIMIS
 Schopenhauer pun bertolak dari gejala-gejala, dari fenomen-fenomen, dari dunia serta manusia menurut pengekspresiannya masing-masing. Hanya ia memandang semuanya itu melalui kacamata gelap dari sifatnya yang khas. Maka Schopenhauer berpendapat bahwa dunia kita adalah “yang terburuk di antara dunia-dunia yang mungkin”. Jadi, dasar dari dunia, manusia dan kehidupan haruslah tidak arif, tanpa rasionalitas, paling buruk dalam arti sepenuhnya, sejelek mungkin. Menurut analogi dengan yang berlangsung dalam batin manusia, kita juga dapat menemukan dan menamakan dasar dunia: While!
Akhirnya, Schopenhauer  mengajurkan agar kita melakukan askesis (tarak) dengan berbalik dari dunia dan kehidupan. Schopenhauer tidak begitu menghargai individu sebab ia menganggapnya hanya sekedar tiruan miskin dari jenisnya. Dunia sebagai While digambarkan oleh Schopenhauer dengan baik, tetapi tidak demikian halnya dengan dunia sebagai Vorstellung. Namun, kalau Schopenhauer bermaksud bahwa ide-ide tidak mendahului manusia, tetapi baru tampil dalam benak manusia setelah manusia itu sudah ada, maka kita sebagai manusia akan menciptakan suatu dunia subyektif dan sejalan dengan pikiran Sarte kita akan sanggup membuat bermakna apa yang pada dirinya absurd.

19 NIETZSCHE, FILSUF PEMAKAI MARTIL
Ia menggambarkan “kematian Allah” itu dengan cara mengharukan. Selama manusia dengan tulus ikhlas percaya akan Allah serta penyelenggaranNya dan sungguh-sungguh hidup menurut iman kepercayaan itu, maka kepercayaan akan Allah merupakan das Heiligste und Machtigste (yang paling suci serta paling hebat) yang pernah dimiliki manusia. Akan tetapi, sayangnya, kita telah membunuh kepercayaan itu dengan pisau-pisau ketidakpercayaan serta ketidaksetiaan kita. Ia menganut vitalisme dan berkenalan dengan evolusionisme yang pada waktu itu tampil ke muka. Nietzche tidak puas dengan evolusionisme yang setengah-setengah dan borjuis. Jadi, manusia adalah tujuan dan akhir evolusi kosmis. Usaha menyamaratakan semua manusia melalui agama Kristen dan sosialisme oleh Nietzche dinilai sebagai gejala degenerasi dan kejenuhan. Manusia itu bukan tujuan serta makna evolusi. Ia harus diatasi oleh Uebermensch yang akan datang. Dia itulah merupakan makna dunia. “Moral budak” dari agama Kristen serta sosialisme harus diganti oleh “moral tuan” dengan satu-satunya norma. Jadi, Nietzche meradikalisasi evolusi.
20. MAX STIRNER, EGOIS YANG RADIKAL
Stirner tidak mempedulikan hal ihwal ilahi atau hal ihwal manusiawi yang umum. Yang ilahi adalah urusan Tuhan dan yang manusiawi adalah urusan manusia. Perkaraku bukanlah yang ilahi dan bukanlah yang manusia: “Yang ilahi adalah urusan Tuhan dan yang manusiawi adalah urusan manusiawi. Perkaraku bukanlah yang benar, yang baik, yang lurus, yang bebas, dan sebagainya, melainkan hanyalah yang Aku punya. Maka, perkaraku tidak bersifat umum, melainkan unik, sebagaimana Aku unik adanya. Bagiku tidak ada yang melebihi Aku!”. Hak milik pula sebagaimana sudah kita dengar di dasarkan atas kuasa saja. Memang benar Stirner telah menarik konsekuensi terakhir dari egoisme. Levinas menegaskan bahwa egoisme begitu saja terkandung dalam keberdaan manusiawi, karena kegiatan kita yang mentotalisasi. Dengan kegiatan totalisasi itu dimaksudkannya suatu sikap dasar yang kita ambil untuk memandang serta menguasai segala-galanya dengan diri kita sendiri sebagai titik pusatnya. Dimensi etis tidak terbentuk pada tahap batiniah-subyektif, melainkan pada penampakan orang lain saja.
21. KIERKEGAARD, SOKRATES KRISTIANI
Pengetahuan itu pasti akan menyusul, tetapi tidak akan merupakan suatu koleksi yang disusun kebetulan atau suatu urutan tetek bengek tanpa sistem dan tanpa titik pusat. Inilah secara singkat inti pemikiran dan kehidupan Kierkegaard. Bagi, Kierkegaard hidup sebagai Kristen adalah cara hidup tertinggi yang mungkin untuk manusia. Sebetulnya, cara hidup itulah yang merupakan kemungkinan ultim dan makna keberadaan manusia. Menurut Kierkegaard, kehidupan seorang Kristen berlangsung dalam pergumulan terus menerus dan di bawah tekanan tak henti-hentinya antara suatu kutub duniawi dan suatu kutub abadi. Selaku pengarang Kristen, Kierkegaard percaya akan hidup abadi yang akan datang, kebahagiaan, dan kesatuan dengan Allah. Jadi kemungkinan ultim serta makna keberadaan manusia tidak terwujud dalam waktu serta di dunia ini, melainkan dalam hidup yang abadi.
22. JASPERS, FILSUF YANG PERCAYA
Jaspers sangat tertarik akan gagasan Augustinus bahwa kehidupan manusiawi kita terarah kepada Allah (esse ad Deum). Melalui jalan ini, alam malah bisa dibaca dan ditafsirkan sebagai jejak Allah (vestigial Dei). Filsafatnya menjauhkan diri dari setiap macam sientisme serta rasionalisme, tetapi tanpa menjadi anti ilmiah atau irasional. Filsafat tidak dapat memberikan suatu pembuktian empiris, sebagaimana diberikan dalam pengetahuan ilmiah tentang benda-benda berhingga, namun ia dapat mencapai juga Gewissheit von Wahreit, kepastian tentang kebenaran. Rumusan kepercayaan Jaspers untuk mengungkapkan kepercayaan filosofis ini akhirnya berbunyi:”Kepercayaan adalah hidup bersumber pada yang melingkupi (das Umgreifende), artinya membiarkan kehidupannya dituntun dan dipenuhi oleh Yang Melingkupi. Dalam kepercayaan ini manusia menemukan kemungkinan yang agung serta ultim, makna kehidupannya.  
23. SARTE, ATEIS YANG KONSEKUEN
Menurut Sarte, persesuaian antara Ada dan kesadaran tidak akan pernah tercapai karena kesadaran menggapai “ketiadaan” (le’neant) dari Ada. Ia mau menegaskan bahwa kesadaran akan Ada hanya mungkin karena Ada itu merupakan syaratnya. Namun, realitas dari kesadaran itu tak lain dan tak bukan adalah ketiadaan dari ada: kekosongan serta kehampaan yang diakibatkan oleh kesadaranku dalam Ada itu. Kemungkinan ultim kehidupan manusia adalah mengembangkan situasi-situasi yang ada. Tentu saja, Sarte tidak dapat mengatakan apa persisnya kemungkinan ultim itu sebab manusia adalah kebebasan mencipta. Bagi Sarte, cinta tanpa pamrih tanpa membuat dirinya sendiri atau orang lain menjadi “obyek” tidak mungkin. Sepanjang sejarah, manusia sebagai individu maupun sebagai grup mengembangkan kemungkinan-kemungkinannya dan itulah menurut Sarte makna keberadaan manusia. Karena kemungkinan ultim tidak kita kenal dan tetap tidak akan kita kenal, karena itu pula makna keberadaan kita tidak pernah dapat ditunjukkan dengan tepat.
24. ALBERT CAMUS, FILSUF PEMBERONTAK
Camus yakin betul kehidupan kita tidak bermakna. Seluruh keberadaan kita adalah absurd, sebagaimana bagi dia kentara sekali dari penderitaan orang yang tak berdosa, khususnya anak-anak. Karena penderitaan yang absurd itu, Camus menolak untuk mengakui adanya Tuhan. kehidupan itu absurd, namun tidak ada jalan lain daripada menerima saja absurditas itu. pertama-tama ia menyingkirkan beberapa godaan dari absurditas: bunuh diri dan pembunuhan. Bunuh diri bisa menggiurkan bila kehidupan itu absurd dan tidak akan pernah lari dari absurd. Akan tetapi, dengan membunuh diri, orang menyerah kepada absurditas dan dengan demikian menghapuskan segala kemungkinan untuk hidup manusiawi. Pembunuhan juga termasuk kemungkinan serta cara berada manusia, tetapi pembunuhan justru akan menambah absurditas dan penderitaan orang tak berdosa. Manusia pemberontak memerangi absurditas kini dan di sini. Suatu sikap rasional tidak bisa menerima absurditas dan ingin menghancurkannya, tetapi suatu sikap absurd sebetulnya menerima yang absurd tanpa syarat karena pada akhirnya semuanya bersifat absurd. Orang beragama melarikan diri dari kesusahannya sekarang ini, mereka tidak berjuang kini dan di sini, katanya.
25. GABRIEL MARCEL, FILSUF HARAPAN
Filsafat tidak dianggapnya sebagai suatu pembuktian intelektual, melainkan sebagai pilihan yang bermakna dan kesaksian yang mencipta. “Bermakna” itu, bagi Marcel, terwujud apabila situasi-situasi fundamental saya melibatkan seluruh eksistensi saya sehingga memuaskan budi serta pikiran dan mencapai kemungkinan optimalnya. Pada tahap ini tidak muncul lagi problem-problem, melainkan misteri-misteri dengan kedalaman yang tak terselami. Dari misteri-misteri ini barangkali kita tidak memperoleh banyak kejelasan intelektual, tetapi kita akan diperkaya secara eksistensial. Lalu Gabriel Marcel berusaha merenungkan juga misteri sekitar Ada dan kesadaran ini. Ia memilih suatu pendekatan di mana kedua faktor yang terlibat di dalamnya diberi makna sepenuhnya. Marcel memilih adanya Tuhan yang personal, yang mengundang saya untuk mengadakan hubungan personal dengan-Nya. Marcel baru menggangap kehidupan saya sungguh-sungguh bermakna bila saya berdasarkan suatu refleksi eksistensial memilih Tuhan sebagai “Engkau” yang absolut, sebagai kehadiran yang mutlak.

26. TEILHARD DE CHARDIN, FILSUF PENCARI KONVERGENSI
Pertama-tama Teilhard percaya akan suatu evolusi yang total serta radikal. Keselamatan dan kesejahteraan kita semua meminta penyatuan psiko-sosial ini. Pendidikan dan terutama cinta kasih akan mendorong evolusi ini lebih jauh. Di dalam evolusi yang radikal dan total itu, ia justru menemukan suatu petunjuk kepada Allah sebagai permulaan dan akhir, sebagai Alfa dan Omega. Di dalam materi, Tuhan telah meletakan peluang untuk berkembang terus menurut proses-proses tertentu dan mahkota seluruh penciptaan evolutif ini adalah manusia.
Teilhard menolak untuk membatasi diri pada taraf manusiawi saja sebab hal itu akan berarti mendewa-dewakan manusia. Dengan demikian, Teilhard di sini menemukan kemungkinan ultim serta makna keberadaan kita sebagai suatu hubungan cinta dengan Tuhan yang bersifat personal, tidak dapat diputus, dan berlangsung abadi. Evolusi dan sejarah umat manusia dari semula menuju kepuncak ini dan akhirnya memperoleh kepenuhannya. Ajaran evolusionisme yang dimengerti dengan cara demikian dapat memberikan suatu inspirasi luar biasa untuk terjun ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif.
Evaluasi dan kesimpulan
Dalam hal ini yaitu mengenai filsafat yang memberikan suatu pandangannya tentang kehidupan manusia (ultim), yang mana dengan ultim tersebut kita dapat mencapai dari apa yang hendak dicapai yang paling akhir serta paling menetukan dari kehidupannya sebagai seorang manusia. Maka dengan itu seseorang dapat mencapai apa yang hendak dicapainya yang menentukan dalam kehidupannya yang dapat beriorietasi kepada berbagai hal dalam kehidupannya sebagai manusia. Semisalnya Kierkegaard yang memandang bahwa kemungkinan ulmit dari perspektif iman Kristianinya yang mana ulmit tersebut baru akan terjadi dalam kehidupan abadi, sesuatu hal yang dipercaya oleh iman Kristiani, tetapi ada juga yang memandang ulmit tersebut bukan dari sudut pandang Kristiani melainkan dari sudut pandang yang lain yaitu semisal Albert Casmus yang tidak mengakui adanya Tuhan, dalam pencarian ultim tersebut. Jadi melalui buku filsuf-filsuf besar tentang manusia, diperlihatkan berbagai macam pandangan dari para filsuf tentang bagaimana cara dan proses untuk mendapatkan ultim dari kehidupan manusia tersebut.

Sabtu, 27 Agustus 2011

POLIGAMI DALAM PL & PERKAWINAN SEJENIS


I.    Pendahuluan
Masalah poligami dan perkawinan sejenis sudahlah bukan hal yang asing lagi di dunia ini. Dalam agama Muslim tindakan poligami dapat dikatakan dilegalkan oleh agama tersebut, asalkan dapat bertindak adil terhadap semua istrinya. Sedangkan dalam Kristen masalah poligami sangat ditentang karena dalam agama Kristiani perkawinan hanyalah monogami bukan poligami. Dan dalam masalah perkwainan sejenis juga terdapat berbagai masalah yaitu di mana kebalikannya dalam agama Islam tindakan perkawinan sejenis sangat diharamkan baik dalam hukum agama maupun dalam hukum negara, tetapi dalam kalangan umat Kristiani tindakan perkawinan sejenis tidak memiliki kepatenan dalam menyatakan kebersalahannya karena dalam negara-negara mayoritas Kristen mengesahkan adalanya perkawinan sejenis tersebut. Lalu bagaimana perkawinan poligami dan sejenis dilihat dari kacamata PL itu sendiri. Paper ini akan membahas konsep poligami dan perkawinan sejenis.

II.   Pembahasan
II.I Terminologi
§ Poligami
Dalam Antropologi Sosial, Poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu Suami atau Istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan), sekaligus pada suatu saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya satu Suami atau Istri pada suatu saat). Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu poligami (seorang Pria memiliki beberapa Istri sekaligus), poliandri (seorang Wanita memiliki beberapa Suami sekaligus), dan pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligami dan poliandri). Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah, namum poligami merupakan bentuk yang paling umum terjadi.[1] Walaupun diperbolehkan dalam beberapa kebudayaan, poligami ditentang oleh sebagian kalangan. Terutama kaum feminis menentang poligami, karena mereka menganggap poligami sebagai bentuk penindasan kepada kaum wanita.
§ Perkawinan Sejenis
Perkawinan sejenis merupakan perkawian sejenis, missal pria dengan pria waita dengan waniita Menurut dr. Teddy Hidayat, Sp.,K.J., psikiater di RSHS Bandung, yang membuat seseorang dapat menyukai pasangannya yang sejneis ialah adanya juga rasa tertarik secara perasaan (rasa kasih sayang, hubungan emosional) dan atau secara erotik, baik secara lebih menonjol (predominan) atau semata-mata (eksklusif), terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik (jasmaniah), sama seperti halnya prempuan dengan lelaki pada umumnya.[2] Wikipedia memberi penjelasan, bahwa perkawinan sejenis menuju kepada homoseksualitas yang mengacu pada interaksi seksual dan atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Pada penggunaan muktahir, kata sifat perkawinan sejenis (homoseks/lesbi) digunakan untuk hubungan intim dan atau hubungan seksual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama.

II.II Perkawinan poligami dan sejenis ditinjau dari sosial budaya Timur Tengah Kuno
§ Poligami
Kisah mengenai penciptaan dalam Kej. 2:21-24 merupakan suatu kisah yang menyajikan pernikahan secara monogami. Poligami pertama kali terjadi ialah pada keturunan Kain yaitu Lamek yang mengambil dua istri (Kej. 4:19). Konteks poligami ialah pada zaman patriakal, Abraham menikah untuk kedua kalinya karena Sarah mandul sehingga ia menikahi Hagar dengan tujuan agar mempunyai keturunan, dan hal ini merupakan asal dari usulan Sara sendiri (Kej. 16:1-2). Dalam hukum Hammurabi seorang suami dapat dikatakan sah untuk mengambil wanita untuk menjadi istrinya jikalau istri yang pertama mandul dan juga apabila istrinya memberikan dia seorang budak sebagai selir. Tetapi dalam hal mengambil selir sang suami dapat melakukannya walupun sang istri telah mempunyai anak (keturunan), tetapi selir-selir tersebut tidak mempunyai hak-hak yang sama dengan sang istri dari suami yang mempunyai selir tersebut, dan seorang suami tidak akan mengambil selir untuk menjadi istrinya apabila istri yang pertama tidak mandul. Di dalam daerah Kirkuk dalam abad ke-15 seb M, istri yang mandul kepada suaminya untuk menyediakan satu selir untuk suaminya.[3] Di dalam semua peristiwa ini sebenarnya terdapat suatu tindakan monogami yang relatif karena setiap suami sebenarnya hanya dapat mempunyai istri tidak lebih dari satu yang sah dalam hukum menikahi istri. Tetapi pada kenyataannya pembatasan-pembatasan ini tidak selalu diperhatikan, seperti misalnya Yakub yang menikahi Lea dan Rahel yang notabene mereka aalah bersaudara kandung, dan Esau yang mempunyai tiga istri yang berasal dari kelompok yang sama (Kej. 26:34; 28:9; 36:1-5). Pada akhir millennium ke-2 seb. M, kitab undang-undang Asyur memberikan satu tempat perantara antara istri dan selir yang adalah budak kepada esirtu, atau wanita dari tempat kediaman selir-selir raja. Dan satu esirtu atau wanita dari kalangan selir-selir raja, yang mempunyai beberapa esirtu dan satu dari para esirtu tersebut dapat diangkat untuk masuk ke dalam kelompok para istri raja. Dalam budaya bangsa timur kuno tidak ada batasan untuk menentukan banyak istri yang dinikahi.   
§ Pernikahan sejenis
Dalam sejarah PL, perbuatan homoseks dilakukan juga dalam “penyembahan berhala” bahkan tampaknya diagungkan. Hal ini dapat terlihat dari sekitar ibadah Baal dan Astarte, dilakukan praktek homo baik oleh pasangan sesama lelaki maupun sesama perempuan. Perbuatan tersebut “menyesatkan” bagi penganutnya waktu itu, dan memberikan pengaruh buruk kepada umat Israel yang hidup di dekat atau di sekitar mereka. Di sinilah penekanan teologis dari homoseks bahwa ini merupakan suatu perbuatan kekejian bagi Allah dan mereka akan di hukum mati.

II.III Perkawinan poligami dan sejenis sebagai masalah teologis
§ Perkawinan poligami
Perkawinan poligami dalam hal sebagai masalah teologis ialah diawali pertama kali oleh Lamekh, generasi kelima dari Kain, yang mana dalam cerita ini terdapat penekanan yang berarti dalam hal poligami. Di mana Lamekh memilih 2 orang istri menurut kehendaknya sendiri. Dia tidak menerima istrinya dari tangan Allah melainkan mengambilnya sebagai miliknya. Di sini peran istri bukan lagi sebagai penolong yang ada di depan manusia (sederajat dengan manusia), melainkan adalah suatu milik yang atasnya ia berkuasa (bdg. Kej. 3:16b). Walau tidak diucapkan sepatah katapun yang mengecam kelakuan Lamekh, tetapi di sini terdapat nilai etis dari pengambilan akan 2 istri oleh Lamekh yaitu di mana perempuan diberlakukan dengan rendah kedudukannya, sehingga sama dengan barang, maka berlakulah perhitungan yang berikut yaitu makin banyak istri, makin kaya dan makin berpengaruh seseorang.[4] Dan dalam makna akan masalah teologis dalam tindakan poligami yang dilakukan Lamekh dengan mengambil dua orang perempuan menjadi istrinya ialah merupakan suatu pelanggaran atau melawan sabda Allah di mana Allah hanya menciptakan satu laki-laki dan satu prempuan. Masalah teologis yang lain dalam hal praktek kawin poligami ialah pada Abraham yang menikahi Hagar dikarenakan Sarah mandul saat itu. sehingga Sarah menganjurkan agar Abraham mengambil Hagar yang adalah salah satu budaknya untuk dikawini oleh Abraham. Hal yang dapat terlihat di sini yaitu dari pernikahan Abraham dan Hagar adalah kebobrokan hati Abraham yang sudah tidak lagi percaya akan janji Allah yang menyatakan bahwa keturunannya akan sebanyak pasir, atau bintang yang mana hal-hal ini dibenturkan oleh Abraham akan realitas yang berbenturan dengan janji Allah tersebut.[5]
Pada ayat 3 menjelaskan bahwa Abraham telah berada 10 tahun lamanya di Kanaan, yaitu di mana Abraham telah menunggu lama dengan sabar penepatan janji Allah, tetapi di sinilah Abraham mempunyai pikiran bahwa janji Allah tersebut tidak akan mungkin lagi terjadi. kehinaan yang dialami oleh Sara akibat kemandulannya itu menimbulkan rasa kecewa dalam persoalan yang lebih besar lagi dari penghinaan terhadap ibu yang mandul, dan hal tersebut bertentangan dengan janji Allah, di mana pokok akan janji Allah adalah keturunan, “anak kandungmu” (Kej. 15:4). Menurut hubungan ayat 3, Abraham telah menunggu 10 tahun penggenapan janji itu. Jikalau Abraham berumur 75 tahun di waktu berangkat dari Haran (Kej. 12:4b, dari sumber P), maka ia sekarang berumur 85 tahun. Permasalahan yang dihadapi makin serius antara janji Allah yang mustahil itu dan keadaan kenyataan yang di depan mata. Sara tidak dapat lagi melihat suatu kemungkinan bahwa janji Allah itu akan digenapi, Sara yang telah berumur 75 tahun itu (bdg. Kej 17:17 dengan 16:3; 12:4b) tidak akan dapat mempunyai anak lagi selamanya.[6] Dalam keadaan kecewa itu Sara mengambil inisiatif dan mencari jalan untuk memperoleh keturunan yang sah. Dan baik hukum negara maupun hukum pribadi menyediakan jalan yang sah bagi seorang istri pertama yang mandul untuk memperoleh keturunan dan ahli waris yang sah, di sini tindakan Sara itu sekali-kali tidak melanggar sopan santun melainkan merupakan jalan yang sah untuk mencari ahli waris bagi seorang istri yang pertama yang mandul.[7] Kasus teologis yang lain dalam masalah perkawinan poligami ialah menyangkut masalah Daud yang mengambil Betsyeba sebagai istrinya dari tangan Uria yang dibunuhnya secara tidak langsung. Hal yang mendasari mengapa Daud sampai melakukan suatu tindakan pembunuhan secara tidak langsung kepada Uria ialah bahwa Daud telah dikuasai oleh nafsu birahinya kepada Batsyeba, di mana di sini Daud sudah tidak mempedulikan lagi kedudukannya sebagai raja pilihan Tuhan sehingga Daud sudah tidak memikirkan hukum Allah lagi dalam kepemerintahannya, hak Uria terhadap istrinya, dan tidak mempedulikan nasib Betsyeba nanti.[8]
Efek buruk praktek poligami Daud membuat rumah tangga sendiri porak poranda, Alkitab mencatat bahwa anak-anak Daud dari istri-istrinya ribut yang mengakibatkan banyak putra Daud mati ditangan orang-orangnya Absalom, putranya Daud dari anak perempuan raja Gesur (Syria) yang ditaklukannya (2Samuel 13). Raja Daud tidak menyangka bahwa anaknya sendiri, Absalom, adalah musuh dalam selimut, berencana membunuhnya dan merencanakan dirinya sendiri raja atas Israel (pasal 15 dan 17).[9] Dan masalah teologis lainnya dalam perkawinan poligami ialah dimana terdapat kemerosotan iman dari Salomo yang menyembah dewa-dewa para istrinya tersebut. Di mana dalam hal ini Salomo memiliki 700 istri dan 300 selir. dan mereka-mereka inilah yang pada akhirnya memikat hati Salomo yang sudah tidak lagi secara penuh imannya terpaku pada Yahweh saja. Sehingga Salomo pada akhirnya jatuh pada dosa penyembahan dewa-dewa milik para istrinya yaitu dewa Asthoreth yang merupakan dewa dari Sidonians, dan dewa Milcom dari bangsa Amomonietess. Dan hal ini merupakan suatu wujud tindakan yang tidak disenangi oleh Allah.[10] Serta juga alasan-alasan lainnya atas tindakan Salomo yang mendirikan kuil untuk para dewa yang dimiliki oleh istrinya di mana hal ini dilakukan Salomo hanya untuk bertujuan menyenangkan hati para istrinya. Dalam hal ini mengapa Salomo dapat sampai menyembah dewa-dewa yang dimiliki oleh para istrinya ialah karena latar belakang istrinya yang notabene adalah para putri kerajaan dari daerah sekitar kerajaan Salomo sehingga Salomo menikahi mereka karena beralaskan politik untuk menguatkan kerjaan mereka (lih. Ul. 17:17). Dan dalam melakukan pernikahan yang banyak inilah Salomo telah masuk dalam suatu tindakan kekejian yang pertama terhadap Allah karena setiap laki-laki Israel diperintahkan untuk tidak menikahi wanita asing karena mereka akan tergoda untuk beribadat kepada ilah-ilah yang disembah oleh istrinya. Tindakan kekejian kedua yang dilakukan oleh Salomo dalam pernikahannya yang banyak terhadap para wanita asing ialah bahwa pada kenyataannya lambat laun Salomo jatuh kepada penyembahan berhala yaitu menyembah dewa-dewa milik istrinya. Dalam Alkitab, kata “kejijikan” untuk ilah-ilah asing dan pemujaan kepada mereka. Kata “toebhah”  sering dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang najis dan sungguh-sungguh menjijikan bagi Allah (Lih. Ul. 7:2).[11] Sehingga dari sinilah terdapat nilai etika Salomo bahwa salomo dalam bertindak menyembah dewa-dewa para istrinya merupakan suatu tindakan yang menjijikan di mata Allah, karena tidak melandaskan suatu tindakan yang beretika yang benar dalam melakukan penyembahan yaitu yang berpusat pada Yahweh saja.[12]
§ Pernikahan Sejenis
Tindakan perkawinan sejenis sangatlah dilarang oleh Tuhan bahkan suatu tindakan kekejian Kekejian di sini meliputi baik dari sudut agama maupun dari sudut moral. Kata yang sama dipakai lagi dalam ayat 22, 26, 27, 29, 20:13, terdapat dalam ayat 30 bentuk jamak dan diterjemahkan sebagai “sebagai suatu kebiasan yang keji”.[13] Maka dari itulah dalam kitab Imamat mencamtumkan tentang bagaimana kudusnya perkawinan tersebut sehingga dalam Im. 18:22 jangan bersetubuh dengan sesama jenis. Hal ini mempunyai masalah teologi dalam pandangan imam pada saat itu yaitu ingin mengembalikan pemikiran dan tindakan bangsa Israel yang telah terkontaminasi oleh kebudayaan sekeliling Israel yaitu bersetubuh dengan sesama jenis merupakan hal keji di mata Tuhan sehingga hal tersebut telah menentang Tuhan yang menciptakan laki-laki dan perempuan untuk kawin, hal tersebutlah yang ingin dikembalikan oleh penulis kitab Im. 18:22 ini.[14] Hal tersebut jugalah yang terlihat dalam kejadian pemusnahan Sodom oleh Allah yaitu karena masalah perkawinan sejenis yang mana orang-orang Sodom ingin memakai 2 orang yang datang kepada Lot. Di mana dalam teksnya “memakai”  ialah berhubungan dengan kata “yada” yang mencirikan pengenalan perkelaminan atau persetubuhan.[15] Atas dasar makna yang berlipat ganda dari istilah “mengenal” itulah dosa masyarakat Sodom ini sudah lama dipahamkan sebagai dosa liwat (semburit, kehomosekseksuilan). Persetebuhan sekelamin itu dinyatakan oleh Taurat Israel sebagai “kekejian” atau “kejemuan” (Im. 18:22; 20:12, 23) yang harus diganjar hukuman mati, Tuntutan-tuntutan penduduk Sodom itu merupakan suatu pelanggaran dan penghinaan kesamaan-manusia, suatu radiskriminasi yang hebat.[16]







II. IV Refleksi teologis

Poligami
Teologis
Tindakan poligami bukanlah suatu tindakan yang direstui oleh Allah, salah satu kasusnya ialah pada pernikahan Abraham dan Hagar yang mana perkawinan tersebut terjadi bukan karena prakarsa Allah melainkan dikarenakan prakarsa Sara sendiri yang sudah tidak percaya lagi akan janji Allah bahwa ia akan mempunyai anak, sehingga ia membuat keputusan sendiri tanpa mencampurtangankan Tuhan ke dalam usahanya tersebut. Sehingga tindakan poligami merupakan tindakan yang dilakukan karena mereka menghadapi situasi tertentu yang dihadapi atau juga dapat karena mereka tidak mempunyai pandangan yang baik mengenai peran dan fungsi wanita yang sebenarnya seperti yang dilakukan Lamek.
§ Etika
Melihat perempuan sebagai alat pemuas dari segala keinginan dan kebutuhan dari lelaki baik dari dalam diri lelaki tersebut maupun dari luar. Dari dalam seperti Lamek dan dari luar seperti Salomo yang ingin mempunyai suatu daerah yang sangat besar sehingga sampai hampir seluruh istrinya adalah putrid kerajaan di daearh dekat kerajaan Salomo.

Perkawinan Sejenis
§ Teologis
Perkawinan sejenis merupakan suatu tindakan yang merupakan kesalah total yang dilakukan umat pada waktu itu, hal ini dikarenakan apabila tindakan poligami diketemukan dengan cerita tentang Allah menciptakan manusia sepasang (Adam dan Hawa, bukannya Adam and Steve atau Eve and Madam). Keduanya kemudian membentuk keluarga dan menghasilkan keturunan (Kejadian 1:27-28; 2:20-25). Hasrat seksual yang sejati seperti digambarkan dalam Kejadian 4:1 adalah heteroseksual (laki laki menyukai wanita dan sebaliknya). Oleh karenanya, gereja dengan tegas tidak mentolerir hubungan sejenis (homoseks).
§ Etika
Bahwa manusia dalam hal melakukan perkawinan sejenis telah melanggar tatanan masyarakat atau norma-norma yang mengatur dalam lingkup masyarakat. Bahwa dalam hal ini sudah terdapat peraturan yang tidak tertulis dalam hal menyangkut perkawinan sejenis yang diharamkan untuk terjadi. Sehingga peran gereja ialah harus proaktif dalam menanggulangi masalah ini jangan dibiarkan begitu saja terjadi, apalagi jikalau dalam gereja tersebut terdapat jemaat yang ingin/telah melakukan perkawinan sejenis.






DAFTAR PUSTAKA

Arnold T. Bilt, Encountering The Book Of Genesis, Grand Rapids Michigan: Baker Books, 1998.

Cogan Mordechai, The Anchor Bibl 1 Kings, New York, 2001.  

Devries J. Simon, Word Biblical Commentary 1 Kings, Texas: Word Books Publisher, 1985.

Dr. Lempp Walter, Tafsiran Alkitab Kejadian 1:1-4:26; Perjanjian Lama, Jakarta:BPK, 1987.

Matthews H Victor & James Moyer, The Old Testament Text and Context, United States of Amerika: Doubleday, 1997.

Dr. Pareira A. Berthold, O. Carm, Abraham Imigran Tuhan dan Bapa Bangsa-Bangsa,
Malang: Dioma, 2004.

Pdt. Dr. Peterson M. Robert, Tafsiran Kitab Imamat, Jakarta: BPK, 1997.

Dr. Rothlisberger H, Tafsiran Alkitab 1 Samuel Perjanjian Lama, Jakarta: BPK, 1983.

Samin H. Sitohang M.Th, Kasus-Kasus Dalam Perjanjian Lama, Bandung: Kalam Hidup, 2005.

Skott R. James, Hagar Seri Umat Perjanjian, Jakarta: BPK, 2002.

Pdt. Dr. Sosipater Karel, Etika Perjanjian Lama, Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2010.

Vaux de Roland, Ancient Israel Volume 1, New York: Mc Graw-Hill Book Company, 1961.











[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexuality.
[3] Roland de Vaux, Ancient Israel Volume 1, (New York: Mc Graw-Hill Book Company, 1961), 24.
[4] Dr. Walter Lempp, Tafsiran Alkitab Kejadian 1:1-4:26; Perjanjian Lama, (Jakarta:BPK, 1987), 121.
[5] Dr. Berthold A. Pareira, O. Carm, Abraham Imigran Tuhan dan Bapa Bangsa-Bangsa, (Malang: Dioma, 2004), 87.  
[6] James R. Skott, Hagar Seri Umat Perjanjian, (Jakarta: BPK, 2002.
[7] Bilt T. Arnold, Encountering The Book Of Genesis, (Grand Rapids Michigan: Baker Books, 1998), 40.
[8] Dr. H. Rothlisberger, Tafsiran Alkitab 1 Samuel Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK, 1983), 251.
[9] Victor H Matthews & James Moyer, The Old Testament Text and Context, (United States of Amerika, 1997),106.
[10] Samin H. Sitohang M.Th, Kasus-Kasus Dalam Perjanjian Lama, (Bandung: Kalam Hidup, 2005), 19.
[11] Simon J. Devries, Word Biblical Commentary 1 Kings, (Texas: Word Books Publisher, 1985), 142.
[12]   Mordechai Cogan, The Anchor Bibl 1 Kings, (New York, 2001), 326.
[13] Pdt. Dr. Robert M. Peterson, Tafsiran Kitab Imamat, (Jakarta: BPK, 1997), 253.
[14] Pdt. Dr. Karel Sosipater, Etika Perjanjian Lama, (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2010), 135.
[15] Bilt T. Arnold, Encountering The Book Of Genesis, (Grand Rapids Michigan: Baker Books, 1998), 104.
[16] Pdt. Dr. Karel Sosipater, Etika Perjanjian Lama, (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2010), 137