Jumat, 15 Juni 2012


PEMAKAIAN NAMA ALLAH DALAM KEBUDAYAAN
Bab Satu
Pendahuluan
I. 1 Latar Belakang
Dalam penyebutan nama Allah pada suku Batak Toba menggunakan nama Debata. Muatan nama Debata untuk penyebutan nama Allah berasal dari agama suku Batak Toba yaitu Debata Mula Jadi Nabolon yang mempunyai arti “Dewa dari segala yang awal”. Jika dilihat dari konteks agama Yahudi maka penyebutan nama Allah yaitu Elohim berasal dari agama Babilonia yang digunakan untuk penyebutan dewa El, yang kemudian digunakan untuk menyebut nama Allah dalam konsep agama Yahudi. Sedangkan dalam tradisi Yunani terdapat kata kurios yang menggambarkan penyebutan nama dewa Yunani. Sehingga dalam hal inilah penulis melihat terdapat latar belakang masalah dalam hal penyebutan nama Allah yang dalam berbagai bahasa merupakan suatu kata untuk menyebut nama dari dewa yang dianut oleh bangsa atau suku itu sendiri.
I. 2 Rumusan Masalah
Pemakaian kata Allah dalam suku Batak Toba tidak terlepas dari agama suku Batak Toba itu sendiri, di mana pada waktu suku Batak Toba belum memeluk agama Kristen, mereka percaya kepada dewa yang bernama Debata Mula Jadi Nabolon dalam agama suku mereka yang disebut agama Parmalim. Sehingga penulis melihat dalam perumusan masalah ini bahwa terjadi pengkontekstualisasian kepada nama Allah yang dalam bahasa Batak Toba disebut dengan Debata, yang mempunyai asal dari kata Debata Mula Jadi Nabolon itu sendiri. Dari hal ini terdapat masalah mengenai kelayakan atau ketidaklayakan pemakaian kata Debata untuk menyebut nama Allah dalam konsep Kristen, dikarenakan kata Debata berasal dari penyebutan nama dewa dalam agama Parmalim yang merupakan agama suku Batak Toba, yaitu Debata Mula Jadi Nabolon.
I. 3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penulisan paper kali ini adalah hanya berkutat pada masalah pemakaian kata Allah yang ditransformasikan dalam Alkitab bahasa Batak Toba menjadi Debata, yang mempunyai latar belakang untuk penyebutan nama dewa dalam agama suku Batak Toba, yaitu Debata Mula Jadi Nabolon. Dalam ruang lingkup akan masalah pemakaian kata Allah penulis juga akan memperbandingkan dengan pemakaian kata Allah dalam kepercayaan Yahudi dan Yunani yang juga mempunyai hubungan dengan kebudayaan dari bangsa itu sendiri.  
I. 4 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam paper kali ini adalah untuk melihat layak atau tidak layak pemakaian kata Debata dalam konsep bahasa Batak Toba, dikarenakan kata Debata pada saat suku Batak Toba belum memeluk agama Kristen dijadikan untuk menyebut dewa suku Batak Toba yaitu dengan nama Debata Mula Jadi Nabolon dalam agama suku mereka yaitu agama Parmalim. Selain bertujuan untuk melihat layak atau ketidaklayakan pemakaian kata Debata untuk menyebut nama Allah dalam konsep Kristen, penulis juga mempunyai tujuan dalam paper kali ini untuk melihat apakah Allah yang disembah oleh suku Batak Toba merupakan Allah yang dikemas dalam konsep dogma Kristen ataukah Allah yang disebut dengan kata Debata tersebut sama saja dengan dewa yang disembah oleh agama suku Batak Toba yaitu Debata Mula Jadi Nabolon.
I.4 Metode Penulisan
Dalam hal meneliti pemakaian kata Allah dalam suku Batak Toba, penulis akan menggunakan metode penulisan yang bersifat kajian pustaka atau library resarch. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif yang disertai dengan analisa sehingga dapat menujukan suatu kajian ilmiah dalam bentuk paper yang membahas mengenai pemakaian kata Debata untuk menyebut nama Allah dalam suku Batak Toba
I. 5 Sistematika Penulisan
Dalam hal sistematika penulisan, penulis akan memakai sistematika penulisan dari turabian tujuh, serta akan memperbandingkan konsep kata Allah dalam budaya bangsa Yahudi dan Yunani dengan konsep kata Allah dalam budaya suku Batak Toba. Dari hal ini penulis akan masuk lebih dalam lagi mengenai makna dari kata Debata tersebut dalam suku Batak Toba. Bagian selanjutnya penulis akan menarik kesimpulan terhadap pandangan kata Debata dalam Alkitab suku Batak Toba.



Bab Dua
Perbandingan Konsep Kata Allah Dalam Kepercayaan Batak Toba Dengan Kepercayaan Bangsa Yahudi dan Yunani
II.1 Latar Belakang Kepercayaan Agama Yahudi dan Yunani
Agama Yahudi memakai kata Elohim selaian kata Yahweh dan Adonai untuk menyebut Allah. Pemakaian kata Elohim merupakan pilihan yang harus mereka lakukan selaian kata Adonai, dikarenakan bangsa Yahudi dilarang untuk menyebut kata Yahweh untuk Allah. Dalam tradisi Perjanjian Lama, kata Elohim merupakan kata yang mempunyai awalan serapan yang sama dengan kata untuk penyebutan dewa Babilonia yang sangat kuat dan berkuasa diantara para dewa yang disembah oleh masyarakat Babilonia yaitu El. Awalan kata inilah yang pada akhirnya menurut tardisi Perjanjian Lama diserap oleh bangsa Yahudi untuk digunakan menyebut nama Allah.[1] Dalam tradis Yunani kata ku,rioj (kurios) digunakan untuk menyebut dewa Zeus yang paling berkuasa, pada masa penyembahan akan dewa-dewa dalam mitologi Yunani. Sampai pada akhirnya kata Kurios digunakan untuk menyebut kata Allah atau Tuhan Yesus itu sendiri.[2] Sehingga dapat disimpulkan dalam tradisi Yahudi dan Yunani pemakaian kata El dalam kata Elohim dan Kurios dalam tradisi Yunani berlatar belakang untuk penyebutan bagi dewa yang paling berkuasa pada zaman sebelum mereka mengenal Allah atau Tuhan Yesus.
 II.2 Latar belakang Kepercayaan Agama Suku Batak Toba
Masyarakat Batak kuno mempunyai kepercayaan bahwa  DALIHAN NATOLU adalah penerapan kuasa dari Debata Mulajadi Na Bolon. Debata Mulajadi Na Bolon adalah Tuhan Maha Pencipta dan memiliki Kuasa diatas segala apapun yang di percayai oleh oleh mayarakat batak tua. Mulajadi Na Bolon dalam kepercayaan masyarakat tua mempunyai pancaran kekuasaan Debata Natolu (Tiga dalam Satu) yaitu :[3]
ü Batara  Guru sebagai fungsi kebijakan (kebenaran)
ü Debata Sohaliapan sebagai kesucian
ü Debata Balabulan sebagai fungsi kekuatan
Selain percaya kepada Mulajadi Na Bolo ada juga beberapa kekeuatan-kekuatan yang dianggap dapat memberi mereka hidup. Seperti halnya: [4]
ü Tondi yaitu roh manusia itu sendiri yang sekaligus merupakan kekuatan bagi dirinya.
ü Sumangot adalah roh manusia yang telah meninggal dan diyakini dapat membantu    manusia
ü Begu adalah roh-roh penasaran atau roh jahat yang mengganggu kehidupan manusia.
Dari kekuatan-kekuatan yang disebut di atas dapat dilihat bahwa masyarakat batak kuno selain percaya kepada Mulajadi Na Bolon, masyarakat Batak sebagai penganut kepercayaan Sipelebegu, masih memberikan persembahan kepada kekuatan lain.[5]  Mereka lebih banyak memberi persembahan dan memohon doa kepada Begu. Sebab mereka yakin bahwa begu adalah sumber bencana, penyakit, kekalahan dalam perang, musim kemarau, hama tanaman, penyakit ternak dan semua yang mendatangkan malapetaka kepada manusia. Namun mereka juga percaya bahwa begu berkuasa dalam memberikan berkah yaitu seperti Sumangot para nenek moyang dan Sombaon. Demikianlah kepercayaan masyarakat Batak kuno, walaupun mengakui adanya Debata Mulajadi Nabolon namun dalam pelaksanaan keagamaan mereka lebih banyak memberikan persembahan  dan memohon doa kepada kekuatan-kekuatan lain.
III.1 Makna Konsep Penguasa Alam Semesta Bagi Bangsa Yahudi dan Yunani
Bangsa Yahudi kuno memiliki konsep terhadap penguasa alam semesta sebagai oknum yang paling awal dari yang ada di dalam dunia serta oknum yang mempunyai kekuatan dan wewenang dalam terciptanya segala sesuatu yang terdapat dalam dunia ini. Konsep pemikiran bangsa Yahudi terhadap penguasa alam semesta, tidak terlepas dari peran konsep pemikiran tentang dewa-dewa yang terdapat pada masayarakat Timur Tengah Kuno. Masyarakat Timur Tengah Kuno memiliki konsep bahwa dari sekian banyak dewa-dewa yang mereka sembah, terdapat salah satu dewa yang sangat mempunyai kuasa dan kekuatan melebihi dewa-dewa lainnya, dewa tersebut dikenal dengan nama El. Kata untuk nama dewa orang Babilonia inilah yang kemudian dipakai oleh bangsa Yahudi untuk mengucapkan kata Elohim apabila ingin mengatakan kata Allah. Elohim sendiri dalam konsep pemikiran bangsa Yahudi memperlihatkan kemahakuasaan Allah terhadap segala kekuatan jahat yang ada di muka bumi ini. [6]
Dalam Tradisi Yunani kata Kurios, sangatlah jelas digunakan oleh bangsa Yunani untuk penyebutan bagi Dewa-Dewa yang berkuasa, salah satunya digunakan untuk menyebut Zeus, sebagai dewa yang paling berkuasa. Kata kurios pertama kali digunakan untuk penyebutan kata Allah atau Tuhan dalam bangsa Yunani adalah pada saat bangsa Yunani menerima agama Kristen sebagai agama resmi dalam pemerintahan Romawi, yang pada zaman kaisar Konstaninopel Yunani berada dibawah taklukan Romawi dan pada zaman kaisar Konstantinopel tersebutlah Kristen disahkan menjadi agama negara dengan menggantikan agama nenek moyang Romawi dan Yunani yaitu menyembah Dewa Zeus yang dalam konsep pemikiran Romawi dan Yunani dewa Zeus digambarkan sebagai dewa Matahari. [7]
III.2 Arti dan Makna Konsep Penguasa Alam Semesta Bagi Suku Batak Toba
Suku Batak Toba mempunyai konsep akan penguasa alam semesta dimulai pada saat mereka belum mengenal agama Kristen, yaitu di saat mereka masih memeluk agama parmalim. Agama Parmalim dalam suku Batak Toba merupakan konsep kepercayaan kepada satu dewa yang bernama Debata Mula Jadi Nabolon dan memiliki kekuatan yang besar serta kuasa terhadap manusia dan alam ciptaan, yang mana hasil ciptaan oleh Debata Mula Jadi Nabolon tersebut.[8]
Setelah Kristen masuk ke tanah Batak Toba dan masyarakat setempat menerima Kristen dan Kristus menjadi agama dan Allah mereka maka konsep akan pemujaan dan kepercayaan akan dewa Debata Mula Jadi Nabolon tersebut hilang dengan diganti oleh kepercayaan kepada Kristen dan Kristus sebagai Allah dalam kehidupan suku Batak Toba, walaupun suku Batak Toba telah tidak mempercayai lagi agama parmalim dan tidak menyembah dewa Debata Mula Jadi Nabolon, tetapi suku Batak Toba menyisipkan penggalan nama dewa Debata Mula Jadi Nabolon tersebut, yaitu kata Debata dalam Alkitab bahasa Batak Toba atau yang dalam bahasa Tobanya disebut Bible. Sehingga terdapat kaitan dengan tradisi penyebutan akan kata untuk Allah dalam konsep pemikiran Yahudi dan Yunani yang memiliki kesamaan dengan suku Batak Toba yaitu memakai bagian dari kata yang paling sentral untuk penyebutan nama dewa dalam agama suku kepada agama Kristen.




Bab Tiga
Arti dan Makna Debata Dalam Konsep Budaya Batak Toba
III. 3 Pemahaman Mengenai Debata Mula Jadi Nabolon dalam Agama Parmalim Suku Batak Toba Kuno
Kondisi masyarakat Batak yang hidup di daerah pedalaman Sumatera Utara pada zaman dahulu amat memprihatinkan; jauh dari jangkauan kemajuan di dalam setiap aspek kehidupannya. Terbelakang dalam kehidupan sosialnya, hal ini ditandai dengan kehidupan yang amat miskin dan sederhana. Terbelakang dalam bidang pendidikan, hal ini ditandai dengan masyarakat yang buta huruf dan penuh dengan kebodohan. Mereka hidup dalam adat istiadat yang mengikat dan yang harus dilaksanakan supaya ilah yang disembah jangan marah. Peperangan antar kampung dan antar marga, saling bermusuhan dan mendengki merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Agama suku yang bernama Parmalim menyembah Debata Mula jadi Na Bolon sebagai ilahnya. Ilah inilah yang merupakan agama asli orang Batak pra datangnya Injil.
Agama Batak mempercayai alam gaib (alam tidak kasat mata, alam roh) mempengaruhi upacara adat.[9] Upacara adat Batak merupakan serangkaian aktifitas bermakna yang diilhamkan oleh rohyang menjadi sembahan leluhur Batak yaitu Siraja Batak yang disebut Debata Mulajadinabolon yang biasa dipanggil Debata. Pengilhaman itu dapat kita lihat dalam cerita lisan (turi-turian).[10] Turi-turian itu bukan sekedar mitos seperti anggapan banyak orang yang rasionalistik. Turi-turian tersebut juga menyimpan beberapa fakta rohani dari asal-muasal kehidupan religius leluhur orang Batak. Melalui turi-turian kita dapat menelusuri sumber awal dari keberadaan adat Batak.
Debata Mula Jadi Nabolon merupakan satu oknum yang bersifat dewa, yang dipercayai dalam kepercayaan agama suku Batak Toba Kuno yaitu agama Parmalim. Di dalam sistem religi atau agama atau juga kepercayaan Batak Debata Mulajadinabolon adalah pencipta pulau Sumatera dengan segala isinya melalui tangan manusia-dewi Siborudeakparujar.[11]
Sehingga dapat dikatakan bahwa Debata Mula Jadi Nabolon merupakan dewa yang bersifat roh nenek moyang orang Batak Toba yang mempunyai kuasa terhadap alam ciptaan terkhusus dalam konteks kebudayaan Batak Toba.
III. 4 Kelayakan atau Ketidakyalakan Pemakaian Kata Debata Untuk Nama Allah dalam Konsep Kristen
Dalam melihat kelayakan atau ketidaklayakan dalam pemakaian kata Debata untuk penyebutan nama Allah penulis terlebih dahulu akan melihat citra Allah sebagai oknum yang berkuasa dan pencipta segala sesuatunya di dunia. Dari sinilah penulis melihat terdapat kesejajaran akan suatu makna dan kalimat dalam bahasa Batak Toba yaitu Debata Mula Jadi Nabolon yang mempunyai arti Dewa yang awal dari segala yang awal. PH. O. L. Tobing dalam bukunya The Strucure Of The Toba Batak Belief In The High God, melihat bahwa tidak terdapat masalah dalam pemakaian kata Debata dalam Alkitab bahasa Batak Toba yaitu Bible, karena kata Debata itu sendiri dapat saja dilihat sebagai Allah yang sama seperti saat ini yang di mana pada zaman dahulu digambarkan sebagai dewa dalam suku Batak Toba. PH.O. L.Tobing juga melihat bahwa terdapat peran dari mitos yang masih terdapat hingga saat ini, yaitu mitos bahwa kata Debata tidaklah layak digunakan dikarenakan merujuk kepada oknum dewa yang disembah oleh suku Batak Toba Kuno, walaupun dapat dikatakan bahwa dewa yang disembah oleh suku Batak Toba Kuno adalah Allah yang dahulu belum dikenal dan dipercayai oleh suku Batak Toba Kuno. Hal inilah yang dikatakan oleh Marudin SM Simanjuntak dalam bukunya yang berjudul Allah Bersemayam dalam Adat dan Suku bangsa Batak, di mana ia melihat bahwa kata Debata Mula Jadi Nabolon tersebut sebetulnya merupakan kata yang dalam bahasa batak merupakan sebutan bagi Allah yang disembah oleh suku Batak Toba saat ini, ketika mereka masih menganut agama suku atau yang disebut parmalim. Walaupun demikian terdapat suatu permasalahan dalam penyebuatan nama Allah dengan memakai kata Debata Mula Jadi Nabolon, di mana dalam ritual penyembahan terhadap Debata Mula Jadi Nabolon suku Batak Toba Kuno mengkaitkan penyembahan tersebut dengan pemanggilan roh nenek moyang dari suatu marga Batak Toba yang sedang melakukan ritual dalam penyembahan kepada Debata Mula Jadi Nabolon, tetapi seiring agama Kristen telah diterima oleh suku Batak Toba maka pemanggilan roh-roh nenek moyang dalam suatu marga tidak lagi dilaksanakan karena telah mempunyai makna baru terhdap kata Debata tersebut. Dari sudut makna inilah penulis dapat mengatakan bahwa sangatlah layak pemakaian kata Debata untuk penyebutan nama Allah dalam Alkitab bahasa Batak Toba karena, walaupun tetap memakai penggalan kata Debata tetapi makna dari kata Debata tersebut diberikan pembaharuan, yang semula terdapat makna dewa yang memiliki kuasa dan yang cenderung juga dilihat sebagai suatu oknum yang mempunyai kekuatan jahat diganti dengan gambar dari oknum Allah yang tetap sama memiliki kuasa tertinggi terhadap dunia dan ciptaanNya tetapi tidak mempunyai kekuatan jahat dalam gambar oknum Allah yang dipercayai oleh suku Batak Toba Kristen dewasa ini. Hal inilah yang dilakukan oleh Nomensen seorang pendeta dari Jerman yang datang ke tanah orang Batak Toba, pada waktu itu ia mempelajari struktur agama dan kebudayaan dalam suku Batak Toba sebelum ia melakukan penginjilan firman Tuhan kepada orang-orang Batak Toba, yang berdampak diterimanya agama Kristen Prostestan yang diberitakan oleh Nomensen dikarenakan Nomensen tidak menghilangkan kata Debata dari kamus bahasa Batak Toba untuk penggunaan nama dewa Debata Mula Jadi Nabolon, hanya saja Nomensen memberikan makna baru bagi kata Debata tersebut, yaitu tidak lagi mempunyai unsur dewa melainkan berunsur Allah yang dalam konsep Tuhan Yesus.
Bab Empat
Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai kata Allah dengan kata Debata yang menunjuk konsep Allah dalam bahasa suku Batak Toba, penulis pada akhirnya menarik suatu keputusan bahwa jikalau dilihat dari sudut pandang ilmu biblika maka konsep Allah dalam adat Batak Toba yang menggunakan nama Debata merupakan sesuatu yang terlalu dipaksakan karena Debata tersebut merupakan dewa yang bersifat roh leluhur dari orang Batak Toba dan roh leluhur itulah yang disembah dengan kata Debata mula jadi nabolon. Sedangkan jikalau penulis melihat dari sudut pandang teologi kontekstual maka penggunaan kata Debata dalam Alkitab Bahasa Toba yang menunjuk kata Allah merupakan suatu hal yang sah, karena hal tersebut bagian dari pengkontekstualisasian yang dibawa oleh para penginjil Kristen dari Jerman ke tanah Batak Toba. Sehingga penulis melihat bahwa kata Debata tidak dapat dilihat dari salah satu sudut atau pandangan saja dan tidak dapat juga kedua pandangan ini dikontraskan antara sudut pandang biblika dengan sudut pandang teologi kontekstual, karena jikalau hal tersebut dilakukan maka sudut pandang biblika akan mengkoreksi sudut pandang teologi kontekstual yang begitu terkesan memaksakan kekontekstualan kata Debata terhadap kata Allah, sedangkan teologi kontekstual akan melihat bahwa biblika dalam menerapkan ilmunya tidaklah dapat mengkontekstualkan ilmu biblika tersebut di tengah-tengah masyarakat.





DAFTAR PUSTAKA
Sommer D. Benjamin. The Bodies of God and theWorld of Ancient Israel. Cambridge: Cambridge University Press 2009.
                                                                              
Packer I J. Praying the Lord‘s Prayer. Illinois: Good News Publisher 2007.

Siagian TP Bernad. Enkulturasi Iman; Etnografi Budaya Batak Bai Pendidikan Iman Kristen. Pematang Siantar 2009.

Tobing OL. PH. The Structure Of The Toba Batak Belief In The High Good. Amsterdam: South And South East Celabes Institute For Culture. 1963.

Simanjuntak SM Marudin. Allah Bersemayam dalam Adat dan Suku bangsa Batak. Jakarta: Citra Grafika 2007.



[1] Benjamin d. Sommer, The Bodies of God and theWorld of Ancient Israel, Cambridge: Cambridge University Press 2009, 60.
[2] J.I Packer, Praying the Lord‘s Prayer, Illinois: Good News Publisher 2007, 46.
[3] Bernad TP Siagian, Enkulturasi Iman; Etnografi Budaya Batak Bai Pendidikan Iman Kristen¸ Pematang Siantar 2009, 18.
[4] Ibid, 20.
[5] PH. OL. Tobing, The Structure Of The Toba Batak Belief In The High Good, Amsterdam: South And South East Celabes Institute For Culture, 1963, 117.
[6] Benjamin d. Sommer, 117.
[7] J.I Packer, 67.
[8] Bernad TP Siagian, 84.
[9] PH. OL. Tobing, 126.
[10] Marudin SM Simanjuntak, Allah Bersemayam dalam Adat dan Suku bangsa Batak, Jakarta: Citra Grafika 2007, 79
[11] Ibid, 82

Tidak ada komentar:

Posting Komentar