SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS
I.
Pendahuluan
Dalam
pembahasan paper kali ini, penulis akan menyajikan pembahasan mengenai sakramen
perjamuan kudus dalam hal sejarah, berbagai pandangan dari pemikiran tokoh
reformator, tinjauan etis dan dogmatis serta relevansi sakramen perjamuan kudus
terhadap gereja penulis yaitu HKBP.
II. Pembahasan
II.
1 Sejarah Perjamuan Kudus dalam Protestan
Istilah perjamuan kudus (bahasa Inggris: holy communion) digunakan oleh gereja Protestan. Perjamuan Kudus didasari pada
perjamuan makan malam yang lazim di Israel
Kuno.[1]
Selain hal tersebut terdapat makna dari ritus perjamuan malam dalam tradisi
Israel kuno yang dilakukan untuk menghayati perbuatan Allah yang melepaskan
nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir (Ul. 16:1 dyb)[2].
Perjamuan itu mereka namakan Pesakh (Paskah) artinya “berlalu” atau “melewati”.
Dalam Kel.12:13, Tuhan berjanji bahwa hukuman-Nya akan berlalu pada pintu-pintu
yang diberi tanda dengan darah anak domba.
Gereja Mula-mula atau
orang-orang yang menjadi percaya setelah peristiwa Pentakosta setiap hari
berkumpul untuk memecahkan roti, yaitu Perjamuan Kudus, Kisah 2:42. Apa yang
mereka lakukan ini diimani sebagai perintah dari Tuhan Yesus. Gereja melakukan
atau melaksanakan Perjamuan Kudus sebagai peringatan terhadap penderitaan dan
juga kematian serta kebang-kitan- yang Tuhan Yesus alami, sampai Ia datang
kedua kali, 1 Kor 11:28.
Dalam tradisi PB, Perjamuan berasal dari Perjamuan
yang diadakan Tuhan Yesus beserta murid-muridNya pada malam Ia ditangkap untuk
disalibkan (1 Kor. 11:23; Mrk 14:22; Mat 26:26; Luk 22:14). Oleh karena itu
Perjamuan Kudus menghadapkan kepada kematian Yesus dan kebangkitan-Nya yang
telah nyata, bahwa kematian-Nya itu telah menerbitkan keselamatan bagi yang
mempercayainya.[3] Untuk itulah perjamuan kudus dapat dikatakan
merupakan sebuah sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus untuk menguatkan dengan sesama orang
percaya, seluruh umatNya, atau segenap keluarga Allah, di semua tempat dan
segala zaman. Karena seseorang masuk ke dalam perse-kutuan keluarga Allah atau
Jemaat sebagai anak-anak Allah melalui Baptisan.
Dalam persekutuan
tersebut, kita merayakan Perjamuan Kudus berarti makan bersama dari satu roti
yaitu Tubuh Kristus, sebagai tanda kesatuan dalam Tubuh Kristus. perjamuan
kudus yang merupakan sebuah sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus untuk menguatkan dengan sesama orang
percaya, seluruh umatNya, atau segenap keluarga Allah, di semua tempat dan
segala zaman. Karena seseorang masuk ke dalam persekutuan keluarga Allah atau
Jemaat sebagai anak-anak Allah melalui Baptisan. Dalam perse-kutuan tersebut,
kita merayakan Perjamuan Kudus berarti makan bersama dari satu roti yaitu Tubuh
Kristus, sebagai tanda kesatuan dalam Tubuh Kristus.
II. 2 Makna
Roti dan Anggur di Perjamuan Kudus
Terdapat makna dari Roti dan Anggur dalam
sakramen perjamuan kudus, yaitu;
1. Roti
melambangkan Tubuh Kristus, meng-ingatan dan memperingati tubuh Yesus yang
disalibkan. Makan tubuh Kristus dalam arti kita dipersatukan dengan Dia, dengan
menerima apa yang dilakukan-Nya bagi manusia, Yoh 6:48-58. Makan roti
mengingatkan bahwa Yesus menjadi manusia supaya tubuh manusiawi itu disalibkan.
Ia menderita dan mati serta bangkit, untuk menciptakan Tubuh baru, yaitu jemaatNya
2. Anggur
melambangkan darah Kristus yang ditumpahkan untuk menyucikan dosa-dosa manusia.
Darah ditumpahkan pada atau dari tubuh Yesus yang terpaku di kayu salib untuk
pengam-punan atau penghapusan dosa seluruh manusia. Darah yang adalah hidup, ditumpahkan
agar memberi hidup kekal bagi manusia. Minum anggur dari cawan pada saat
Perjamuan Kudus, mengingatkan kita bahwa Yesus sendiri telah minum cawan murka
Tuhan Allah yang seharusnya diterima manusia.
3. Gereja-gereja Protestan umumnya lebih menekankan
perjamuan sebagai peringatan akan kematian dan pengorbanan Yesus bagi umat
manusia.[4]
Ketiga poin ini terlihat dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus, di
mana Paulus menetapkan aturan perjamuan kudus berdasarkan kesaksian yang
diterimanya pada saat itu:
1 Korintus 11:25
“Yesus mengambil
roti lalu mengucap syukur atasnya, sesudah itu Ia memecah-mecahkannya dan berkata:
"Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi
peringatan akan Aku!" Lalu ia mengambil cawan anggur dan berkata:
"Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu;
perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
Pasal dan ayat inilah yang biasa
dipakai dalam peraturan liturgi Sakramen Perjamuan Kudus di gereja-gereja Kristen sampai saat ini.[5]
II. 3
Pandangan Gereja Katolik Terhadap Perjamuan Kudus
Menurut gereja Katolik roti dan angur telah berubah menjadi tubuh dan
darah Kristus (transsubstansiasi) pada saat ditahbiskan (konsekrasi) dalam
pelaksanaan Perjamuan Kudus. Setiap Perjamuan Kudus dilakukan diyakini bahwa
setiap kali Yesus mengorbankan ulang tubuh dan darah-Nya untuk keselamatan
manusia berdosa. Pada konsili ke-4 di Lateran (1215), ajaran transsubstansiasi
disahkan menjadi dogma gereja. Ajaran ini kemudian dikembangkan oleh Thomas
Aquino (1274). Di konsili Terente (1545-1563) diteguhkan dan dikuatkan ajaran
transsubstansiasi sebagai jawaban gereja Roma Katolik atas Reformasi.[6]
II. 4 Pandangan Para Tokoh Reformator
Terhadap Perjamuan Kudus
Ø Luther
Ajaran Luther tentang Perjamuan Kudus dia
sebut Kon-substansiasi (kon yaitu sama-sama): roti dan anggur itu tidak berubah
menjadi tubuh dan darah Kristus (trans-substansiasi). Tetapi tubuh dan darah
Kristus mendiami roti dan anggur itu sehingga terdapat dua zat atau substansi
yang sama-sama terkandung dalam roti dan anggur itu.[7] Gereja Lutheran memahami
bahwa di dalam Perjamuan Kudus Kristus sungguh-sungguh hadir tanpa merubah
substansi roti dan anggur namun Dia hadir ketika Perjamuan Kudus dilakukan.
Makna kehadiran Kristus diterima, ketika yang menerima Perjamuan Kudus percaya tentang
firman Tuhan yang diberitakan melalui Perjamuan Kudus dan percaya kepada
penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Hal inilah yang menjadikan roti
dan anggur dalam teologi mengenai sakramen perjamuan kudus menjadi sangat
sakral dikarenakan adanya paham mengenai roti dan anggur menjadi tubuh dan
darah Kristus, dalam hal ini terdapat paham mistisisme. Begitu jemaat memakan
roti dan meminum anggur maka jemaat secara mistis telah memakan tubuh dan
meminum darah dari pengorbanan Kristus.[8]
Ø Calvin
Sama seperti Zwingli (berbeda dengan
Luther), Calvin menolak bahwa tubuh Kristus turun dari Sorga untuk memasuki
roti dan anggur Perjamuan Kudus, apalagi untuk hadir dimana saja Perjamuan
Kudus. Menurut Calvin, tubuh Kristus setelah naik ke Sorga, hadir di sebelah
kanan Allah Bapa, sebagai jaminan kebangkitan tubuh manusia pada akhir zaman.
Jadi untuk dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus, manusia harus diangkat
ke Sorga. Namun manusia bukan berarti diangkat secara jasmaniah tetapi secara
rohaniah karena hatinya diarahkan ke atas (sursum corda). Dengan kata
lain ia menolak kehadiran
jasmani dalam Perjamuan Kudus. Kristus sungguh-sungguh
hadir pada waktu Perjamuan Kudus dirayakan, dengan cara yang cocok bagi Tuhan
yang telah dimuliakan yaitu dalam Roh Kudus yang tidak terikat pada roti dan
anggur. Dengan demikian Calvin
menolak ajaran Gereja Roma Katolik tentang trans-substansiasi dan menolak
ajaran Lutheran yaitu mengenai kon-substansiasi.[9] Pandangan Zwingli mengenai sakramen
sebagai lambang melulu tidak diterima oleh Calvin. Bagi
Calvin, perjamuan kudus adalah tanda tetapi bukan tanda kosong sebab tanda ini
diberikan Allah melalui AnakNya supaya orang percaya melalui roti dan anggur
betul-betul dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus karena kelemahan manusia
tanda ini mutlak perlu sebagai tambahan kepada firman yang diberitakan. Sebab
persatuan dengan Kristus yang dikaruniakan kepada orang percaya ini hanya dapat
dimengerti kalau diperlihatkan dalam upacara makan roti dan minum anggur.
Ø Zwingli
Zwingli memahami bahwa Perjamuan Kudus
adalah sebagai tanda atau materi tentang pengorbanan Kristus yang menjadi
keselamatan bagi manusia. Perkataan Yesus, “Inilah tubuhKu” menurut Zwingli
hanyalah berarti: dengan ini dikiaskan tubuh-Ku. Zwingli tidak mengakui bahwa
Kristuslah yang sungguh berfirman dan bertindak dalam berlangsungnya sakramen;
ia menganggap sakramen hanya suatu perbuatan yang bersifat lambang, yang
dilakukan oleh orang beriman. Dengan demikian fungsi Perjamuan Kudus adalah
merupakan bukti bahwa seseorang telah menerima penghapusan dosa dan
keselamatan.[10]
II. 5 Tinjauan Dogmatis
Melalui Perjamuan Kudus manusia diyakinkan bahwa dia tumbuh menjadi satu tubuh dengan Kristus. Dengan demikian segala sesuatu
yang adalah kepunyaan Dia boleh kita namakan kepunyaan kita. Melalui Perjamuan
Kudus manusia diyakinkan bahwa kehidupan kekal yang telah diwarisinya menjadi
milik manusia dan bahwa Kerajaan Sorga yang telah dimasuki-Nya tak dapat luput
dari manusia sebagaimana tak dapat luput dari Dia. Manusia boleh yakin juga
bahwa manusia tidak dapat dihukum karena dosa-dosanya, manusia telah bebas
oleh-Nya dari kesalahan yang merupakan akibat dari dosa-dosa sebab Dia
menghendaki supaya dosa-dosa itu diperhitungkan kepada-Nya seakan-akan dosa-Nya
sendiri. Dia telah membuat manusia menjadi anak-anak Allah bersama Dia, dengan
turunnya Dia ke bumi Dia telah merintis jalan bagi manusia untuk naik ke Sorga,
dengan menerima kelemahan manusia, kita dikokohkan-Nya dengan kekuatan-Nya.[11]
Lebih jelasnya Perjamuan Kudus merupakan tempat Dia menawarkan diri-Nya kepada
kita, bersama seluruh harta-Nya dan kita menerima Dia melalui iman. Dia
menawarkan tubuh-Nya yang disalibkan itu kepada kita melalui Firman supaya kita
mendapat bagian di dalamnya dan pemberian itu dimateraikanNya dengan rahasia
Perjamuan Kudus.
II. 6
Tinjauan Etis
Perjamuan Kudus merupakan makanan yang tak habis-habisnya yang diberikan
Kristus sebagai makanan rohani kepada keluarga besar orang-orang percaya yang
merupakan milik-Nya. Dengan demikian sebaiknya Perjamuan Kudus dibagi-bagikan
berulang kali supaya orang-orang yang telah diterima ke dalam gereja mengerti
bahwa mereka senantiasa diberi makan oleh Kristus dan melalui perjamuan itu
bersekutu dengan Allah. Gereja sebagai persekutuan orang-orang kudus (communio sanctorum) menunjukkan adanya
partisipasi aktif di dalam setiap proses perkembangan dan pertumbuhan
persekutuan. Gereja disebut sebagai persekutuan orang-orang kudus karena telah
bersekutu dengan Yesus melalui Sakramen Perjamuan Kudus. Artinya setiap pribadi
berpartisipasi aktif menerima dan membagi-bagikan “tubuh dan darah Kristus”
yaitu penebusan, pengampunan dosa.
Semua orang yang ingin mengikuti Perjamuan Kudus haruslah lebih dahulu
menerima pelajaran tentang pokok ajaran-ajaran Kristen dari dalam Firman Allah.
Gereja harus menggunakan cara mengajar yang dianggap paling cocok untuk
pembangunan jemaat. Supaya Perjamuan Kudus dapat terselenggara demi penghiburan
maka setiap yang akan menerimanya perlu benar-benar menguji diri lebih dulu.
Apakah dia layak atau tidak menerimanya. Bagi setiap orang yang menerima
Perjamuan Kudus akan dipersatukan dengan Kristus yang sungguh kudus dengan
demikian kitapun sama seperti Dia menjadi kudus olehNya.
Namun kenyataannya kebanyakan dalam jemaat memiliki rasa segan untuk menerima
Perjamuan Kudus.[12] Hal
itu berkaitan dengan pemahaman bahwa roti dan anggur menjadi betul-betul tubuh
dan darah Kristus. Oleh karena itu anggota-anggota gereja menjadi takut untuk
menerima roti dan anggur tersebut. Bagi Calvin, sakramen-sakramen merupakan
akomodasi (bantuan) yang penuh anugerah bagi kelemahan kita.[13] Allah, yang mengetahui kelemahan iman
kita, menyesuaikan diri terhadap keterbatasan-keterbatasan kita. Oleh kerena
itu tak ada yang perlu ditakuti dalam Perjamuan kudus sebab itu merupakan
anugerah yang diberikan-Nya kepada kita. Namun sikap kita dituntut untuk selalu
merendahkan diri dihadapan-Nya.
II. 7 Relevansi Makna Perjamuan Kudus dalam
Gereja Penulis HKBP
Dalam confessi HKBP dirumuskan bahwa kita percaya dan menyaksikan, Perjamuan Kudus ialah : memakan roti, dengan
roti mana (parhitean) kita terima daging dari Yesus Kristus Tuhan kita dan
meminum anggur, dengan anggur mana kita terima darah Tuhan kita Yesus Kristus,
supaya kita peroleh keampunan dosa, hidup dan sejahtera (1 Kor 11:17-34); Mat
26; Mark 14; Luk 22). Dengan demikian Perjamuan Kudus hanya sebagai alat
atau media saja.[14] Oleh karena itu, melalui Perjamuan
Kudus manusia memperoleh keampunan dosa. Melalui keampunan dosa menusia
dituntut untuk hidup bersekutu dan hidup dalam damai antara yang satu dengan
yang lain.
III. KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai sakramen perjamuan kudus yang juga merupakan
suatu bagian dari liturgi yaitu liturgi perjamuan kudus, penulis menarik
beberapa kesimpulan mengenai perjamuan kudus yang merupakan bagian dari
sakramen dan liturgi tersebut.
- Perjamuan
Kudus merupakan suatu ibadah Kristen yang penting yang diamanatkan Tuhan
Yesus sendiri. Dalam perjamuan Kudus itu, muncul berbagai kontroversi dari
berbagai pihak karena perbedaan penafsiran dari ucapan Tuhan Yesus sendiri
dalam Perjamuan Paskah yang dilakukan-Nya bersama dengan murid-muridNya.
- Dalam
Perjanjian Lama Perjamuan dihubungkan dengan istilah Pesah yang artinya
melewati. Perjamuan itu dilakukan sebagai ucapan syukur atas kelepasan mereka
dari penghukuman Allah di Mesir. Dalam Perjanjian Baru Perjamuan Kudus itu
diwarisi dari Perjamuan yang diadakan Tuhan Yesus beserta murid-muridNya
pada malam Ia ditangkap untuk disalibkan (1 Kor 11:23 dyb; Mark 26:26; luk
22:14).
- Perjamuan
kudus merupakan hidangan rohani yang didalamnya Yesus bersaksi bahwa
Dialah roti hidup, roti yang menjadi makanan bagi jiwa, untuk mencapai
hidup yang kekal. Melalui sakramen tersebut manusia diyakinkan bahwa dia
satu di dalam Kristus, artinya oleh Kristus apa yang menjadi milik-Nya
menjadi milik kita.
- Terlepas
dari pemahaman yang dianut oleh gereja-gereja yang mewakili pandangan
dogma dari para tokoh reformator, perjamuan kudus merupakan suatu sarana
untuk menyatakan kehadiran Kristus dengan kehadiran Kristus manusia
dipersekutukan dengan Dia. Kristus sungguh-sungguh hadir dalam Perjamuan
itu (praesentia realis) tetapi tidak terikat pada roti dan anggur
(consubstansiasi). Kehadiran-Nya suatu rahasia yang tidak dapat ditangkap
oleh akal pikiran manusia dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
- Kristus
sungguh hadir (praesentia realis) pada perjamuan itu, Kristus sendiri,
Tuhan yang hidup. Tetapi sejak kenaikan-Nya ke Surga, tidak lagi kita
smengenal Kristus menurut ukuran manusia (2 Kor. 5:16). Yang kini
bertindak selaku Tuhan adalah Roh Kudus (2 Kor. 3:17). Dengan kata lain
sesudah Pentakosta, kehadiran Kristus adalah kehadiran-Nya di dalam dan
dengan perantaraan Roh Kudus (dengan tidak melupakan, bahwa Roh Kudus
bersama-sama dengan Sang Bapa dan Anak) dan kehadiran-Nya itu kita alami
“di dalam percaya”.
DAFTAR PUSTAKA
Abineno CH. J.L. Pemberitaan Firman pada Hari
Khusus. Jakarta: BPK 1981.
Boland B.J van Niftrik G.C. Dogmatika Masa Kini. Jakarta:
BPK 2001.
Caspar Ursinus. Katekismus
Heidelberg (Pengajaran Agama Kristen). BPK:
Jakarta 2007.
Enklaar Berkhof. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK1993.
HKBP. ConFessi
HKBP. Pearaja 1951.
Heyer Den J. C. Perjamuan Tuhan. Jakarta: BPK1997.
Jonge de Christian. Apa itu Calvinisme. Jakarta: BPK 1999.
Kooiman
J. W. Martin Luther. BPK: Jakarta
2006.
Lohse Bernhard. Pengantar
Sejarah Dogma Kristen. Jakarta: BPK 2001.
McGrath E. Alister. Sejarah pemikiran Reformasi. BPK: Jakarta 2002.
Rasid Rachman. Hari Raya Liturgi. Jakarta: BPK 2001.
[1] C.J. Den Heyer, Perjamuan Tuhan, Jakarta: BPK1997, 18-19.
[2] Bnd/ J.L. ch. Abineno, Pemberitaan Firman pada Hari
Khusus, Jakarta: BPK
1981, 137-138.
[3] G.C. van Niftrik-B.J.Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK 2001, 455.
[4] Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi, Jakarta: BPK 2001, 80-81.
[5] Bernhard Lohse, Pengantar
Sejarah Dogma Kristen, Jakarta: BPK 2001, 241
[6] G.C. van Niftrik-B.J.Boland, 459
[7] Berkhof-Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta:BPK
1993, 131-132.
[8] W.J. Kooiman, Martin Luther, Jakarta: BPK 2006, 213.
[9] Ursinus-Caspar, Katekismus Heidelberg (Pengajaran
Agama Kristen),
Jakarta: BPK 2007, 51.
[10] G.C. van Niftrik-B.J.Boland, 45.
[11] Ursinus-Caspar, Katekismus Heidelberg (Pengajaran
Agama Kristen), Jakarta:
BPK 2007, hal 51
[12] Bnd. Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme, Jakarta:
BPK 1999, 215.
[13] Alister E.McGrath, Sejarah pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK 2002, 236.
[14] HKBP, ConFessi
HKBP, Pearaja, 1951, hal 43
Menawarkan paket s/d 100 participant, di Rp. 200.000,/2 jam.
BalasHapusMenawarkan penyewaan account berbayar untuk Video Confrence Meeting anda.
Hanya dengan Rp. 25.000,-/jam di extra hours, dengan kelebihan berupa :
Share Aplikasi program anda atau semua tampilan layar PC.
VoIP atau Phone Call-in.
Alat untuk Presentasi dan White board.
Lintas Operating System Smartphone, Linux dan Mac.
Presenter bisa di-rolling.
Merekam meeting anda (Video dan Suara).
Lebih ringan sistemnya dibanding dengan yang account gratisan.
7 x 24 Sistem support.
Untuk pendampingan, ada free laptop (khusus Surabaya dan sekitarnya)
Cocok untuk:
1. Perjamuan Online.