Senin, 22 Agustus 2011

“YESUS SUMBER CAHAYA KEBENARAN HIDUP ORANG PERCAYA


I.     Pendahuluan
Brown mengatakan bahwa teks Yoh. 8:31-10:21 adalah Teks narasi Yohanes 8:31-10:21 akan lebih hidup jika dibaca dengan pembacaan naratif. Pembacaan naratif adalah sebuah metode di mana karakter sebagai pemembawa tema atau pesan dari teks itu sendiri. Pembacaan naratif sendiri berusaha menjelaskan hubungan antara “apa dan bagaimana”. Oleh sebab itu untuk dapat menjelaskan keduanya maka ada delapan langkah yang digunakan dalam pembacaan naratif teks ini. [1]
II.  Pembahasan
2.1    Relasi Intratekstual
Teks Yohanes 8:31-10:21 merupakan satu unit narasi. Jika demikian apa bukti bahwa ini merupakan suatu unit narasi yang memiliki relasi satu sama lain dan mencakup secara keseluruhan dalam teks Yohanes itu sendiri. Dalam pengakuan Yesus sendiri sangat jelas memperlihatkan bahwa Dia adalah “sumber kebenaran dalam kehidupan orang percaya” , perhatikan frasa avlh,qeian kai. h` avlh,qeia (kebenaran), Yoh 8:32,  avlh,qeian (kebenaran), Yoh 9:45, Istilah yang berbeda dengan maksud sama juga terdapat dalam Yoh 8: 55 e;somai o[moioj u`mi/n yeu,sthj\ avlla. oi=da auvto.n kai. to.n lo,gon auvtou/ thrw/Å (“Aku adalah pendusta”) Yoh 9:31  avllV eva,n tij qeosebh.j h=| kai. to. qe,lhma auvtou/ poih/| tou,tou avkou,ei (saleh dan melakukan kehendakNya), perkataan Yesus lainnya yang menunjuk kepada bahwa Ia adalah sumber cahaya kebenaran dalam kehidupan adalah Yoh 10:4  kai. ta. pro,bata auvtw/| avkolouqei/( o[ti oi;dasin th.n fwnh.n auvtou/\ (dan domba-dombanya itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya), hal ini dipertegas dengan kalimat dibahwahnya yaitu pada Yoh 10:8 pa,ntej o[soi h=lqon Îpro. evmou/Ð kle,ptai eivsi.n kai. lh|stai,( avllV ouvk h;kousan auvtw/n ta. pro,bataÅ (semua orang yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka), maka dari kedua kalimat dalam Injil Yoh 10:4,8 merupakan suatu perkataan Yesus yang implisit (tersirat) bahwa ia adalah sumber cahaya kebenaran dalam kehidupan ini dengan membandingkan dirinya dengan pencuri. Maka dengan demikian maka jelaslah bahwa “Yesus adalah “sumber cahaya kebenaran bagi kehidupan orang percaya”.
2.2    Desain Literer (Literary Design)
Ketika kita membaca dan melihat kesaksian protagonis dalam narasi Yoh. 8:31-10:21, maka kita mendapatkan desain literer sebagai berikut:
(A)    8:31-58 Kesaksian tentang dirinya melalui perkataan
(B)     8:59 Seluruh orang-orang yang mendengarkan marah (efek pertama)
(C)     9:1-41 Kesaksian melalui tindakan
(A)    10:1-20 Kesaksian melalui pengajaran
(C)  10:21 Banyak orang yang menjadi percaya (efek kedua)
Dari desain literer teks narasi Yohanes 7:1-8:30 terdiri atas 5 (lima) bagian, yang disusun berdasarkan kesejajaran dari teks itu sendiri. Pasal (8:21-58) sejajar dengan pasal (9:1-41), pasal (8:59) sejajar dengan pasal (10:21) dan kesaksian melalui tindakan (9:1-41) berdiri sendiri. Desain literer ini memberikan dukungan yang sangat kuat atas tema besar di atas, yaitu “Yesus sumber kebenaran hidup Orang Percaya”. Hal itu terlihat dalam hidup-Nya, pengajaran-Nya dan karya-Nya. Permulaan kesaksian tentang protagonis diawali dengan perdebatan terhadap orang-orang Yahudi mengenai kebenaran yang memerdekakan dalam kontes Yesus dan Abraham (8:31-59), kemudian dilanjutkan dengan penyembuhan orang buta sejak lahirnya (9:1-40), serta dilanjutkan lagi dengan pengajaran mengenai gembala yang baik (10:21). Dalam pengajaran-Nya, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah sumber kebenaran bagi mereka yang percaya kepadaNya. “maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya; “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu adalah benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31-32). Perkataan ini juga ingin mengatakan bahwa Dia diutus oleh Bapa untuk memberitakan kepada semua orang percaya “Akulah Kebenaran”. Dalam pengajaran-Nya tentang kebenaran banyak juga yang percaya, tetapi serentak dengan itu banyak juga yang menolak-Nya. Dikatakan dalam 10:21 “di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya”. Ketika Yesus mengajar mengenai gembala yang baik yaitu setelah melakukan penyembuhan kepada orang buta mereka orang Yahudi banyak yang heran terhadap perkataan (ajaran) serta tindakan muzizat penyembuhan terhadap orang buta yang dibuatNya hal ini disebabkan karena Yesus, tidak belajar tapi memiliki pengetahuan yang mungkin lebih brilian dari apa yang mereka pahami bahkan tindakan muzizat yang tidak dapat mereka perbuat yaitu menyembuhkan orang buta seperti dalam yoh 10:21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?
Dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin Mesianis Yesus memperlihatkan beberapa hal yang disampaikan lewat kesaksian pengajaran dan kesaksian perkataan-Nya: (a). Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah (8:3), (b). Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. 8:42, (c). “mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku” (9:4), (d). “sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa” (10:15), (e). “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali” (10:17).
2.3    Latar (Setting)
Untuk menentukan latar (setting) dari teks Yohanes 8:31-10:21 ini maka ada tiga hal yang harus kita perhatikan dengan cermat: pertama, setting sparsialnya yang menyangkut tempat di mana Yesus berada dan kemana ia pergi. Yang kedua, setting temporalnya, yaitu menyangkut perubahan suasana dalam teks itu sendiri. Dan yang terakhir adalah setting kultural, yaitu menyangkut upacara kebudaya, seperti hari-hari raya.
a.        Sparsial (Tempat)
§ Bait Allah (8:2, 20, 59)
§ Di jalan (9:1), yaitu di mana pada saat itu Yesus sudah keluar dari Bait Allah, jadi Yesus berada di luar Bait Allah.[2] 
§ Kolam Siloam (9:7)
§ Di jalan (10:19, 20, 21), walaupun tidak terlihat jelas di mana Yesus berada saat itu tapi terdapat hal yang memastikan bahwa Yesus berada di jalan yaitu di luar Bait Allah.[3]
b.        Temporal (suasana/waktu)
§ Pagi-pagi benar (8:2)
§ Waktu Yesus sedang mengajar di Bait Allah (8:2, 20)
§ Waktu Yesus sedang lewat (di jalan) (9:1)
§ Pertentangan di antara orang-orang Yahudi (10:21)
c.          Cultural (budaya)
§ Hari sabat (9:14)
§ Gembala (10:2)[4]
Bagian pertama dari narasi Yoh 8:31-59 memuat suatu latar terhadap suatu peristiwa yang berangkaian antara satu dengan yang lain. Latar tersebut ialah di Bait Allah di Yerusalem yang digunakan tempat protagonist mengajar orang-orang Yahudi tentang kitab Taurat (kebenaran), sehingga mereka terheran-heran dan bahkan percaya karena protagonist tetapi di satu sisi tokoh protagonis ini juga memicu kemarahan bagi para pemimpin agama Yahudi, orang-orang farisi, dan orang-orang Yahudi, karena tokoh protagonist ini menyatakan bahwa dirinya melebihi Abraham, Sehingga ini juga menjadi pemicu kemarahan mereka untuk membunuh tokoh protagonist ini dengan melemparinya dengan batu.
Bagian kedua narasi Yoh. 8:59 memberikan informasi atas efek dari pengajaran protagonis yang di Bait Allah di Yerusalem yang dituliskan di bagian pertama tadi yaitu mengenai dirinya yaitu tokoh protagonist yang melebihi Abraham bapa bangsa Yahudi sehingga membuat efek marah bagi bangsa Yahudi terhadap tokoh protagonist.
Bagian ketiga narasi Yoh. 9:1-41 memuat kesaksian tindakan protagonis dengan latar yang sudah berbeda, yaitu di luar  Bait Allah di Yerusalem.
Bagian keempat Yoh. 10:1-20, memuat pengajaran protagonis yang mengatakan bahwa diri-Nya adalah gembala yang baik yang menuntun domba-dombanya dalam suara kebenaran. Tidak seperti pencuri dan perampok yang datang sebelum protagonis.
Bagian kelima atau yang terakhir Yoh. 10:21 memuat efek dari perkataan protagonis, dikatakan bahwa “banyak terjadi pertentangan di antara orang Yahudi” dalam hal pertentangan di sini terdapat bagian orang yang menjadi percaya kepada Yesus (tokoh protagonist).
10:19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 10:20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 10:21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"
Dari penjelasan di atas memperlihatkan bahwa tokoh protagonis dominan menggunakan Bait Allah sebagai tempat pengajaran dan perkataan-Nya, walaupun tokoh protagonis ini tidak selalu ada dalam Bait Allah tetapi tokoh protagonis ini juga masih berada di area Bait Allah yaitu di luar Bait Allah. Hal ini didukung karena saat itu bertepatan dengan hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.
Seperti yang dijelaskan pada bagian desain di atas bahwa protagonis selalu konsisten dalam pengajaran dan perkataan-Nya, yaitu (a). Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah (8:3), (b). Kata Yesus kepada mereka:Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. 8:42, (c). “mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku” (9:4), (d). “sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa” (10:15), (e). “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali” (10:17).
2.4    Narator dan Sudut Pandang
Dalam teks narasi Yohanes 8:31-10:21, narator yang paling dominan adalah dalam bentuk orang ketiga tunggal, yaitu :Elegen ou=n o` VIhsou/j pro.j tou.j pepisteuko,taj auvtw/| (8:31). Namun meskipun demikian, narator tetap bertindak secara aktif yang tidak terlihat langsung memberikan arahan atau bimbingan kepada pembacanya supaya masuk dan menyatu dengan alam pikiran, maksud dan tujuan protagonis yang tertutup sehingga dapat dimengerti (lih. 10:6= Tau,thn th.n paroimi,an ei=pen auvtoi/j o` VIhsou/j( evkei/noi de. ouvk e;gnwsan ti,na h=n a] evla,lei auvtoi/jÅ) Sehingga ketika pembaca mengikuti petunjuk atau arahan dari narator, maka cerita itu dapat dimengerti atau dipahami. Selanjutnya narator secara aktif berperan mengerakan karakter-karakter untuk menghidupkan ceritanya, secara sistematis ia mengiring dan mendampingi pembacanya untuk memperhatikan dengan teliti dari karakter-karakter yang diajaknya untuk bekerja sama, sehingga membentuk sebuah drama yang hidup, tidak menoton, serta tidak membosankan pembacanya. Narator memberi penjelasan atau menguraikan secara panjang lebar tentang Yesus kepada narati mengenai siapa Yesus, yaitu dari sisi hidup-Nya, pengajaran-Nya dan karya-Nya. Dari sutut pandang narator, Yesus merupakan seorang tokoh yang bijaksana dan sabar menunggu kehendak Bapa-Nya. Ia begitu menyadari bahwa Ia adalah utusan Bapa, maka harus memberitakan tentang Bapa dan atas kehendak Bapa-Nya.
Narator juga dengan sangat jujur mengatakan bahwa terdapat dua respon yang diperlihatkan orang-orang Yahudi terhadap perkataan, perbuatan, serta pengajaran Yesus yaitu terdapatnya pertentangan di antara orang-orang Yahudi tersebut karena hal di atas (10:21). Narator mengamati apa yang Yesus lakukan dan katakan, yaitu Yesus sedang lewat, Ia melihat orang buta (9:1), narator tahu bahwa Yesus setelah berkata-kata, Yesus meludah ke tanah dan mengaduk ludahNya itu ke tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi. Kemudian Yesus mendengar orang buta tersebut telah di usir keluar dari Bait Allah, lalu bertemu dengan orang buta tersebut yang telah diusir keluar dari Bait Allah (9:35). Walaupun pada hal ini yaitu saat Yesus meninggalkan Bait Allah (8:59), narator tidak mencantumkan dengan jelas di mana letak posisi Yesus pada waktu itu, tetapi kemungkinan yang dapat dilihat akan letak posisi Yesus saat itu adalah pertama pada saat Yesus bertemu dengan orang buta dan menyembuhkannya, di mana hal ini menurut tradisi Yahudi memang orang buta, pengemis, dan orang-orang terbuang dari golongan Yahudi berada di luar Bait Allah untuk meminta belas kasihan dari orang yang keluar dari Bait Allah.[5] Kedua, 9:35 saat Yesus mendengar orang buta tersebut telah diusir keluar oleh mereka dari Bait Allah dan Yesus bertemu dengan orang buta tersebut, sehingga hal ini menimbulkan bahwa Yesus masih dalam lingkungan sekitar Bait Allah (di luar Bait Allah), di tempat ini jugalah Yesus memberikan pengajaran mengenai gembala yang baik sehingga dapat didengar oleh orang-orang Yahudi yang pada akhirnya menimbulkan pertentangan antara mereka sendiri. Maka dari sinilah narator secara implisit selalu mengikuti di mana posisi letak Yesus berada. Narator berpihak penuh kepada Yesus, mereka mengambil batu untuk melempari Yesus tetapi Yesus langsung menghilang dan meninggalkan Bait Allah (8:59). memberitahukan efek pengajaran-Nya: Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia (8:59), kata-kata itu didengar oleh beberapa orang farisi di situ (9:41), maka timbulah pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu (10:21). Semua itu diberitahukan oleh narator. Apapun yang Yesus lakukan, pikirkan dan apapun yang orang banyak, pemimpin-pemimpin Agama Yahudi, orang Farisi ingin lakukan semuanya tidak terlewatkan dari pengematan narator. Oleh sebab itu, Armand Barus mengatakan bahwa narator adalah mahatahu dalam dunia teks.
2.5    Karakter dan Karakterisasi
Jika kita membaca teks Yohanes 8:31-10:21 ini, maka kita akan menemukan berbagai karakter dengan karakterisasi yang berbeda-beda juga. Dari sekian banyak karakter yang ada didalamnya tentu ada yang menjadi sorotan baik dari narator maupun dari karakter-karakter lain, entah itu yang bersifat pro maupun yang bersifat kontra dan ada pula yang bersifat netral. Oleh sebab itu, baik karakter yang menjadi sorotan utama maupun karakter-karakter yang lainnya berperan penting dalam metode naratif. Artinya tidak ada karakter yang terabaikan, baik yang pro maupun yang kontra. Karena melalui berbagai karakter itulah kita bisa mendapatkan tema-tema kecil atau tema masing-masing dari tiap-tiap karakter, yang akhirnya nanti membentuk tema besar dari teks itu sendiri. Adapun yang harus diperhatikan dari tiap-tiap karakter yang ada dalam teks Yohanes 8:31-10:21 ini adalah dari sudut “showing” dan “telling”. Showing adalah melihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan oleh karakter itu sendiri. Sedangkan telling adalah informasi yang didapatkan karakter-karakter yang lain (apa yang dikatakan oleh karakter lain tentang dirinya). Karakter dan karakterisasi dalam teks Yohanes 8:31-10:21 adalah campuran dari karakter langsung (“showing”) atau karakter secara tidak langsung (“telling”) maupun dari narator itu sendiri. Karakter itu juga terdiri atas kerakter tunggal dan karakter kelompok. Karakter tunggal adalah Yesus, dan orang buta. Sedangkan karakter kelompok adalah orang Yahudi, orang banyak, orang Farisi, imam-imam kepala, orang tua si orang buta tersebut, dan tetangga-tetangga.
Dari karakter-karakter yang ada dalam teks itu sendiri akan dibahas atau diuraikan perkarakter (satu per satu), yaitu:
a.  Yesus
Dalam teks Yohanes 8:31-10:21 secara showing memberikan informasi Yesus adalah utusan Allah. Yesus mengatakan bahwa Dia keluar dan datang dari Allah, bukan datang karena kehendakNya sendiri (8:42) kemudian diulang kembali dalam ayat (8:47). Ungkapan itu mengindikasikan bahwa Ia (Yesus) sedang menyatakan kebenaran bahwa Ia berasal dari kebenaran yang diimani oleh bangsa Yahudi waktu ia yaitu Allah. Yesus di benci oleh Dunia karena mengajarkan kebenaran (8:40), berasal dari Bapa (8:55), Yesus ingin memperkenalkan Bapa yang mengutus Dia melalui ajaran-Nya, sehingga siapa yang melakukan kehendak Allah berarti mengenal ajaran-Nya (8:43), Artinya siapa yang tidak memberitakan tentang Allah berarti mencari hormat (8:54). Namun perkataan itu membuat orang Farisi, pemimpin agama, penjaga Bait Allah membenci-Nya dan bahkan berusaha membunuh-Nya. Dia mengatakan bahwa siapa yang berusaha membunuh-Nya berarti tidak termasuk anak-anak Abraham dan tidak berasal dari Allah (8:40,47). Hal ini memperlihatkan juga kepada kita bahwa para pemimpin agama, orang Farisi maupun yang berusaha membunuh Dia tidak memahami esensi dari hukum Taurat itu sendiri, melainkan hanya secara hurufiah. Mereka yang mendengar pengajaranNya marah dan mau melempariNya dengan batu (8:59). Peranan Yesus sebagai utusan Allah sangat jelas dari terlihat dan bahkan Ia sendiri mengatakan bahwa Ia utusan Bapa. Yesus tidak hanya sebagai utusan Bapa, tetapi dalam pengajaranNya, dalam karyaNya dan dalam hidupNya memperlihatkan bahwa Ia juga adalah seorang hakim yang diutus oleh Allah, bahkan Yesus sendiri mengatakan hal tersebut (8:50). Mereka dari orang farisi yang melihat tindakan muzizatnya dalam menyembuhkan orang buta menjadi heran (9:16). Akan tetapi meskipun mereka adalah ahli Taurat, tetapi mereka tidak mengerti dengan baik. Buktinya adalah Mereka juga marah ketika orang buta tersebut bersaksi di hadapan orang-orang farisi tersebut mengenai muzizat kesembuhan yang diterimanya (9:34), sehingga dengan hal ini orang farisi adalah orang buta (9:40-41). Tindakan Yesus sebagai Gembala yang baik begitu tenang dan bijaksana, Dia tidak seperti pencuri atau perampok yang memanjat tembok melainkan masuk melalui pintu (10:1-2), suaranya dikenal oleh domba-dombanya tidak seperti seorang asing yang suaranya tidak didengar oleh domba-domba (10:4-5), perbandingan Yesus dengan orang yang datang sebelum Yesus, di mana Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah gembala sedangkan orang yang datang sebelum Dia adalah pencuri dan permpok (10:8), Yesus adalah pintu keselamatan dan kehidupan (10:9), Yesus adalah gembala yang baik dan yang akan memberikan nyawanya kepada domba-dombanya bukan seperti seorang upahan yang lari jikalau ada serigala yang mencerai-beraikan domba-domba tersebut (10:11-13), berkali-kali Ia mengaku bahwa Ia adalah sebagai utusan Bapa, di mana hal ini terlihat kembali dalam 10:14-15, 17, sebagai gembala yang baik Yesus juga menuntun domba-domba dari kandang lain dan domba-domba tersebut mendengar suaraNya (10:16), Yesus menyatakan bahwa dirinya mempunyai kuasa memberikan kehidupan dan mengambil kehidupan (10: 18). Kemudian yang menjadi pertanyaan lagi adalah “dari mana mereka, orang banyak, orang Farisi, pemimpin Yahudi dan orang banyak lainnya bisa mengenal Bapa? Yesus mengatakan bahwa karena bangsa Yahudi merupakan keturunan Abraham (8:39), Allah adalah Bapa bangsa Yahudi (8:41), memelekan mata orang buta sejak lahirnya berarti datang dari Allah (9:33). Maka dari “showing” di atas jelas memperlihatkan bahwa Yesus adalah hakim dan gembala yang benar utusan Allah. maka saat ini kita akan melihat dari sudut pandang “telling”, yaitu apa yang dikatakan karakter-karakter lain.
Secara “telling” atau secara tidak langsung. Narator mengatakan Yesus berkata kepada orang Yahudi yang percaya kepadaNya (8:31), Yesus menghilang dan meninggalkan bait Allah (8:59), Yesus sedang lewat melihat seorang buta yang sejak lahirnya murid-muridNya bertanya kepada-Nya (9:1), setelah Ia mengatakan semuanya itu meludah ke tanah mengaduk ludah-Nya dengan tanah mengoleskan pada mata orang buta (9:6), Siloam artinya “yang diutus” (9:7), waktu Yesus mengaduk dan tanah dan memelekan mata orang buta itu adalah pada saat hari Sabat (9:14), timbul pertentangan di antara mereka orang Yahudi (9:16), orang-orang Yahudi itu memanggil orang tua dari si orang buta karena mereka tidak percaya bahwa orang buta yang sekarang sudah melihat tadinya buta (9:18), orang tuanya tidak mau berkata tentang kesembuhan anak mereka karena takut dikucilkan (9:22), orang Farisi memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu (9:24), orang Farisi mengejek orang buta (9:28), Yesus mendengar orang buta yang disembuhkanNya telah diusir keluar lalu Ia bertemu dengan orang tersebut dan berkata (9:35), orang-orang Farisi mendengar perkataan Yesus dan orang buta yang disembuhkanNya (9:40), mereka tidak mengetahui perkataan Yesus yang Yesus katakan (10:6).
b. Orang Yahudi
Mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan bertanya kepada Yesus bagaimana Yesus memerdekakan mereka (8:33, 39), mengklaim diri mereka tidak lahir dari zinah dan mengkalim bahwa bapa mereka hanya satu yaitu adalah Allah (8:41), mengatakan bahwa Yesus adalah orang Samaria dan kerasukan setan (8:48), mengatakan sekali lagi bahwa Yesus kerasukan setan dengan membandingkan perkataan Yesus “bahwa yang menuruti FirmanNya tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” dengan nabi-nabi juga Abraham yang telah mati (8:52-53), membandingkan umur Yesus yang belum lima puluh tahun dengan perktaan Yesus bahwa Ia telah melihat Abraham (8:57).
c.  Mereka (orang banyak)
Mengkalim bahwa bapa mereka adalah Abaraham (8:39), mengkalim bahwa mereka tidak dilahirkan dari zinah (8:41), menanyakan kepada orang buta tersebut bagaimana matanya dapat menjadi melek dan juga menanyakan keberadaan Yesus (9:10-12).

d.   Orang Farisi
Mengklaim bahwa bapa mereka adalah Abraham (8:39), terjadi pro dan kontra dalam organisasi orang Farisi tentang bagaimana Yesus dapat berbuat dosa padahal Yesus tidak memelihara hari Sabat (9:16), bertanya kepada orang buta yang telah melek matanya tentang Yesus yang memelekan mata orang buta tersebut (9:17).
e.    Murid-murid
Menanyakan tentang dosa siapa yang membuat orang buta tersebut dapat buta sejak lahirnya (9:1).
f.   Orang Buta
Menyatakan jati dirinya bahwa dia adalah orang buta itu (9:9), Bersaksi mengenai tindakan Yesus dalam kesembuhan yang ia terima (9:11), menjawab pertanyaan orang banyak tentang dimana keberadaan Yesus sekarang (9:12), bersaksi kepada orang-orang Farisi yang bertanya kepada dia bagaimana ia dapat menjadi sembuh (9:15), menjawab pertanyaan orang-orang Farisi tentang Yesus (9:17), tidak mau ikut sependapat dengan orang Farisi dalam mencap Yesus adalah seorang yang berdosa, yang penting ia sekarang melihat (9:25), mencela kedegilan atas ketidakpercayaan orang-orang Farisi yang tidak percaya kepada Yesus (9:27), mencela orang-orang Farisi yang tidak tahu dari mana datangnya Yesus sementara Yesus telah membuat muzizat kesembuhan bagi dirinya (9:30), menjelaskan tindakan Yesus yang mengungkapkan jati diriNya sebagai utusan Allah kepada orang Farisi (9:31-32).
g.  Orang tua dari si orang buta
Mengakui orang buta tersebut adalah anak mereka yang terlahir buta (9:20), sikap tidak tahu dalam ketidakmautahuan terhadap apa yang terjadi oleh anak mereka (9:21)
h. Tetangga-tetangga orang buta
Sikap tetangga-tetangga si orang buta tersebut yang memperhatikan perubahan dirinya yang telah bisa melihat (9:8-9).
2.6    Plot
Dari pembahasan narasi Yohanes 8:31-10:21 memperlihatkan respons atas kesaksian protagonis. Memang secara garis besar respons itu dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu percaya dan tidak percaya. Namun secara spesifik sifat percaya itu beragam, yaitu ada yang percaya karena muzijat yang dilakukan oleh protagonis ketika mengajar, tetapi ada juga yang percaya karena banyak pengalaman yang telah disaksikannya terhadap pengajaran dan perkataan protagonis serta tindakan muzizat dalam kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus, seperti orang buta, sebagian orang Yahudi (9:38; 10:19-21). Pembelaan yang dilakukan orang buta terhadap perkataan dan perbuatan Yesus memerlihatkan sebuah karakter bahwa tingkat kepercayaannya berdasarkan pengalamannya, karena sebelumnya dia adalah orang buta dan sekarang ia telah bisa melihat (9:32-33), sebagian orang Farisi dan Yahudi (9:16; 10:19-21). Selanjutnya karakter yang menolak pengajaran dan perkataan protagonis seperti yang diperlihatkan oleh orang Farisi Yahudi dan imam-imam kepala, tetangga-tetangga, serta orang tua dari seorang yang tadinya buta yang mana mereka semua adalah keturunan Abraham sehingga mereka mengklaim mereka benar padahal dengan mereka menolak pengajaran dan perkataan protagonist (Yesus) mereka telah berbuat tidak benar karena mereka menolak kebenaran yang sejati yang berasal dari Allah tersebut. Sehingga hal ini mendukung tema “Yesus Sumber Cahaya Kebenaran Hidup Orang Percaya.



2.7    Tafsiran Inplisit
a.      Ironi
Yoh. 8:42 dan hubungannya dengan 9: 28-33 Yesus adalah yang datang dari Allah. akan tetapi orang Yerusalem tidak percaya kepada-Nya bahwa Yesus bukanlah datang dari Allah. Karena asal-usul-Nya diketahui, yaitu dari Galilea, maka dari itu tidak mungkin Dia Yesus datang dari Allah. “jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa”. Secara tidak langsung orang Yerusalem ingin mengatakan bahwa Yesus adalah anak Yusuf dan Maria, yang merupakan manusia biasa dan karena itu mereka mempunyai pandangan bahwa Yesus berkata dusta bahwa Ia datang dari Allah. Dalam narasi ini narator memfokuskan pembaca pada asal-usul dari protagonis, yaitu berasal dari Allah.
b.      Simbol
Dalam Yoh. 10:9 memuat perkataan Yesus “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan pada rumput” perkataan ini mengibaratkan bahwa Yesus adalah sumber kehidupan bagi semua orang. Ketika Yesus mengatakan hal itu tidak berarti orang itu mati, tetapi kehidupan yang dimaksudkan Yesus adalah memiliki relasi dengan Allah di mana dalam hal ini manusia akan menemukan Allah yang merupakan sumber kebenaran dalam kehidupannya.
Selanjutnya Yesus juga mengatakan bahwa Dia adalah “gembala yang baik” (8:11, 14), yang juga ingin mengatakan Yesus adalah jalan untuk kehidupan untuk sampai kepada kebenaran dari Bapa-Nya yang mengutus Dia. Sehingga domba-domba (orang-orang percaya) mengenal Dia (Yesus) dan gembala (Yesus) juga mengenal domba-dombaNya (orang-orang yang percaya kepadaNya).
c.       Makna ganda
Dalam Yoh. 8:39, yaitu istilah e;rga dan evpoiei/te\ “mengerjakan atau dikerjakan”. Frasa ini memiliki makna ambiguitas atau makna ganda, yaitu apakah yang mereka kerjakan adalah sama dengan yang dikerjakan oleh Abraham, atau bertolak belakang dengan yang dikerjakan dengan Abraham. Mengenai perkataan tokoh protagonis (Yesus) yang mengatakan bahwa siapa yang menuruti firmanNya tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Hal ini menimbulkan suatu kesalah pahaman (pengertian) dalam orang-orang Yahudi seperti yang ditunjukan dalam Yoh 8: 52, karena mereka pikir bahwa yang dikatakan tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya adalah tidak mati (meninggal) tetapi yang dimaksud Yesus adalah mengalami hukuman.
d.      Salah pengertian
Mengenai perkataan tokoh protagonis (Yesus) yang mengatakan bahwa siapa yang menuruti firmanNya tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Hal ini menimbulkan suatu kesalah pahaman (pengertian) dalam orang-orang Yahudi seperti yang ditunjukan dalam Yoh 8: 52, karena mereka pikir bahwa yang dikatakan tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya adalah tidak mati (meninggal) tetapi yang dimaksud Yesus adalah mengalami hukuman. Demikian juga dengan perkataan-Nya bahwa Dia adalah pintu  (10:7) dan perkataan Dia adalah gembala (10:11). Narator memberi penjelas bahwa mereka yang mendegar perkataan Yesus tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka, sehingga Yesus menjelaskan maksudnya bahwa pintu dan gembala yang dimaksud adalah Yesus (diriNya sendiri).
2.8     Tema
Beberapa tema yang dihasilkan atau berasal dari karakter seperti yang diperlihatkan soleh tiap-tiap karakter:
1.      Yesus membawa tema: “Yesus Sumber Cahaya Kebenaran Hidup Orang Percaya”
2.      Orang Yahudi membawa tema : “penolakan terhadap Yesus”, “ragu-ragu”.
3.      Orang banyak membawa tema: “Pro” dan “kontra”.
4.      Orang Farisi dan Imam-imam kepala membawa tema: “ragu-ragu”
5.      Tetangga-tetangga orang buta membawa tema: “mempercayai Yesus secara tersembunyi.
6.      Orang tua si buta membawa tema “takut mengakui imannya kepada Yesus di hadapan orang-orang Yahudi
7.      Orang buta membawa tema: “percaya pada Yesus”
2.10  Konsep Teologis[6]
Narasi Yohanes 8:31-10:21 adalah narasi yang menggambarkan “Yesus sebagai sumber cahaya kebenaran hidup orang percaya”, yang bersaksi dengan benar dan bersaksi mengenai kebenaran, berpihak pada kebenaran sesuai dengan maksud dan tujuan Allah. Sehingga tindakan-Nya memberikan terang untuk menunjukan kebenaran akan kehidupan kepada orang yang selalu berlaku salah (tidak menjalankan kebenaran). Istilah ui`o.n tou/ avnqrw,pouÈ (Anak Manusia), eivmi h` qu,ra (Akulah pintu), Egw, eivmi o` poimh.n o` kalo,j\ (Akulah gembala yang baik) jelas yang dimaksudkan-Nya adalah diri-Nya sendiri. Kebenaran yang dimaksudkan Yesus adalah memiliki relasi dengan Bapa-Nya. Artinya ketika mereka menerima ajaran-Nya, maka saat itu juga mereka telah memiliki relasi dengan Allah karena mereka telah dibenarkan oleh perkataan Yesus yang telah mereka terima. Sedangkan mereka yang menolak adalah mereka yang tidak dalam kebenaran sehingga mereka akan mengalami kematian secara rohani, karena tidak mempunyai relasi dengan Allah, selain itu Yesus juga mengatakan bahwa orang yang tidak mendengarkan perkataanNya adalah berasal dari iblis dan iblis itulah yang menjadi bapa bagi mereka yang hanya mau mendengarkan perkataan diri mereka sendiri. Pada sisi lain Yesus memberikan jaminan kepastian kepada mereka yang percaya akan kebenaran yang diberitakan olehNya , yaitu memiliki hidup yang merdeka kekal bersama di dalam Dia. Di mana Yesus juga menjanjikan bahwa bagi orang-orang percaya kepada kebenaran yang dikatakanNya akan melihat dan yang tidak mau mendengarkan kebenaran dari perkataanNya akan menjadi buta. Dengan demikian tidak ada yang bisa datang kepada Bapa jika tidak melalui Dia, karena Dia adalah utusan Allah, maka Dia tahu jalan ke Surga. Melalui hidup-Nya, pengajaran-Nya, perkataan-Nya dan karya-Nya jelas Dia sumber cahaya kebenaran hidup orang percaya.
III.         Rancangan Khotbah 
Tema: “Yesus Sumber Cahaya Kebenaran Hidupan Orang Percaya”
*   Apa arti cahaya dan kebenaran?
*   Mengapa harus hidup dalam cahaya kebenaran Tuhan?
*   Bagaimana bentuk nyata hidup dalam sumber cahaya kebenaran Tuhan Yesus tersebut?

Kepustakaan

Barus Armand, Analisis Naratif: Apa dan Bagaimana?, dalam Forum Biblika No. 9, 1999.
Bible Works 7
ALKITAB Edisi Studi, Jakarta: LAI, 2010.
Matthews Victor H, James C. Moyer,Old Testament Text and Context, United States of Amerika, 1997.


[1] Armand Barus, Analisis Naratif: Apa dan Bagaimana?, dalam Forum Biblika No. 9 (1999), 48-60.
[2] LAI, Lihat Peta Alkitab tempat Bait Allah dan perjumapaan Yesus dengan orang buta yang disuruh membasuh dirinya di kolam Siloam terdapat jalan yang menuju ke arah kolam Siloam. 
[3] LAI, Lih. Juga Yoh. 9:35 “Yesus mendengar bahwa ia (orang buta)  telah diusir (dari Bait Allah) oleh mereka, kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata.”
[4] ALKITAB Edisi Studi, (Jakarta: LAI, 2010), 1749. Gembala-gembala adalah pandangan yang umum di palestina pada masa Yesus. Orang banyak yang berhimpun untuk mendengarkan Yesus berbicara, tahu bahwa memelihara dan menjaga domba-domba adalah pekerjaan yang sulit.
[5] Victor H. Matthews, James C. Moyer,Old Testament Text and Context, (United States of Amerika, 1997), 321.
[6] Menurut Armand Barus, cara membuat konsep teologis yang baik adalah bergerak harus menjawab paling sedikit tiga pertanyaan  mendasar, yaitu “Apa, Mengapa dan Bagaimana”?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar