PEMAKAIAN NAMA ALLAH DALAM KEBUDAYAAN
Bab Satu
Pendahuluan
I. 1 Latar Belakang
Dalam penyebutan
nama Allah pada suku Batak Toba menggunakan nama Debata. Muatan nama Debata
untuk penyebutan nama Allah berasal dari agama suku Batak Toba yaitu Debata
Mula Jadi Nabolon yang mempunyai arti “Dewa dari segala yang awal”. Jika
dilihat dari konteks agama Yahudi maka penyebutan nama Allah yaitu Elohim
berasal dari agama Babilonia yang digunakan untuk penyebutan dewa El, yang
kemudian digunakan untuk menyebut nama Allah dalam konsep agama Yahudi.
Sedangkan dalam tradisi Yunani terdapat kata kurios yang menggambarkan penyebutan nama dewa Yunani. Sehingga
dalam hal inilah penulis melihat terdapat latar belakang masalah dalam hal
penyebutan nama Allah yang dalam berbagai bahasa merupakan suatu kata untuk menyebut
nama dari dewa yang dianut oleh bangsa atau suku itu sendiri.
I. 2 Rumusan Masalah
Pemakaian kata
Allah dalam suku Batak Toba tidak terlepas dari agama suku Batak Toba itu
sendiri, di mana pada waktu suku Batak Toba belum memeluk agama Kristen, mereka
percaya kepada dewa yang bernama Debata Mula Jadi Nabolon dalam agama suku
mereka yang disebut agama Parmalim. Sehingga penulis melihat dalam perumusan
masalah ini bahwa terjadi pengkontekstualisasian kepada nama Allah yang dalam
bahasa Batak Toba disebut dengan Debata, yang mempunyai asal dari kata Debata
Mula Jadi Nabolon itu sendiri. Dari hal ini terdapat masalah mengenai kelayakan
atau ketidaklayakan pemakaian kata Debata untuk menyebut nama Allah dalam
konsep Kristen, dikarenakan kata Debata berasal dari penyebutan nama dewa dalam
agama Parmalim yang merupakan agama suku Batak Toba, yaitu Debata Mula Jadi
Nabolon.
I. 3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam
penulisan paper kali ini adalah hanya berkutat pada masalah pemakaian kata
Allah yang ditransformasikan dalam Alkitab bahasa Batak Toba menjadi Debata,
yang mempunyai latar belakang untuk penyebutan nama dewa dalam agama suku Batak
Toba, yaitu Debata Mula Jadi Nabolon. Dalam ruang lingkup akan masalah
pemakaian kata Allah penulis juga akan memperbandingkan dengan pemakaian kata
Allah dalam kepercayaan Yahudi dan Yunani yang juga mempunyai hubungan dengan
kebudayaan dari bangsa itu sendiri.
I. 4 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam
paper kali ini adalah untuk melihat layak atau tidak layak pemakaian kata
Debata dalam konsep bahasa Batak Toba, dikarenakan kata Debata pada saat suku
Batak Toba belum memeluk agama Kristen dijadikan untuk menyebut dewa suku Batak
Toba yaitu dengan nama Debata Mula Jadi Nabolon dalam agama suku mereka yaitu
agama Parmalim. Selain bertujuan untuk melihat layak atau ketidaklayakan
pemakaian kata Debata untuk menyebut nama Allah dalam konsep Kristen, penulis
juga mempunyai tujuan dalam paper kali ini untuk melihat apakah Allah yang
disembah oleh suku Batak Toba merupakan Allah yang dikemas dalam konsep dogma
Kristen ataukah Allah yang disebut dengan kata Debata tersebut sama saja dengan
dewa yang disembah oleh agama suku Batak Toba yaitu Debata Mula Jadi Nabolon.
I.4 Metode Penulisan
I.4 Metode Penulisan
Dalam hal meneliti pemakaian kata Allah dalam suku
Batak Toba, penulis akan menggunakan metode penulisan yang bersifat kajian
pustaka atau library resarch. Data
yang diperoleh disajikan secara deskriptif yang disertai dengan analisa
sehingga dapat menujukan suatu kajian ilmiah dalam bentuk paper yang membahas
mengenai pemakaian kata Debata untuk menyebut nama Allah dalam suku Batak Toba
I.
5 Sistematika Penulisan
Dalam hal sistematika penulisan, penulis akan
memakai sistematika penulisan dari turabian tujuh, serta akan memperbandingkan
konsep kata Allah dalam budaya bangsa Yahudi dan Yunani dengan konsep kata
Allah dalam budaya suku Batak Toba. Dari hal ini penulis akan masuk lebih dalam
lagi mengenai makna dari kata Debata tersebut dalam suku Batak Toba. Bagian
selanjutnya penulis akan menarik kesimpulan terhadap pandangan kata Debata
dalam Alkitab suku Batak Toba.
Bab Dua
Perbandingan Konsep Kata Allah Dalam Kepercayaan Batak Toba Dengan
Kepercayaan Bangsa Yahudi dan Yunani
II.1 Latar Belakang Kepercayaan
Agama Yahudi dan Yunani
Agama
Yahudi memakai kata Elohim selaian kata Yahweh
dan Adonai untuk menyebut Allah.
Pemakaian kata Elohim merupakan
pilihan yang harus mereka lakukan selaian kata Adonai, dikarenakan bangsa Yahudi dilarang untuk menyebut kata Yahweh untuk Allah. Dalam tradisi
Perjanjian Lama, kata Elohim
merupakan kata yang mempunyai awalan serapan yang sama dengan kata untuk
penyebutan dewa Babilonia yang sangat kuat dan berkuasa diantara para dewa yang
disembah oleh masyarakat Babilonia yaitu El.
Awalan kata inilah yang pada akhirnya menurut tardisi Perjanjian Lama diserap
oleh bangsa Yahudi untuk digunakan menyebut nama Allah.[1] Dalam tradis Yunani kata ku,rioj (kurios)
digunakan untuk menyebut dewa Zeus
yang paling berkuasa, pada masa penyembahan akan dewa-dewa dalam mitologi
Yunani. Sampai pada akhirnya kata Kurios digunakan
untuk menyebut kata Allah atau Tuhan Yesus itu sendiri.[2] Sehingga dapat disimpulkan
dalam tradisi Yahudi dan Yunani pemakaian kata El dalam kata Elohim dan Kurios dalam tradisi Yunani berlatar
belakang untuk penyebutan bagi dewa yang paling berkuasa pada zaman sebelum
mereka mengenal Allah atau Tuhan Yesus.
II.2 Latar belakang Kepercayaan
Agama Suku Batak Toba
Masyarakat Batak kuno mempunyai kepercayaan bahwa DALIHAN NATOLU adalah penerapan kuasa dari
Debata Mulajadi Na Bolon. Debata Mulajadi Na Bolon adalah Tuhan Maha Pencipta
dan memiliki Kuasa diatas segala apapun yang di percayai oleh oleh mayarakat
batak tua. Mulajadi Na Bolon dalam kepercayaan masyarakat tua mempunyai
pancaran kekuasaan Debata Natolu (Tiga dalam Satu) yaitu :[3]
ü Batara Guru
sebagai fungsi kebijakan (kebenaran)
ü Debata Sohaliapan sebagai kesucian
ü Debata Balabulan sebagai fungsi kekuatan
Selain percaya kepada Mulajadi Na Bolo ada juga
beberapa kekeuatan-kekuatan yang dianggap dapat memberi mereka hidup. Seperti
halnya: [4]
ü Tondi yaitu roh manusia itu sendiri yang sekaligus
merupakan kekuatan bagi dirinya.
ü Sumangot adalah roh manusia yang telah meninggal dan
diyakini dapat membantu manusia
ü Begu adalah roh-roh penasaran atau roh jahat yang
mengganggu kehidupan manusia.
Dari kekuatan-kekuatan yang disebut di atas dapat
dilihat bahwa masyarakat batak kuno selain percaya kepada Mulajadi Na Bolon,
masyarakat Batak sebagai penganut kepercayaan Sipelebegu, masih memberikan
persembahan kepada kekuatan lain.[5] Mereka lebih
banyak memberi persembahan dan memohon doa kepada Begu. Sebab mereka yakin
bahwa begu adalah sumber bencana, penyakit, kekalahan dalam perang, musim
kemarau, hama tanaman, penyakit ternak dan semua yang mendatangkan malapetaka
kepada manusia. Namun mereka juga percaya bahwa begu berkuasa dalam memberikan
berkah yaitu seperti Sumangot para nenek moyang dan Sombaon. Demikianlah
kepercayaan masyarakat Batak kuno, walaupun mengakui adanya Debata Mulajadi
Nabolon namun dalam pelaksanaan keagamaan mereka lebih banyak memberikan
persembahan dan memohon doa kepada
kekuatan-kekuatan lain.
III.1 Makna
Konsep Penguasa Alam Semesta Bagi Bangsa Yahudi dan Yunani
Bangsa
Yahudi kuno memiliki konsep terhadap penguasa alam semesta sebagai oknum yang
paling awal dari yang ada di dalam dunia serta oknum yang mempunyai kekuatan
dan wewenang dalam terciptanya segala sesuatu yang terdapat dalam dunia ini.
Konsep pemikiran bangsa Yahudi terhadap penguasa alam semesta, tidak terlepas
dari peran konsep pemikiran tentang dewa-dewa yang terdapat pada masayarakat
Timur Tengah Kuno. Masyarakat Timur Tengah Kuno memiliki konsep bahwa dari
sekian banyak dewa-dewa yang mereka sembah, terdapat salah satu dewa yang
sangat mempunyai kuasa dan kekuatan melebihi dewa-dewa lainnya, dewa tersebut
dikenal dengan nama El. Kata untuk nama dewa orang Babilonia inilah yang kemudian
dipakai oleh bangsa Yahudi untuk mengucapkan kata Elohim apabila ingin
mengatakan kata Allah. Elohim sendiri dalam konsep pemikiran bangsa Yahudi
memperlihatkan kemahakuasaan Allah terhadap segala kekuatan jahat yang ada di
muka bumi ini. [6]
Dalam
Tradisi Yunani kata Kurios, sangatlah
jelas digunakan oleh bangsa Yunani untuk penyebutan bagi Dewa-Dewa yang
berkuasa, salah satunya digunakan untuk menyebut Zeus, sebagai dewa yang paling berkuasa. Kata kurios pertama kali digunakan untuk penyebutan kata Allah atau
Tuhan dalam bangsa Yunani adalah pada saat bangsa Yunani menerima agama Kristen
sebagai agama resmi dalam pemerintahan Romawi, yang pada zaman kaisar
Konstaninopel Yunani berada dibawah taklukan Romawi dan pada zaman kaisar
Konstantinopel tersebutlah Kristen disahkan menjadi agama negara dengan
menggantikan agama nenek moyang Romawi dan Yunani yaitu menyembah Dewa Zeus
yang dalam konsep pemikiran Romawi dan Yunani dewa Zeus digambarkan sebagai
dewa Matahari. [7]
III.2 Arti dan
Makna Konsep Penguasa Alam Semesta Bagi Suku Batak Toba
Suku Batak Toba mempunyai konsep akan penguasa alam
semesta dimulai pada saat mereka belum mengenal agama Kristen, yaitu di saat
mereka masih memeluk agama parmalim. Agama Parmalim dalam suku Batak Toba
merupakan konsep kepercayaan kepada satu dewa yang bernama Debata Mula Jadi
Nabolon dan memiliki kekuatan yang besar serta kuasa terhadap manusia dan alam
ciptaan, yang mana hasil ciptaan oleh Debata Mula Jadi Nabolon tersebut.[8]
Setelah Kristen masuk ke tanah Batak Toba dan masyarakat
setempat menerima Kristen dan Kristus menjadi agama dan Allah mereka maka
konsep akan pemujaan dan kepercayaan akan dewa Debata Mula Jadi Nabolon
tersebut hilang dengan diganti oleh kepercayaan kepada Kristen dan Kristus
sebagai Allah dalam kehidupan suku Batak Toba, walaupun suku Batak Toba telah
tidak mempercayai lagi agama parmalim dan tidak menyembah dewa Debata Mula Jadi
Nabolon, tetapi suku Batak Toba menyisipkan penggalan nama dewa Debata Mula
Jadi Nabolon tersebut, yaitu kata Debata dalam Alkitab bahasa Batak Toba atau
yang dalam bahasa Tobanya disebut Bible. Sehingga terdapat kaitan dengan
tradisi penyebutan akan kata untuk Allah dalam konsep pemikiran Yahudi dan
Yunani yang memiliki kesamaan dengan suku Batak Toba yaitu memakai bagian dari
kata yang paling sentral untuk penyebutan nama dewa dalam agama suku kepada
agama Kristen.
Bab Tiga
Arti dan Makna Debata
Dalam Konsep Budaya Batak Toba
III. 3
Pemahaman Mengenai Debata Mula Jadi Nabolon dalam Agama Parmalim Suku Batak
Toba Kuno
Kondisi masyarakat Batak yang hidup di daerah
pedalaman Sumatera Utara pada zaman dahulu amat memprihatinkan; jauh dari
jangkauan kemajuan di dalam setiap aspek kehidupannya. Terbelakang dalam
kehidupan sosialnya, hal ini ditandai dengan kehidupan yang amat miskin dan
sederhana. Terbelakang dalam bidang pendidikan, hal ini ditandai dengan
masyarakat yang buta huruf dan penuh dengan kebodohan. Mereka hidup dalam adat
istiadat yang mengikat dan yang harus dilaksanakan supaya ilah yang disembah
jangan marah. Peperangan antar kampung dan antar marga, saling bermusuhan dan
mendengki merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan
sehari-harinya. Agama suku yang bernama Parmalim menyembah Debata Mula jadi Na
Bolon sebagai ilahnya. Ilah inilah yang merupakan agama asli orang Batak pra
datangnya Injil.
Agama
Batak mempercayai alam gaib (alam tidak kasat mata, alam roh) mempengaruhi
upacara adat.[9]
Upacara adat Batak merupakan serangkaian aktifitas bermakna yang diilhamkan
oleh rohyang menjadi sembahan leluhur Batak yaitu Siraja Batak yang disebut
Debata Mulajadinabolon yang biasa dipanggil Debata. Pengilhaman itu dapat kita
lihat dalam cerita lisan (turi-turian).[10]
Turi-turian itu bukan sekedar mitos seperti anggapan banyak orang yang
rasionalistik. Turi-turian tersebut juga menyimpan beberapa fakta rohani dari
asal-muasal kehidupan religius leluhur orang Batak. Melalui turi-turian kita
dapat menelusuri sumber awal dari keberadaan adat Batak.
Debata
Mula Jadi Nabolon merupakan satu oknum yang bersifat dewa, yang dipercayai
dalam kepercayaan agama suku Batak Toba Kuno yaitu agama Parmalim. Di
dalam sistem religi atau agama atau juga kepercayaan Batak Debata
Mulajadinabolon adalah pencipta pulau Sumatera dengan segala isinya melalui
tangan manusia-dewi Siborudeakparujar.[11]
Sehingga dapat dikatakan bahwa Debata Mula
Jadi Nabolon merupakan dewa yang bersifat roh nenek moyang orang Batak Toba
yang mempunyai kuasa terhadap alam ciptaan terkhusus dalam konteks kebudayaan
Batak Toba.
III. 4
Kelayakan atau Ketidakyalakan Pemakaian Kata Debata Untuk Nama Allah dalam
Konsep Kristen
Dalam melihat kelayakan atau ketidaklayakan dalam
pemakaian kata Debata untuk penyebutan nama Allah penulis terlebih dahulu akan
melihat citra Allah sebagai oknum yang berkuasa dan pencipta segala sesuatunya
di dunia. Dari sinilah penulis melihat terdapat kesejajaran akan suatu makna
dan kalimat dalam bahasa Batak Toba yaitu Debata Mula Jadi Nabolon yang
mempunyai arti Dewa yang awal dari segala yang awal. PH. O. L. Tobing dalam
bukunya The Strucure Of The Toba Batak
Belief In The High God, melihat bahwa tidak terdapat masalah dalam
pemakaian kata Debata dalam Alkitab bahasa Batak Toba yaitu Bible, karena kata
Debata itu sendiri dapat saja dilihat sebagai Allah yang sama seperti saat ini yang
di mana pada zaman dahulu digambarkan sebagai dewa dalam suku Batak Toba. PH.O.
L.Tobing juga melihat bahwa terdapat peran dari mitos yang masih terdapat
hingga saat ini, yaitu mitos bahwa kata Debata tidaklah layak digunakan
dikarenakan merujuk kepada oknum dewa yang disembah oleh suku Batak Toba Kuno,
walaupun dapat dikatakan bahwa dewa yang disembah oleh suku Batak Toba Kuno
adalah Allah yang dahulu belum dikenal dan dipercayai oleh suku Batak Toba
Kuno. Hal inilah yang dikatakan oleh Marudin SM Simanjuntak dalam bukunya yang
berjudul Allah Bersemayam dalam Adat dan
Suku bangsa Batak, di mana ia melihat bahwa kata Debata Mula Jadi Nabolon
tersebut sebetulnya merupakan kata yang dalam bahasa batak merupakan sebutan
bagi Allah yang disembah oleh suku Batak Toba saat ini, ketika mereka masih
menganut agama suku atau yang disebut parmalim. Walaupun demikian terdapat
suatu permasalahan dalam penyebuatan nama Allah dengan memakai kata Debata Mula
Jadi Nabolon, di mana dalam ritual penyembahan terhadap Debata Mula Jadi
Nabolon suku Batak Toba Kuno mengkaitkan penyembahan tersebut dengan
pemanggilan roh nenek moyang dari suatu marga Batak Toba yang sedang melakukan
ritual dalam penyembahan kepada Debata Mula Jadi Nabolon, tetapi seiring agama
Kristen telah diterima oleh suku Batak Toba maka pemanggilan roh-roh nenek
moyang dalam suatu marga tidak lagi dilaksanakan karena telah mempunyai makna
baru terhdap kata Debata tersebut. Dari sudut makna inilah penulis dapat
mengatakan bahwa sangatlah layak pemakaian kata Debata untuk penyebutan nama
Allah dalam Alkitab bahasa Batak Toba karena, walaupun tetap memakai penggalan
kata Debata tetapi makna dari kata Debata tersebut diberikan pembaharuan, yang
semula terdapat makna dewa yang memiliki kuasa dan yang cenderung juga dilihat
sebagai suatu oknum yang mempunyai kekuatan jahat diganti dengan gambar dari
oknum Allah yang tetap sama memiliki kuasa tertinggi terhadap dunia dan
ciptaanNya tetapi tidak mempunyai kekuatan jahat dalam gambar oknum Allah yang
dipercayai oleh suku Batak Toba Kristen dewasa ini. Hal inilah yang dilakukan
oleh Nomensen seorang pendeta dari Jerman yang datang ke tanah orang Batak
Toba, pada waktu itu ia mempelajari struktur agama dan kebudayaan dalam suku
Batak Toba sebelum ia melakukan penginjilan firman Tuhan kepada orang-orang
Batak Toba, yang berdampak diterimanya agama Kristen Prostestan yang
diberitakan oleh Nomensen dikarenakan Nomensen tidak menghilangkan kata Debata
dari kamus bahasa Batak Toba untuk penggunaan nama dewa Debata Mula Jadi Nabolon,
hanya saja Nomensen memberikan makna baru bagi kata Debata tersebut, yaitu
tidak lagi mempunyai unsur dewa melainkan berunsur Allah yang dalam konsep
Tuhan Yesus.
Bab Empat
Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai kata Allah
dengan kata Debata yang menunjuk konsep Allah dalam bahasa suku Batak Toba,
penulis pada akhirnya menarik suatu keputusan bahwa jikalau dilihat dari sudut
pandang ilmu biblika maka konsep Allah dalam adat Batak Toba yang menggunakan
nama Debata merupakan sesuatu yang terlalu dipaksakan karena Debata tersebut
merupakan dewa yang bersifat roh leluhur dari orang Batak Toba dan roh leluhur
itulah yang disembah dengan kata Debata mula jadi nabolon. Sedangkan jikalau
penulis melihat dari sudut pandang teologi kontekstual maka penggunaan kata
Debata dalam Alkitab Bahasa Toba yang menunjuk kata Allah merupakan suatu hal
yang sah, karena hal tersebut bagian dari pengkontekstualisasian yang dibawa
oleh para penginjil Kristen dari Jerman ke tanah Batak Toba. Sehingga penulis
melihat bahwa kata Debata tidak dapat dilihat dari salah satu sudut atau
pandangan saja dan tidak dapat juga kedua pandangan ini dikontraskan antara
sudut pandang biblika dengan sudut pandang teologi kontekstual, karena jikalau
hal tersebut dilakukan maka sudut pandang biblika akan mengkoreksi sudut
pandang teologi kontekstual yang begitu terkesan memaksakan kekontekstualan
kata Debata terhadap kata Allah, sedangkan teologi kontekstual akan melihat
bahwa biblika dalam menerapkan ilmunya tidaklah dapat mengkontekstualkan ilmu
biblika tersebut di tengah-tengah masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Sommer D. Benjamin. The Bodies of God and theWorld of Ancient
Israel. Cambridge: Cambridge University Press 2009.
Packer
I J. Praying the Lord‘s Prayer.
Illinois: Good News Publisher 2007.
Siagian
TP Bernad. Enkulturasi Iman; Etnografi
Budaya Batak Bai Pendidikan Iman Kristen. Pematang Siantar 2009.
Tobing
OL. PH. The Structure Of The Toba Batak
Belief In The High Good. Amsterdam: South And South East Celabes Institute
For Culture. 1963.
Simanjuntak
SM Marudin. Allah Bersemayam dalam Adat
dan Suku bangsa Batak. Jakarta: Citra Grafika 2007.
[1] Benjamin d.
Sommer, The Bodies of God and theWorld of
Ancient Israel, Cambridge: Cambridge University Press 2009, 60.
[2] J.I Packer, Praying the Lord‘s Prayer, Illinois: Good
News Publisher 2007, 46.
[3] Bernad TP
Siagian, Enkulturasi Iman; Etnografi
Budaya Batak Bai Pendidikan Iman Kristen¸ Pematang Siantar 2009, 18.
[4] Ibid, 20.
[5] PH. OL. Tobing,
The Structure Of The Toba Batak Belief In
The High Good, Amsterdam: South And South East Celabes Institute For
Culture, 1963, 117.
[6] Benjamin d.
Sommer, 117.
[7] J.I Packer, 67.
[8] Bernad TP
Siagian, 84.
[9] PH. OL. Tobing,
126.
[10] Marudin SM
Simanjuntak, Allah Bersemayam dalam Adat
dan Suku bangsa Batak, Jakarta: Citra Grafika 2007, 79
[11] Ibid, 82
Tidak ada komentar:
Posting Komentar