Sosiologi Agama dan Arah Penelitiannya
Objek
penelitian sosiologi agama adalah masyarakat agama. Masyarakat agama mempunyai
kelompok-kelompok keagamaan misalnya Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu dan
lain-lain. Kelompok-kelompok keagamaan tersebut mempunyai kelompok-kelompoknya
lagi, misalnya Kristen terbagi atas Kristen Katolik dan Protestan yang juga
terdiri dari berbagai denominasi, demikian juga dengan Islam yang terdiri dari
Sunni, Syiah dan lain-lain. Masyarakat agama ini dipelajari perihal fungsi dan
pengaruhnya terhadap masyarakat luas, misalnya dengan mempertanyakan apa
perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh agama baik secara positif maupun
negatif. Apa peranan masyarakat agama terhadap hambatan dari modernisasi bagi
para penganutnya. Juga dipelajari tentang kerukunan baik intern (dalam
masyarakat tersebut), maupun ekstern (masyarakat agama lainnya).
Dengan melihat
hal di atas, jelas bahwa sosiologi agama tidak mempelajari dogma atau ajaran
melainkan fenomena atau fakta sosial. Misalnya jika kita berbicara mengenai
masyarakat Kristen, kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai
bagaimana pengaruh agama pada masyarakat itu atau lebih spesifik lagi, sampai
seberapa jauh agama itu mendukung ketidakadilan sosial, tingkat-tingkat sosial dalam
masyarakat atau fanatisme masyarakat. Dalam mengamati dan mempelajari semua hal
yang telah disebutkan di atas, sosiologi agama menggunakan metode-metode
penelitian secara umum misalnya observasi, wawancara, angket dan lain
sebagainya.
Sosiologi agama
menjadi suatu disiplin ilmu pada awal abad ke 19. Tokoh-tokohnya mula-mula
hanya tertarik pada agama primitif atau agama suku, namun perubahan besar
terjadi sejak kedua sosiolog ternama muncul, mereka adalah Emile Durkheim
(1858-1917) dan Max Webber (1864-1920). Kedua tokoh ini pada akhirnya sering
disebut-sebut sebagai pendiri sosiologi agama.
Tempat dan Fungsi Sosiologi Agama
Karena objek penelitian mengacu pada
sosial, bukan pada wahyu, maka sosiologi agama merupakan ilmu sekular dan bukan
ilmu sakral. Ia dapat dipelajari oleh semua orang, baik yang beragama maupun
yang tidak beragama. Sosiologi agama bukan mencari benar atau salah melainkan
mencari hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat agama itu sendiri.
Sosiologi agama sangat membantu para
pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial
keagamaan misalnya pekabaran Injil, pastoral dan lain-lain. Dalam konteks
Indonesia di mana agama sangat dominan dalam masyarakat, apalagi dengan masyarakat
yang begitu majemuk baik dari segi suku, budaya atau agama, maka sosiologi
agama akan sangat bermanfaat.
Agama dan Masyarakat
Seperti yang telah diutarakan
sebelumnya, dalam pemahaman sosiologi agama, agama tidak dilihat sebagai wahyu
melainkan hanya didasarkan atas pengalaman konkret pada suatu agama, baik pada
masa kini atau masa lampau. Maka di sini kita akan melihat bagaimana hubungan
agama dan fungsinya dalam masyarakat. Adapun tiga hal yang diperhadapkan pada
kehidupan manusia yang sangat mempengaruhi hubungan tersebut, adalah:
- Ketidakpastian
Manusia dalam kehidupannya
cenderung diarahkan pada ketidakpastian. Tanpa dapat diantisipasi dengan
maksimal, ketidakpastian tersebut datang dalam masalah-masalah kesehatan,
keberuntungan seseorang dan lain sebagainya. Bahkan pada zaman modern, berbagai
hasil dari ilmu pengetahuan hanya dapat membuat prediksi, misalnya mengenai
kapan akan terjadi tornado, namun belum ada yang bisa menghentikannya.
- Ketidakmampuan
Ketidakmampuan untuk
mencapai apa yang diharapkan, baik yang bersifat sehari-hari maupun yang
tertinggi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan manusia. Ketidakmampuan ini
dialami baik pada manusia primitif maupun manusia modern. Misalnya bagaimana
menghadapi kematian, juga berbagai bencana alam seperti topan dan lain
sebagainya. Dalam ketidakmampuan inilah manusia mencari pertolongan pada yang
di luar manusia.
- Kekurangan
Kekurangan atau
ketidakcukupan merupakan hal yang tidak lepas dari manusia sejak zaman primitif
sampai pada zaman modern. Kekurangan yang bisa menimbulkan penderitaan,
kemiskinan dan lain-lain, selalu menghantui kehidupan manusia.
Ketiga
hal berupa ketidakpastian, ketidakmampuan dan kekurangan yang dialami oleh
manusia di atas, menyebabkan manusia secara maksimal berusaha mengatasinya.
Pada pihak lain berkaitan dengan ketiga hal itu, manusia memiliki kebutuhan
mendasar untuk mendapatkan jalan keluar yang dapat memberikan manusia kehidupan
yang damai dan bahagia. Manusia ingin hidupnya damai dan bahagia baik pada saat
hidup di dunia ini, maupun di dunia lain setelah kematian, dalam rangka
mencapai kebahagiaan di dunia dan di dunia lain ini, manusia melakukan dua
usaha: [a] Usaha Non-Religius; [b] Usaha Religius.
Fungsi Agama Secara Umum
Bertolak dari berbagai ketidak
berdayaan manusia yang menimbulkan dua usaha di atas, maka dapat dirumuskan apa
yang menjadi fungsi dari agama. Berikut terdapat enam fungsi agama yang
diberikan oleh O’Dea berdasarkan analisa dari Durkheim:
- Agama sebagai dukungan, pelipur lara dan rekonsiliasi. Dukungan moral untuk menghadapi ketidakpastian, pelipur lara untuk menghadapi kekecewaan, dan rekonsiliasi.
- Agama sebagai yang menawarkan hubungan transenden, yang memberikan dasar emosional bagi manusia, sehingga manusia diberikan rasa aman dalam ketidakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia.
- Agama sebagai yang mensucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin kelompok di atas dorongan hati individu.
- Agama sebagai peninjau norma dan kondisi yang telah mapan, dalam artian bahwa agama dapat menjadi sumber protes sosial. Dalam hal ini agama juga bisa berfungsi sebaliknya dari pada fungsinya yang telah disebutkan di nomor 3 tadi.
- Agama sebagai penentu identitas. Agama dalam hal ini mempengaruhi pengertian individu tentang siapa dan apa ia?
- Agama sebagai hal yang mempengaruhi pertumbuhan kewasaan individu. Dalam hal ini perlu diteliti lebih lanjut, mengenai efek kedewasaan seperti apa yang diciptakan oleh agama. Apakah ia mendorong kedewasaan atau menghambatnya?
Fungsi Agama bagi Manusia dan Masyarakatnya
- Fungsi
Edukatif
Agama sangat berfungsi
untuk mendidik atau mengajar manusia khususnya penganutnya tentang etika dan
moral, tetang makna dan tujuan hidup, tentang ganjaran dan hukuman atas
perbuatan baik atau jahat dan lain-lain.
Tokoh pengajar utamanya
adalah nabi-nabi yang diyakini mendapatkan pengajaran-pengajarannya langsung
dari Tuhan, sehingga mutlak benar dan kemudian dilanjutkan oleh
pengajar-pengajar yang lain – misalnya pendeta, imam, kyai, dan lain sebagainya
– yang diyakini juga sebagai utusan atau hamba Tuhan, sehingga harus ditaati.
Lembaga-lembaga pendidikan agama dan sekolah umum yang didirikan lembaga agama,
biasanya sangat disukai oleh penganut-penganutnya, maupun masyarakat umum. Dan
lembaga pendidikan itu seringkali lebih baik dari lembaga pendidikan yang
didirikan oleh pemerintah.
- Fungsi
Penyelamatan
Manusia selalu mencari
kebahagiaan maupun keselamatan. Baik untuk saat ini maupun nanti. Jaminan
seperti ini dapat ditemukan dalam agama. Orang yakin hanya manusia beragama
yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan abadi. Ada dua hal penting
tentang agama dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang dapat mengantar pada
keselamatan dan kebahagiaan abadi:
- Agama membantu manusia mengenal “yang sakral” dan berkomunikasi dengannya.
- Agama sanggup memperbaiki bahkan mendamaikan kembali hubungan manusia yang berdosa dengan “yang sakral” itu.
Dalam rangka
keselamatan manusia, ada tiga hal yang diajarkan oleh agama:
a. Seorang
manusia agama yakin bahwa agama sanggup menghadirkan “yang sakral” dalam
upacara keagamaannya. Kehadiran itu dapat terjadi dengan:
i.
Secara spontan. Misalnya teofani, di mana “yang sakral”
itu sendiri yang berkenan hadir dalam lambang-lambang yang dipilihnya. Misalnya
pohon besar, jimat-jimat, tokoh-tokoh tertentu, dan lain sebagainya.
ii.
Secara diminta (dimohon). Invocativa, di mana “yang
sakral” hadir dalam lambang tertentu karena dimohon, baik melalui doa, mantera
atau hal-hal magis, dan lain sebagainya.
Dalam rangka keselamatan
(pembebasan dan penyucian), manusia sadar akan dosa dan kesalahannya, sehingga
merusak hubungannya dengan Tuhan karena dosa dan kesalahan tadi. Oleh sebab
itu, kita dapat menemukan upacara-upacara agama untuk pembebasan dan penyucian,
misalnya:
i.
Pembebasan dari roh-roh jahat, misalnya dengan mantera
atau doa-doa tertentu, menabuh gendang atau percikan-percikan air suci dan lain
sebagainya.
ii.
Penyucian, misalnya dengan air baptisan atau mandi di
sungai yang suci – misalnya sungai Gangga – atau dengan upacara-upacara
tertentu saat kelahiran, kematian peresmian gedung-gedung dan sebagainya.
iii.
Kelahiran kembali. Manusia beragama menyadari bahwa
manusia dan dunia – karena ulah manusia yang berdosa – sedang menuju pada
kehancuran. Untuk itu, diperlukan pemulihan, sehingga dilaksanakanlah
upacara-upacara pemulihan atau pembaharuan, atau kelahiran kembali. Dalam
upacara itu biasanya dilakukan pengorbanan, umumnya binatang, namun dapat juga
manusia, yang melambangkan pemusnahan atau kematian. Dengan memusnahkan atau
mematikan itu maka dimungkinkan sebuah kelahiran kembali atau pembaharuan
total. Hal ini pada agama-agama atau kepercayaan primitif juga dilakukan dengan
pemusnahan tertentu tentang barang-barang lama, misalnya pada Tahun Baru, orang
membuang piring dan sebagainya, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang baru,
misalnya dengan obor, kembang api, lentera yang menyimbolkan terang dan
lain-lain.
- Fungsi
Pengawasan Sosial (Social Control)
Manusia menyadari bahwa
pelanggaran terhadap norma-norma umum yang berlaku dalam sebuah kelompok
masyarakat, dapat mempersulit bahkan menghancurkan kelompok itu. dalam situasi
ini, agama dapat berfungsi untuk:
- Fungsi pengawasan sosial
Dalam sebuah masyarakan,
demi kebaikan hidup bersama, selalu ada norma atau ketentuan-ketentuan yang
harus dipelihara berdasarkan norma-norma tersebut. Norma-norma moral itu
diwarisi secara turun-temurun yang kadang-kadang dipercayai sebagai sesuatu
yang berasal dari Tuhan. Hal itu adalah hukum adat.
Pelanggaran terhadap hukum
adat dapat merusak kehidupan manusia. hukum adat dapat mencakup seluruh
kehidupan, misalnya pernikahan, pertanian, panen, membangun rumah dan lain
sebagainya. Orang yang mengawasi pelaksanaan hukum adat tadi, seringkali kepala
suku adat yang kadang-kadang sudah seperti agama, dapat mengawasi kehidupan
masyarakat untuk taat kepada tatanan sosial, sehingga dapat mewujudkan
masyarakat yang harmonis dan tentu juga baik.
- Fungsi kritis (kenabian)
Semua agama mengajarkan
dan mempunyai fungsi kritis terhadap masyarakat agama melalui tokohnya atau
penganutnya. Bukan saja bisa tetapi terkadang harus melaksanakan fungsi kritis
tadi, demi kebaikan masyarakat dan lingkungannya dan melaksanakan fungsi kritis
di mana dia berbicara. Fungsi kritis tersebut disebut juga fungsi kenabian.
- Fungsi
Memupuk Persaudaraan
Tidak dapat disangkal
bahwa banyak permusihan dan peperangan terjadi karena agama, misalnya Perang
Salib, dunia Pakistan waktu lampau, Ambon dan Poso dan lain-lain. Tetapi kalau
kita sungguh-sungguh kritis, sebenarnya kesemuanya tidak disebabkan oleh agama,
hal ini kebanyakan disebabkan oleh masalah ekonomi, adu domba dan lain-lain.
Sekalipun agama berpotensi untuk menimbulkan perang tetapi agama sebenarnya
lebih jelas sebagai pemupuk persatuan dan kesatuan manusia. Hal itu terutama
terlihat dari bentuk persatuan dan kesatuan dari pemeluk agama itu sendiri,
juga dari agama-agama lain. Misalnya dengan keyakinan bahwa manusia adalah
sama-sama umat Tuhan, dan adanya panggilan untuk berbuat baik terhadap semua
manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar