Selasa, 10 Juli 2012


Sosiologi Agama dan Arah Penelitiannya
Objek penelitian sosiologi agama adalah masyarakat agama. Masyarakat agama mempunyai kelompok-kelompok keagamaan misalnya Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain. Kelompok-kelompok keagamaan tersebut mempunyai kelompok-kelompoknya lagi, misalnya Kristen terbagi atas Kristen Katolik dan Protestan yang juga terdiri dari berbagai denominasi, demikian juga dengan Islam yang terdiri dari Sunni, Syiah dan lain-lain. Masyarakat agama ini dipelajari perihal fungsi dan pengaruhnya terhadap masyarakat luas, misalnya dengan mempertanyakan apa perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh agama baik secara positif maupun negatif. Apa peranan masyarakat agama terhadap hambatan dari modernisasi bagi para penganutnya. Juga dipelajari tentang kerukunan baik intern (dalam masyarakat tersebut), maupun ekstern (masyarakat agama lainnya).
Dengan melihat hal di atas, jelas bahwa sosiologi agama tidak mempelajari dogma atau ajaran melainkan fenomena atau fakta sosial. Misalnya jika kita berbicara mengenai masyarakat Kristen, kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana pengaruh agama pada masyarakat itu atau lebih spesifik lagi, sampai seberapa jauh agama itu mendukung ketidakadilan sosial, tingkat-tingkat sosial dalam masyarakat atau fanatisme masyarakat. Dalam mengamati dan mempelajari semua hal yang telah disebutkan di atas, sosiologi agama menggunakan metode-metode penelitian secara umum misalnya observasi, wawancara, angket dan lain sebagainya.
Sosiologi agama menjadi suatu disiplin ilmu pada awal abad ke 19. Tokoh-tokohnya mula-mula hanya tertarik pada agama primitif atau agama suku, namun perubahan besar terjadi sejak kedua sosiolog ternama muncul, mereka adalah Emile Durkheim (1858-1917) dan Max Webber (1864-1920). Kedua tokoh ini pada akhirnya sering disebut-sebut sebagai pendiri sosiologi agama.
Tempat dan Fungsi Sosiologi Agama
            Karena objek penelitian mengacu pada sosial, bukan pada wahyu, maka sosiologi agama merupakan ilmu sekular dan bukan ilmu sakral. Ia dapat dipelajari oleh semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama. Sosiologi agama bukan mencari benar atau salah melainkan mencari hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat agama itu sendiri.
            Sosiologi agama sangat membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial keagamaan misalnya pekabaran Injil, pastoral dan lain-lain. Dalam konteks Indonesia di mana agama sangat dominan dalam masyarakat, apalagi dengan masyarakat yang begitu majemuk baik dari segi suku, budaya atau agama, maka sosiologi agama akan sangat bermanfaat.
Agama dan Masyarakat
            Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, dalam pemahaman sosiologi agama, agama tidak dilihat sebagai wahyu melainkan hanya didasarkan atas pengalaman konkret pada suatu agama, baik pada masa kini atau masa lampau. Maka di sini kita akan melihat bagaimana hubungan agama dan fungsinya dalam masyarakat. Adapun tiga hal yang diperhadapkan pada kehidupan manusia yang sangat mempengaruhi hubungan tersebut, adalah:
  1. Ketidakpastian
Manusia dalam kehidupannya cenderung diarahkan pada ketidakpastian. Tanpa dapat diantisipasi dengan maksimal, ketidakpastian tersebut datang dalam masalah-masalah kesehatan, keberuntungan seseorang dan lain sebagainya. Bahkan pada zaman modern, berbagai hasil dari ilmu pengetahuan hanya dapat membuat prediksi, misalnya mengenai kapan akan terjadi tornado, namun belum ada yang bisa menghentikannya.
  1. Ketidakmampuan
Ketidakmampuan untuk mencapai apa yang diharapkan, baik yang bersifat sehari-hari maupun yang tertinggi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan manusia. Ketidakmampuan ini dialami baik pada manusia primitif maupun manusia modern. Misalnya bagaimana menghadapi kematian, juga berbagai bencana alam seperti topan dan lain sebagainya. Dalam ketidakmampuan inilah manusia mencari pertolongan pada yang di luar manusia.
  1. Kekurangan
Kekurangan atau ketidakcukupan merupakan hal yang tidak lepas dari manusia sejak zaman primitif sampai pada zaman modern. Kekurangan yang bisa menimbulkan penderitaan, kemiskinan dan lain-lain, selalu menghantui kehidupan manusia.
Ketiga hal berupa ketidakpastian, ketidakmampuan dan kekurangan yang dialami oleh manusia di atas, menyebabkan manusia secara maksimal berusaha mengatasinya. Pada pihak lain berkaitan dengan ketiga hal itu, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk mendapatkan jalan keluar yang dapat memberikan manusia kehidupan yang damai dan bahagia. Manusia ingin hidupnya damai dan bahagia baik pada saat hidup di dunia ini, maupun di dunia lain setelah kematian, dalam rangka mencapai kebahagiaan di dunia dan di dunia lain ini, manusia melakukan dua usaha: [a] Usaha Non-Religius; [b] Usaha Religius.
Fungsi Agama Secara Umum
            Bertolak dari berbagai ketidak berdayaan manusia yang menimbulkan dua usaha di atas, maka dapat dirumuskan apa yang menjadi fungsi dari agama. Berikut terdapat enam fungsi agama yang diberikan oleh O’Dea berdasarkan analisa dari Durkheim:
  1. Agama sebagai dukungan, pelipur lara dan rekonsiliasi. Dukungan moral untuk menghadapi ketidakpastian, pelipur lara untuk menghadapi kekecewaan, dan rekonsiliasi.
  2. Agama sebagai yang menawarkan hubungan transenden, yang memberikan dasar emosional bagi manusia, sehingga manusia diberikan rasa aman dalam ketidakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia.
  3. Agama sebagai yang mensucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin kelompok di atas dorongan hati individu.
  4. Agama sebagai peninjau norma dan kondisi yang telah mapan, dalam artian bahwa agama dapat menjadi sumber protes sosial. Dalam hal ini agama juga bisa berfungsi sebaliknya dari pada fungsinya yang telah disebutkan di nomor 3 tadi.
  5. Agama sebagai penentu identitas. Agama dalam hal ini mempengaruhi pengertian individu tentang siapa dan apa ia?
  6. Agama sebagai hal yang mempengaruhi pertumbuhan kewasaan individu. Dalam hal ini perlu diteliti lebih lanjut, mengenai efek kedewasaan seperti apa yang diciptakan oleh agama. Apakah ia mendorong kedewasaan atau menghambatnya?
Fungsi Agama bagi Manusia dan Masyarakatnya
  1. Fungsi Edukatif
Agama sangat berfungsi untuk mendidik atau mengajar manusia khususnya penganutnya tentang etika dan moral, tetang makna dan tujuan hidup, tentang ganjaran dan hukuman atas perbuatan baik atau jahat dan lain-lain.
Tokoh pengajar utamanya adalah nabi-nabi yang diyakini mendapatkan pengajaran-pengajarannya langsung dari Tuhan, sehingga mutlak benar dan kemudian dilanjutkan oleh pengajar-pengajar yang lain – misalnya pendeta, imam, kyai, dan lain sebagainya – yang diyakini juga sebagai utusan atau hamba Tuhan, sehingga harus ditaati. Lembaga-lembaga pendidikan agama dan sekolah umum yang didirikan lembaga agama, biasanya sangat disukai oleh penganut-penganutnya, maupun masyarakat umum. Dan lembaga pendidikan itu seringkali lebih baik dari lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah.
  1. Fungsi Penyelamatan
Manusia selalu mencari kebahagiaan maupun keselamatan. Baik untuk saat ini maupun nanti. Jaminan seperti ini dapat ditemukan dalam agama. Orang yakin hanya manusia beragama yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan abadi. Ada dua hal penting tentang agama dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang dapat mengantar pada keselamatan dan kebahagiaan abadi:
    1. Agama membantu manusia mengenal “yang sakral” dan berkomunikasi dengannya.
    2. Agama sanggup memperbaiki bahkan mendamaikan kembali hubungan manusia yang berdosa dengan “yang sakral” itu.
Dalam rangka keselamatan manusia, ada tiga hal yang diajarkan oleh agama:
a.      Seorang manusia agama yakin bahwa agama sanggup menghadirkan “yang sakral” dalam upacara keagamaannya. Kehadiran itu dapat terjadi dengan:
                                                        i.            Secara spontan. Misalnya teofani, di mana “yang sakral” itu sendiri yang berkenan hadir dalam lambang-lambang yang dipilihnya. Misalnya pohon besar, jimat-jimat, tokoh-tokoh tertentu, dan lain sebagainya.
                                                      ii.            Secara diminta (dimohon). Invocativa, di mana “yang sakral” hadir dalam lambang tertentu karena dimohon, baik melalui doa, mantera atau hal-hal magis, dan lain sebagainya.
Dalam rangka keselamatan (pembebasan dan penyucian), manusia sadar akan dosa dan kesalahannya, sehingga merusak hubungannya dengan Tuhan karena dosa dan kesalahan tadi. Oleh sebab itu, kita dapat menemukan upacara-upacara agama untuk pembebasan dan penyucian, misalnya:
                                                        i.            Pembebasan dari roh-roh jahat, misalnya dengan mantera atau doa-doa tertentu, menabuh gendang atau percikan-percikan air suci dan lain sebagainya.
                                                      ii.            Penyucian, misalnya dengan air baptisan atau mandi di sungai yang suci – misalnya sungai Gangga – atau dengan upacara-upacara tertentu saat kelahiran, kematian peresmian gedung-gedung dan sebagainya.
                                                    iii.            Kelahiran kembali. Manusia beragama menyadari bahwa manusia dan dunia – karena ulah manusia yang berdosa – sedang menuju pada kehancuran. Untuk itu, diperlukan pemulihan, sehingga dilaksanakanlah upacara-upacara pemulihan atau pembaharuan, atau kelahiran kembali. Dalam upacara itu biasanya dilakukan pengorbanan, umumnya binatang, namun dapat juga manusia, yang melambangkan pemusnahan atau kematian. Dengan memusnahkan atau mematikan itu maka dimungkinkan sebuah kelahiran kembali atau pembaharuan total. Hal ini pada agama-agama atau kepercayaan primitif juga dilakukan dengan pemusnahan tertentu tentang barang-barang lama, misalnya pada Tahun Baru, orang membuang piring dan sebagainya, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang baru, misalnya dengan obor, kembang api, lentera yang menyimbolkan terang dan lain-lain.
  1. Fungsi Pengawasan Sosial (Social Control)
Manusia menyadari bahwa pelanggaran terhadap norma-norma umum yang berlaku dalam sebuah kelompok masyarakat, dapat mempersulit bahkan menghancurkan kelompok itu. dalam situasi ini, agama dapat berfungsi untuk:
    1. Fungsi pengawasan sosial
Dalam sebuah masyarakan, demi kebaikan hidup bersama, selalu ada norma atau ketentuan-ketentuan yang harus dipelihara berdasarkan norma-norma tersebut. Norma-norma moral itu diwarisi secara turun-temurun yang kadang-kadang dipercayai sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan. Hal itu adalah hukum adat.
Pelanggaran terhadap hukum adat dapat merusak kehidupan manusia. hukum adat dapat mencakup seluruh kehidupan, misalnya pernikahan, pertanian, panen, membangun rumah dan lain sebagainya. Orang yang mengawasi pelaksanaan hukum adat tadi, seringkali kepala suku adat yang kadang-kadang sudah seperti agama, dapat mengawasi kehidupan masyarakat untuk taat kepada tatanan sosial, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang harmonis dan tentu juga baik.
    1. Fungsi kritis (kenabian)
Semua agama mengajarkan dan mempunyai fungsi kritis terhadap masyarakat agama melalui tokohnya atau penganutnya. Bukan saja bisa tetapi terkadang harus melaksanakan fungsi kritis tadi, demi kebaikan masyarakat dan lingkungannya dan melaksanakan fungsi kritis di mana dia berbicara. Fungsi kritis tersebut disebut juga fungsi kenabian.
  1. Fungsi Memupuk Persaudaraan
Tidak dapat disangkal bahwa banyak permusihan dan peperangan terjadi karena agama, misalnya Perang Salib, dunia Pakistan waktu lampau, Ambon dan Poso dan lain-lain. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh kritis, sebenarnya kesemuanya tidak disebabkan oleh agama, hal ini kebanyakan disebabkan oleh masalah ekonomi, adu domba dan lain-lain. Sekalipun agama berpotensi untuk menimbulkan perang tetapi agama sebenarnya lebih jelas sebagai pemupuk persatuan dan kesatuan manusia. Hal itu terutama terlihat dari bentuk persatuan dan kesatuan dari pemeluk agama itu sendiri, juga dari agama-agama lain. Misalnya dengan keyakinan bahwa manusia adalah sama-sama umat Tuhan, dan adanya panggilan untuk berbuat baik terhadap semua manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar